Beranda / Berita / Aceh / Samakan Persepsi Pemberitaan Isu Keberagaman, AJI Banda Aceh Gelar FGD Forum Editor Media

Samakan Persepsi Pemberitaan Isu Keberagaman, AJI Banda Aceh Gelar FGD Forum Editor Media

Selasa, 21 Juli 2020 08:30 WIB

Font: Ukuran: - +


DIALEKSIS.COM | Banda Aceh - Aliansi Jurnalis Independen (AJI) Banda Aceh bekerjasama dengan American Friends Service Committee (AFSC) melaksanakan fokus grub diskusi (FGD) forum editor media massa di Aceh. 

FGD yang membahas pemberitaan terkait isu keberagaman di Provinsi Aceh itu dilaksanakan di hotel Kriyad Muraya Banda Aceh, Senin, 20 Juli 2020.

Diskusi yang diikuti oleh 15 editor media massa tersebut dilaksanakan dengan memperhatikan protokol kesehatan pencegahan virus corona (Covid-19) seperti memakai masker, cuci tangan dan penerapan physical distancing. 

Ketua AJI Banda Aceh, Misdarul Ihsan mengatakan, tujuan pelaksanaan FGD forum editor ini untuk meningkatkan pemahaman, dan pengetahuan para editor media massa mengenai isu keberagaman.

"Targetnya, para editor dapat merumuskan metode peliputan atau naskah pemberitaan yang menjunjung tinggi nilai-nilai keberagaman," kata Misdarul Ihsan saat membuka diskusi. 

Ihsan melihat, pemberitaan yang dimunculkan media massa selama ini belum sepenuhnya memperhatikan nilai-nilai keberagaman. Kondisi itu ditakutkan bisa menganggu hubungan sesama anak bangsa. 

"Karena itu, AJI bersama AFSC mencoba membuat sebuah diskusi untuk editor, sehingga nanti tulisan yang dimuat media massa betul-betul sejuk, dan terciptanya berita damai serta penuh toleransi," ujarnya. 

Ihsan berharap, para editor media dalam FGD ini dapat merumuskan pedoman peliputan pemberitaan mengenai isu keberagaman, sehingga nantinya bisa dilaksanakan para jurnalis yang bertugas di lapangan. 

Sementara itu, Sekjen AJI Banda Aceh, Afifuddin yang memfasilitasi FGD tersebut menyampaikan, para editor media massa di Aceh sepakat dalam memproduksi berita keberagaman menggunakan narasi toleran untuk mencegah terjadinya perpecahan, serta tidak mengaitkan antara suatu peristiwa dengan RAS.

"Dalam diskusi ini para editor sepakat untuk tidak mengaitkan suatu peristiwa dengan agama atau suku," tutur Afifuddin.(ZU)

Keyword:


Editor :
Zulkarnaini

riset-JSI
Komentar Anda