Rabu, 29 Juli 2026
Beranda / Berita / Aceh / Sawah Mengering, Tarmizi Kejar Penyelesaian Irigasi Lhok Guci

Sawah Mengering, Tarmizi Kejar Penyelesaian Irigasi Lhok Guci

Selasa, 28 Juli 2026 20:00 WIB

Font: Ukuran: - +

Reporter : Arn

Bupati Aceh Barat Tarmizi, SP., MM mengatakan pompa air disalurkan sebagai langkah darurat untuk membantu petani menyelamatkan tanaman mereka. [Foto: Prokopim Abar]


DIALEKSIS.COM | Meulaboh - Tanah di sejumlah petak sawah di Aceh Barat mulai mengeras. Tanaman padi yang baru berumur beberapa pekan terancam gagal tumbuh karena air tak kunjung masuk ke lahan. Di tengah kekeringan itu, Pemerintah Kabupaten Aceh Barat membagikan mesin pompa air kepada kelompok tani.

Bupati Aceh Barat Tarmizi, SP., MM mengatakan pompa air disalurkan sebagai langkah darurat untuk membantu petani menyelamatkan tanaman mereka.

“Tadi kami membagikan pompa air untuk membantu petani. Persoalan utama sekarang adalah kekeringan. Tidak ada air yang bisa dialirkan ke sawah,” kata Tarmizi kepada Dialeksis.com, Selasa (28/7/2026).

Kekeringan dilaporkan melanda ratusan hektare sawah, termasuk di Kecamatan Samatiga. Sejumlah tanaman padi yang terdampak masih berusia sekitar 22 hingga 35 hari setelah tanam. Pada usia tersebut, tanaman membutuhkan pasokan air yang cukup agar dapat berkembang dan tidak mengalami puso.

Namun, menurut Tarmizi, pembagian pompa hanya mampu menjadi penanganan sementara. Persoalan kekurangan air akan terus berulang selama jaringan Irigasi Lhok Guci belum diselesaikan.

“Inilah alasan kami tidak pernah berhenti memperjuangkan Irigasi Lhok Guci,” ujarnya.

Untuk menuntaskan pembangunan irigasi tersebut, pemerintah masih membutuhkan anggaran sekitar Rp2,3 triliun. Jika rampung, Irigasi Lhok Guci diproyeksikan mampu mengairi sekitar 12 ribu hektare sawah yang tersebar di delapan kecamatan di Aceh Barat.

Tarmizi mengatakan pemerintah daerah baru saja menggelar rapat dengan Direktorat Jenderal Sumber Daya Air Kementerian Pekerjaan Umum. Pertemuan itu membahas kelanjutan pembangunan irigasi di tengah keterbatasan anggaran pemerintah pusat.

Kebijakan efisiensi anggaran membuat penyelesaian proyek tersebut tidak mudah dilakukan melalui skema pembiayaan rutin. Pemerintah Aceh Barat dan Direktorat Jenderal Sumber Daya Air kemudian membahas kemungkinan menggunakan skema loan atau pinjaman luar negeri.

“Karena anggaran terbatas akibat efisiensi, kami mendiskusikan skema pinjaman luar negeri. Pihak Direktorat Jenderal Sumber Daya Air akan segera membicarakannya dengan Menteri Perencanaan Pembangunan Nasional atau Kepala Bappenas,” kata Tarmizi.

Selama ini, kata dia, pembangunan Irigasi Lhok Guci masih memperoleh alokasi anggaran setiap tahun. Namun jumlahnya berada di bawah Rp100 miliar. Dengan kebutuhan anggaran yang masih mencapai Rp2,3 triliun, penyelesaian proyek diperkirakan memakan waktu panjang apabila hanya mengandalkan alokasi tahunan.

“Kalau anggarannya setiap tahun di bawah Rp100 miliar, tentu penyelesaiannya akan sangat lama. Karena itu, kami mencari terobosan pembiayaan supaya irigasi ini dapat segera dirasakan manfaatnya oleh petani,” ujarnya.

Aceh Barat juga memperoleh bantuan sekitar Rp15 miliar untuk pembangunan dan perbaikan jaringan irigasi sekunder serta tersier. Anggaran itu akan digunakan untuk memperbaiki distribusi air dari saluran utama hingga ke lahan pertanian masyarakat.

Namun jaringan sekunder dan tersier tidak akan bekerja maksimal apabila saluran primer belum terbangun secara utuh. Karena itu, menurut Tarmizi, pembangunan ketiga jaringan tersebut harus dilakukan secara terintegrasi.

Pemerintah Kabupaten Aceh Barat kini menempuh tiga strategi untuk menangani persoalan kekeringan. Langkah pertama adalah membagikan mesin pompa air kepada kelompok tani sebagai penanganan cepat.

Langkah kedua, pemerintah memperbaiki saluran irigasi yang rusak dan mengalami pendangkalan sesuai kemampuan keuangan daerah. Perbaikan diprioritaskan pada saluran yang berhubungan langsung dengan lahan pertanian terdampak.

Adapun langkah ketiga adalah melobi pemerintah pusat agar menyediakan anggaran lebih besar untuk pembangunan jaringan irigasi primer, sekunder, dan tersier.

“Kami tidak hanya memikirkan penanganan hari ini. Kami juga ingin menyelesaikan akar persoalannya,” kata Tarmizi.

Selain pompa konvensional, pemerintah daerah mengusulkan bantuan pompa air bertenaga surya kepada pemerintah pusat. Pompa tersebut dinilai lebih sesuai untuk membantu petani di kawasan yang sulit memperoleh bahan bakar dan pasokan listrik.

“Kami mengusulkan pompa air tenaga surya. Mudah-mudahan dikabulkan karena biaya operasionalnya lebih ringan dan bisa digunakan petani dalam jangka panjang,” ujarnya.

Tarmizi meminta dinas terkait terus mendata luas sawah dan jumlah petani yang terdampak. Pendataan diperlukan agar mesin pompa dan bantuan lainnya diberikan kepada wilayah yang paling membutuhkan.

Ia juga meminta kelompok tani menggunakan dan merawat pompa secara bersama-sama. Dengan cara itu, bantuan tidak hanya menyelamatkan satu petak sawah, tetapi dapat menjangkau lahan milik sejumlah petani.

Menurut Tarmizi, penyelesaian Irigasi Lhok Guci tidak semata-mata berkaitan dengan pembangunan infrastruktur. Proyek tersebut menyangkut masa depan produksi pangan dan kehidupan ribuan keluarga petani di Aceh Barat.

Tanpa irigasi yang memadai, petani akan terus bergantung pada hujan. Jadwal tanam menjadi tidak menentu dan ancaman gagal panen akan selalu muncul setiap musim kemarau.

“Kami tidak ingin petani berjuang sendiri. Pemerintah mengambil langkah cepat dengan membagikan pompa, tetapi perjuangan utama kami tetap menyelesaikan Irigasi Lhok Guci,” kata Tarmizi. [arn]

Keyword:


Editor :
Redaksi

riset-JSI