DIALEKSIS.COM | Jakarta - Rektor Universitas Islam Negeri (UIN) Ar-Raniry Banda Aceh, Prof Dr Mujiburrahman MAg menilai peringatan 100 tahun Nahdlatul Ulama (NU) sebagai penanda fase baru peran pendidikan Islam dalam kehidupan kebangsaan Indonesia.
Menurut dia, satu abad perjalanan NU bukan sekadar capaian historis, melainkan mandat untuk menjawab tantangan zaman melalui penguatan pendidikan, pesantren, dan persatuan sosial.
“Satu abad adalah waktu yang panjang. NU telah menunjukkan kapasitasnya bukan hanya sebagai organisasi keagamaan, tetapi juga sebagai kekuatan sosial yang mendidik, merawat tradisi, dan menjaga moderasi beragama,” kata Mujiburrahman kepada Dialeksis saat dimintai tanggapan terkait Harlah ke-100 NU, Minggu (1/2/2026).
Ia mengatakan, kekuatan utama NU terletak pada jejaring pendidikan, terutama pesantren dan perguruan tinggi Islam yang selama ini menjadi fondasi pembentukan karakter kebangsaan. Dalam konteks itu, Mujiburrahman mendorong penguatan sinergi antara kampus dan pesantren agar pendidikan Islam tetap relevan dengan perkembangan sosial dan kebutuhan nasional.
“Perguruan tinggi Islam tidak boleh berjalan sendiri. Sinergi dengan pesantren dan jaringan NU penting untuk memperkuat pendidikan karakter, kewargaan, dan tanggung jawab sosial,” ujarnya.
Tema Harlah ke-100 NU versi Masehi, Mengawal Indonesia Merdeka, Menuju Peradaban Mulia, dinilai Mujiburrahman merefleksikan dua dimensi penting perjalanan NU. Pertama, peran historis NU dalam mengawal kemerdekaan dan keutuhan bangsa. Kedua, tanggung jawab masa depan untuk membangun peradaban yang berakar pada nilai akhlak, inklusivitas, dan keadilan sosial.
Dalam perspektif pendidikan nasional, Mujiburrahman menyoroti sejumlah tantangan yang masih dihadapi pesantren, mulai dari kualitas sumber daya pendidik, kesinambungan kurikulum, hingga kesiapan lulusan menghadapi perubahan dunia kerja. Ia menegaskan, pesantren memiliki fungsi strategis yang melampaui pendidikan keagamaan semata.
“Pesantren tidak hanya mentransmisikan ilmu agama, tetapi juga membentuk sikap kebangsaan, toleransi, dan kemampuan adaptasi generasi muda,” katanya.
Karena itu, ia mengusulkan kerja sama konkret antara kampus dan pesantren, seperti riset bersama, pertukaran dosen dan kiai, serta penguatan kapasitas manajerial lembaga pesantren. Menurut dia, langkah tersebut penting agar tradisi keilmuan pesantren dapat berjalan seiring dengan tuntutan kompetensi abad ke-21.
Mujiburrahman juga menekankan peran negara dalam mendukung pengembangan pendidikan pesantren. Ia mendorong pemerintah pusat dan daerah menyediakan kebijakan yang konsisten, termasuk dukungan anggaran yang transparan serta integrasi kurikulum keagamaan dengan keterampilan vokasional.
“Dukungan negara diperlukan agar lulusan pesantren mampu berkontribusi di ruang publik dan dunia kerja tanpa kehilangan identitas keagamaannya,” ujarnya.
Ia menambahkan, peringatan Harlah NU seharusnya tidak berhenti pada seremoni, tetapi menjadi momentum refleksi nasional untuk memperkuat dialog lintas agama dan budaya.
“NU sejak awal berdiri berfungsi sebagai perekat sosial bangsa. Tradisi toleransi itu perlu terus dijaga demi masa depan Indonesia yang majemuk,” kata Mujiburrahman.
Nahdlatul Ulama didirikan pada 31 Januari 1926 di Surabaya. Puncak peringatan Harlah ke-100 NU versi Masehi digelar di Stadion Utama Gelora Bung Karno, Jakarta, dan dihadiri sejumlah tokoh nasional serta pimpinan lembaga negara. []