Minggu, 17 Mei 2026
Beranda / Berita / Aceh / SMK Pertanian di Aceh Siap Berinovasi, Lulusan Harus Mampu Ciptakan Usaha Sendiri

SMK Pertanian di Aceh Siap Berinovasi, Lulusan Harus Mampu Ciptakan Usaha Sendiri

Rabu, 29 April 2026 17:30 WIB

Font: Ukuran: - +

Reporter : Naufal Habibi

Kepala SMK-PP Negeri Saree, Muhammad Amin. [Foto: Naufal Habibi/dialeksis.com]


DIALEKSIS.COM | Banda Aceh - Sebanyak 28 Sekolah Menengah Kejuruan (SMK) berbasis pertanian di Aceh menyatakan dukungan terhadap penguatan sektor pertanian melalui inovasi pendidikan dan kolaborasi lintas sektor.

Langkah ini dinilai menjadi peluang besar dalam mencetak lulusan yang tidak hanya siap kerja, tetapi juga mampu menciptakan usaha mandiri sesuai arahan dari Kepala Dinas Pendidikan Aceh, Murthalamuddin.

Kepala SMK-PP Negeri Saree, Muhammad Amin, mengatakan bahwa perubahan dan inovasi menjadi kunci utama dalam pengembangan pendidikan vokasi, khususnya di sektor pertanian.

“SMK kita harus selalu berubah, berpikir bagaimana menghadirkan inovasi. Dengan inovasi itu, lulusan kita akan memiliki wawasan yang lebih luas dan siap menghadapi dunia kerja,” ujar Muhammad Amin kepada media dialeksis.com, Rabu (29/4/2026).

Ia menilai, pembangunan sektor pertanian di Aceh memiliki potensi besar untuk dikolaborasikan dengan dunia pendidikan. Salah satu langkah konkret yang telah dilakukan adalah pengembangan program budidaya tanaman langsung di lingkungan sekolah.

“Alhamdulillah, kita sudah mulai menanam di sekolah. Jika ini berhasil, akan kita kembangkan ke SMK lain. Ini sejalan dengan program penghijauan lingkungan sekolah yang juga mendorong praktik pertanian nyata,” jelasnya.

Menurutnya, penguatan tidak hanya pada aspek budidaya, tetapi juga pada pengolahan hasil pertanian. Hal ini dinilai penting untuk meningkatkan nilai tambah produk sekaligus membuka peluang usaha bagi lulusan.

“Selain budidaya, kita juga dorong pengolahan hasil. Ada berbagai produk seperti tempe dan keripik yang bisa dikembangkan. Ini sesuai dengan jurusan pengolahan hasil yang ada di SMK,” katanya.

Lebih lanjut, Muhammad Amin menyebutkan bahwa kolaborasi dengan berbagai pihak, termasuk Rumah Pangan Aceh, dapat menjadi sarana bagi siswa untuk praktik kerja lapangan sekaligus memperkaya bahan ajar.

“Ini sangat potensial. Siswa bisa belajar langsung, bahkan ke depan bisa bekerja di dunia usaha dan industri, atau membuka usaha sendiri, baik di bidang budidaya maupun pengolahan hasil,” ujarnya.

Di SMK-PP Negeri Saree sendiri, berbagai komoditas telah dikembangkan sebagai bagian dari praktik siswa, seperti jagung, bawang, cabai, dan tomat. Program ini tidak hanya memberikan keterampilan teknis, tetapi juga membekali siswa untuk berkontribusi di daerah asalnya.

“Minimal mereka punya pengalaman praktik. Setelah lulus, bisa kembali ke kampung dan membangun daerahnya, bahkan membentuk kelompok tani. Ini juga mendukung program ketahanan pangan,” jelasnya.

Ia berharap, program ini tidak hanya berdampak pada dunia pendidikan, tetapi juga membuka peluang ekonomi bagi masyarakat luas.

“Ini peluang besar untuk ketahanan pangan dan membuka lapangan kerja. Kalau dikembangkan, lahan yang kurang produktif bisa dimanfaatkan, sehingga mendorong pertumbuhan ekonomi masyarakat,” pungkas Muhammad Amin. [nh]

Keyword:


Editor :
Redaksi

riset-JSI