Beranda / Berita / Aceh / Tanggapi Mantan Rektor USK, Otto Syamsuddin Ishak: Fanatisme Keluarga Penting

Tanggapi Mantan Rektor USK, Otto Syamsuddin Ishak: Fanatisme Keluarga Penting

Kamis, 02 Juni 2022 16:00 WIB

Font: Ukuran: - +

Reporter : Naufal Habibi
Otto Syamsuddin Ishak. [Foto: BBC]

DIALEKSIS.COM | Banda Aceh - Tiga Kampus di Darusalam yaitu Universitas Syiah Kuala (USK), UIN Ar-Raniry dan Kampus Tgk Chik Pante Kulu kembali melakukan silaturahmi bersama di Fakultas Hukum USK Banda Aceh, Selasa (31/5/2022). 

Pada kesempatan yang sama, tokoh pendidikan Aceh Prof. Dr. Ir. Samsul Rizal, M.Eng., IPU menyampaikan pesan bahwa silaturahmi idealnya dibangun lepas dari kepentingan sesaat, suku maupun kelompok tertentu. Maka berikanlah contoh terbaik, terbebas dari fanatisme keluarga dan seterusnya, untuk diteruskan generasi mendatang. 

Menanggapi pernyataan Mantan Rektor USK tersebut, Sosiolog USK, Otto Syamsuddin Ishak mengatakan bahwa dalam maqasid syariah fanatisme keluarga itu penting menjadi sesuatu yang harus dibela bersama. 

"Dalam acara tersebut, Samsul mengatakan jangan ada fanatisme keluarga. Sebagai pimpinan, cendikiawan Aceh kok ngomong jangan fanatisme keluarga. Justru dalam maqashid syariah, fanatisme keluarga itu penting itu sesuatu yang harus dibela karena itu menyangkut harga diri keluarga. maksudnya mau menggantikan fanatisme keluarga kepada fanatisme rektor atau mantan rektor begitu tak mungkin juga. Dalam akademik tidak ada fanatisme. Yang ada kampus. Harus saling menghormati masing -masing," tutur Otto Syamsuddin dalam wawancara dengan Radio Antero, Rabu (1/6/2022).

Dirinya juga menambahkan, silaturrahmi yang dilakukan oleh tiga kampus darussalam yaitu USK, UIN Ar-Raniry dan Kampus Tgk Chik Pante Kulu untuk mempererat hubungan yang selama ini sudah retak diakibatkan oleh penguasaan lahan dan hak milik tanah. 

"Silaturahmi 3 kampus ini bagaikan mencoba merekatkan kembali 3 piring yang pecah. Kita ketahui piring yang pecah itu asalnya penguasaan lahan atau hak pakai dalam penguasaan hak lahan itu Unsyiah seolah-olah memberikan jasa budi baiknya kepada UIN, disisi lain tanah Pante Kulu diambil oleh Universitas Syiah Kuala. Sebenarnya ini senyuman di bibir yang di dalamnya ada air panas jadi agak pura-pura sebenarnya", ujarnya. 

Dia juga mengimbau agar dilakukan musyawarah dan mufakat untuk menghilangkan akar permasalahan yang sudah terjadi bertahun-tahun, terutama permasalahan lahan. 

"Mereka harus duduk bersama bertiga, ini apa akar permasalahannya. Misalnya permasalahan lahan, ya selesaikan gitu. Ke depannya masalah pengembangan akademiknya kemudian kembali lagi kepada tujuan awal lembaga pendidikan yang punya spesifikasi masing-masing itu, misalnya UIN bidang pendidikan agama modern lah. Unsyiah pendidikan umum atau ilmu umum, Pante Kulu kepada pendidikan dayah manyang atau ma'had ali. Kembali kepada kontribusi Unsyiah dan UIN kepada Pante Kulu. Pante kulu ya harus dinegerikan terlebih dahulu," pungkasnya. [NH]

Keyword:


Editor :
Indri

riset-JSI
Komentar Anda