Beranda / Berita / Aceh / Pendapat Mahasiswa Non-Muslim Tentang Toleransi di Aceh

Pendapat Mahasiswa Non-Muslim Tentang Toleransi di Aceh

Selasa, 17 November 2020 10:30 WIB

Font: Ukuran: - +

Reporter : Alfi Nora

Pretty Olan Oktavia Sihite, mahasiswa non-muslim yang kuliah di Jurusan Sosiologi Unsyiah. [IST]


DIALEKSIS.COM | Banda Aceh - Toleransi dalam konteks Aceh, secara aplikatif memang sudah diupayakan oleh berbagai lembaga swadaya masyarakat dalam bentuk organisasi maupun komunitas lintas keberagaman dengan terus menggaungkan narasi-narasi perdamaian dan kerukunan.

"Namun gerakan ini belum bisa disebut masif di Aceh karena masih terbatas pada ruang-ruang sosial tertentu saja," jelas Pretty Olan Oktavia Sihite mahasiswa non-muslim yang kuliah di Jurusan Sosiologi Universitas Syiah Kuala Banda Aceh saat dihubungi Dialeksis.com Selasa (17/11/2020).

"Upaya membangun nilai-nilai toleran masih harus diperjuangkan dan harus dimulai dari dunia pendidikan, pentingnya peran pemerintah, pendidik dan para pejuang perdamaian untuk turut menyebarkan virus perdamaian dengan menghilangkan prasangka sosial," tambahnya.

Pretty melanjutkan, ke depan masyarakat Aceh harus lebih terbuka misalnya seperti penyedia kos dan sekolah yang tidak membedakan antara muslim dan non-muslim. Meski demikian, walau masih ada beberapa praktik intoleran, namun masyarakat yang sudah toleransi di Aceh juga tak kalah banyak.

"Banyak kebaikan yang saya dapatkan dari sahabat-sahabat yang asli Aceh, para dosen atau rekan organisasi bahkan komunitas yang terbuka dengan perbedaan dan benar-benar menghargai bentuk-bentuk perbedaan," ungkap Pretty.

Ia berujar, Semua komunitas atau organisasi harus ekstra dalam menggaunkan nilai-nilai keberagaman yang harus dipertahankan demi keberlangsungan Indonesia lebih baik lagi, karena negara Indonesia heterogen yang dipersatukan dalam Bhineka Tunggal Ika, yang dengan bangga harus dijaga bersama

"Saya yakin tidak ada satupun agama yang mengajarkan kejahatan, perpecahan apalgi peperangan. Niali yang kita semua yakini adalah Kasih yang sudah dianugerahi sang pencipta kepada kita semua manusia. Perlunya membangun rasa kemanusiaan, rasa peduli akan sesama, niscaya perilaku bertoleransi akan semakin bertumbuh dibumi kita Aceh yang indah ini," pungkasnya.

Keyword:


Editor :
Sara Masroni

riset-JSI
Komentar Anda