Beranda / Berita / Aceh / Soal Pengutipan Uang di Sekolah Modal Bangsa, Ini Penjelasan Kepala Sekolah

Soal Pengutipan Uang di Sekolah Modal Bangsa, Ini Penjelasan Kepala Sekolah

Selasa, 31 Januari 2023 11:30 WIB

Font: Ukuran: - +

Reporter : Bahtiar Gayo
Foto: dok. SMAN Mosa

DIALEKSIS.COM | Aceh - Sekolah Modal Bangsa (Mosa) di Banda Aceh mendapat sorotan, pembicaraan ramai di nitizen. Awal mulanya ada seorang yang mengunggah status di laman Facebook, yang mempersoalkan kutipan uang di sekolah kebanggaan rakyat Aceh ini.

Syakya Marizal di laman Facebooknya menuliskan, uang komite SMA Fajar Harapan Rp8 juta lengkap dengan rinciannya. SMA Modal Bangsa Rp15 juta, tanpa ada rincian penggunaanya (tidak transparan). Padahal sama-sama sekolah berasrama (boarding school).

Entah siapa Kepala Sekolah dan Ketua Komite SMA Mosa saat ini? Sungguh mereka layak diganti! Karena SMA itu sekolah negeri, bukan sekolah pribadi.

Juga turut ada lampiran pengiriman ke nomor rekening yang berbeda kepada panitia. Ke panitia PPDB SMA Negeri Modal Bangsa senilai Rp2.975.000.- dan ke rekening Komite SMA Modal Bangsa senilai Rp15 juta. Pembayarannya 21 sampai 25 Januari 2023.

Perbincangan menjadi ramai. Bagaimana keterangan pihak sekolah Modal Bangsa? Dialeksis.com yang meminta keterangan SMAN Modal Bangsa, Misra M.Pd, Selasa (31/1/2023) via selular.

Menurut Misra, seharusnya, sebaiknya bila mendapatkan sesuatu informasi maunya diklarifikasi dulu. Jangan langsung dimuat disebarkan tanpa klarifikasi. Jangan menjelekkan sekolah.

Misra menjelaskan, pengutipan uang itu berdasarkan hasil rapat komite. Keputusan bersama. Ada absen ada notulen, ada perincian biaya semuanya. Rapatnya juga demokratis, ada tanya jawab dan pembahasan.

“Sekolah kita kegiatannya dari sore sampai malam hari. Kegiatan itu untuk kegiatan khusus, ekstra kurikuler. Ya tentu untuk kegiatan itu uangnya dari murid. Ada juga kegiatan keagamaan di malam hari,” jelasnya.

Di sekolah ini juga ada tenaga honor, tenaga honor di sini 17 orang. Ada tenaga lapangan sekuriti. Ada kebutuhan yang pembiayaannya di luar dana yang disiapkan pemerintah, jelasnya.

“Uang yang diambil Rp15 juta itu untuk tiga tahun. Tahun lalu Rp13 juta, namun setelah rapat komite ditambah 2 juta. Rencana karena kita tidak punya asrama lagi. Jadi kami mau bangun asrama, kalau diharapkan kepada pemerintah kan perlu proses,” sebut Misra.

Asrama SMAN Modal bangsa ini, baru-baru ini terbakar. Kalau dulu asramanya semi permanen, setengahnya triplek, rencana tahun ini dibangun permanen, jelasnya.

“Sebaiknya bila mendapatkan sesuatu informasi maunya diklarifikasi dulu. Jangan langsung dimuat disebarkan tanpa klarifikasi. Jangan menjelekkan sekolah. Padahal semuanya dilakukan sesuai dengan rapat komite,” sebutnya.

Misra mengakui, ada yang menelpon ke sekolah dan mengatakan anak orang miskin tidak boleh sekolah di Modal Bangsa. Pihak sekolah menjawab, bukan tidak boleh tetapi boleh.

Namun yang perlu menjadi perhatian, sekolah kita ini berbayar, sejak berdiri sampai sekarang berbayar. Kegiatan yang berbayar itu untuk kegiatan yang dananya di luar dana yang disiapkan pemerintah melalui dana BOS.

Sebenarnya pihak sekolah sudah menawarkan solusi soal pembayarannya. Apa perlu dicicil sampai tiga atau empat kali. Pada saat rapat komite juga sudah sampaikan. Apabila anak bapak ibu yang kurang mampu boleh hubungi kami. Prosedurnya bisa dicicil tiga atau empat kali, jelas Misra.

Kalau penggunaan biaya yang dikutip sangat jelas dan transparan. Misalnya ada kegiatan olimpiade sembilan cabang lomba. SMA Modal Bangsa harus mempersiapkan diri untuk kegiatan itu. Didatangkan guru dari luar, makanya membutuhkan biaya.

“Baru-baru ini kita mendapat dua medali emas di level nasional tingkat madrasah. Alhamdulilah siswa kita menunjukan kemampuannya, namun untuk menggapai semua itu membutuhkan persiapan,” jelas Misra.

Dijelaskan juga soal biaya yang dipungut komite senilai Rp2.975.000. Peruntukanya jelas. Untuk perlengkapan baju seragam saja lima pasang. Kemudian sepatu, baju olahraga, jadi semuanya diperuntukan sesuai dengan kebutuhan, hasil kesepakatan, jelasnya.

Pihak sekolah sangat berharap, apabila ada kendala atau miskomunikasi, agar sebaiknya dibicarakan dengan baik ke pihak sekolah. Sama-sama dicarikan jalan keluar, tidak harus diekspose, apalagi tidak ada konfirmasi, sehingga informasinya keliru. [BG]

Keyword:


Editor :
Indri

kip
riset-JSI
Komentar Anda