Sabtu, 31 Oktober 2026
Beranda / Berita / Aceh / Rektor UTU Tekankan Anggaran 2027 Berbasis Kinerja dan Dampak

Rektor UTU Tekankan Anggaran 2027 Berbasis Kinerja dan Dampak

Sabtu, 31 Oktober 2026 12:30 WIB

Font: Ukuran: - +

Universitas Teuku Umar (UTU) menggelar Rapat Kerja (Raker) Tahun 2027 di Takengon, Kabupaten Aceh Tengah, Jumat (30/10/2026). Foto: Humas UTU


DIALEKSIS.COM | Takengon - Rektor Universitas Teuku Umar (UTU), Prof. Dr. Nyak Amir, M.Pd., menekankan pentingnya perencanaan anggaran yang berorientasi pada kinerja dan dampak. Setiap program yang disusun untuk 2027 harus memiliki sasaran terukur serta memberikan manfaat bagi pengembangan universitas dan masyarakat.

Penegasan itu disampaikan Nyak Amir dalam pembukaan Rapat Kerja (Raker) Tahun 2027 di Takengon, Kabupaten Aceh Tengah, Jumat (30/10/2026). Forum tersebut menjadi ajang evaluasi pelaksanaan program dan anggaran 2026 sekaligus penyusunan rencana kerja seluruh unit untuk tahun berikutnya.

“Dari Takengon, negeri kopi Gayo, hingga pesisir Meulaboh, Aceh memiliki kekuatan agro dan maritim yang menjadi keunggulan UTU. Tugas kita dua hari ini adalah memastikan setiap rupiah anggaran 2027 bekerja untuk kinerja dan dampak sesuai dengan Renstra Kemendiktisaintek, yakni transformatif dan berdampak, bukan sekadar untuk kegiatan saja,” kata Nyak Amir.

Raker tersebut mengusung tema “Perencanaan Berbasis Kinerja Menuju UTU Gemilang: Agro-Maritim Berdampak dan Berdaya Saing Global.” Menurut Nyak Amir, pemilihan Takengon sebagai lokasi kegiatan berkaitan dengan potensi agro dan maritim Aceh yang menjadi landasan pengembangan keunggulan akademik UTU.

Ia mengingatkan bahwa perencanaan universitas harus mampu merespons perubahan besar dalam pendidikan tinggi. Ada lima megatren yang perlu diperhatikan, yakni transformasi digital dan kecerdasan buatan, pergeseran dari transfer ilmu menuju penciptaan nilai ekonomi dan sosial, akuntabilitas dampak berbasis data, masifikasi dan diversifikasi pendidikan, serta internasionalisasi yang selektif.

Transformasi digital dan kecerdasan buatan, menurutnya, telah mengubah cara perguruan tinggi menjalankan pembelajaran, penelitian, dan tata kelola. Karena itu, setiap unit perlu menyesuaikan program dengan perkembangan tersebut.

Di sisi lain, keunggulan perguruan tinggi semakin ditentukan oleh kemampuannya menghasilkan manfaat melalui riset terapan, hilirisasi, dan kewirausahaan. Kampus juga dituntut menunjukkan hasil kerja yang dapat diukur.

Nyak Amir menilai capaian perguruan tinggi perlu dilihat lebih luas, mencakup keterserapan lulusan, kontribusi terhadap kebijakan, serta manfaat bagi pencapaian Tujuan Pembangunan Berkelanjutan atau SDGs, di samping publikasi dan sitasi.

“Kelima megatren ini kami rangkum dalam lima kata kunci, yakni kampus berbasis data (data-driven campus), penciptaan nilai (value creation), dampak yang terukur (measurable impact), akses yang lebih luas, serta langkah yang strategis dan selektif,” ujarnya.

Ketua Panitia Raker, Zulfirman, S.E., M.Si., mengatakan evaluasi program dan penggunaan anggaran 2026 menjadi dasar untuk memperbaiki perencanaan tahun berikutnya. Setiap unit diberi ruang memaparkan capaian sekaligus mengidentifikasi hal-hal yang perlu dibenahi.

Zulfirman, yang juga Kepala Biro Perencanaan, Keuangan, dan Umum UTU, menjelaskan bahwa rencana kerja 2027 harus disusun berdasarkan capaian, kebutuhan, dan target kinerja masing-masing unit. Seluruh program juga perlu diselaraskan dengan prioritas serta sasaran strategis universitas.

Raker diikuti pimpinan biro, fakultas, lembaga, dan unit penunjang akademik di lingkungan UTU. Melalui forum tersebut, universitas menyelaraskan program dan anggaran agar pelaksanaannya pada 2027 memiliki arah yang sama.

Sementara itu, Bupati Aceh Tengah, Drs. Haili Yoga, M.Si., menekankan pentingnya kemitraan pemerintah daerah dengan perguruan tinggi dalam menjawab persoalan pembangunan. Menurutnya, keilmuan, tenaga ahli, dan hasil penelitian kampus dapat membantu pemerintah merumuskan kebijakan yang sesuai dengan kebutuhan masyarakat.

Haili Yoga berharap hubungan UTU dengan Pemerintah Kabupaten Aceh Tengah berkembang menjadi kerja sama yang memberikan manfaat langsung. Pemerintah daerah, katanya, terbuka untuk berkolaborasi dalam pengembangan potensi daerah, peningkatan kualitas sumber daya manusia, pertanian, dan sektor unggulan lainnya.

Ia juga mendorong pemanfaatan hasil kajian perguruan tinggi dalam penyelesaian persoalan daerah. Dukungan akademisi diharapkan memperkuat landasan ilmiah kebijakan dan pelaksanaan program pembangunan.

Anggota Dewan Penyantun UTU, Dr. (HC) H. T. Alaidinsyah, yang membuka kegiatan secara resmi, mengajak seluruh pihak mendukung pengembangan universitas. Ia mengatakan UTU tumbuh bersama masyarakat Aceh Barat dan kawasan pantai barat selatan Aceh sehingga kemajuannya menjadi harapan bersama.

Dukungan tersebut, menurut Alaidinsyah, dapat diwujudkan melalui partisipasi, kerja sama, dan kepercayaan terhadap peran UTU dalam pendidikan, penelitian, serta pengabdian kepada masyarakat. Ia berharap visi UTU Gemilang diwujudkan melalui kerja nyata sivitas akademika untuk menghasilkan lulusan berkualitas dan inovasi yang bermanfaat bagi daerah.

Pembukaan Raker turut dihadiri Dewan Penyantun UTU, Prof. Dr. Jasman J. Ma'ruf, S.E., MBA., jajaran Satuan Kerja Pemerintah Kabupaten (SKPK) Aceh Tengah, serta pimpinan dan tenaga kependidikan UTU.

Agenda Raker berlanjut pada Sabtu (31/10/2026) dengan pembahasan dan pemaparan capaian program serta anggaran masing-masing unit. Hasil evaluasi menjadi bahan penyusunan program dan anggaran UTU tahun 2027.

Keyword:


Editor :
Redaksi

riset-JSI