Minggu, 17 Mei 2026
Beranda / Berita / Aceh / Pemulihan Bencana Aceh, KAMMI Gaungkan Meugang sebagai Momentum Berbagi

Pemulihan Bencana Aceh, KAMMI Gaungkan Meugang sebagai Momentum Berbagi

Selasa, 17 Februari 2026 14:30 WIB

Font: Ukuran: - +

Reporter : Naufal Habibi

Ketua Kebijakan Publik Pengurus Wilayah Kesatuan Aksi Mahasiswa Muslim Indonesia (PW KAMMI), Khairul Rahmad. [Foto: Dokumen untuk dialeksis.com]


DIALEKSIS.COM | Banda Aceh - Tradisi meugang yang telah mengakar kuat dalam kehidupan masyarakat Aceh kembali hadir menjelang bulan suci Ramadhan.

Pengurus Wilayah Kesatuan Aksi Mahasiswa Muslim Indonesia (PW KAMMI) Aceh mengingatkan agar tradisi meugang tidak kehilangan makna sosialnya dan bergeser menjadi ajang komersialisasi semata.

PW KAMMI Aceh melalui Ketua Kebijakan Publik, Khairul Rahmad, menegaskan bahwa meugang merupakan warisan budaya Aceh yang sarat nilai kebersamaan, kepedulian sosial, dan solidaritas antarsesama, bukan sekadar tradisi konsumsi daging menjelang Ramadhan.

“Meugang bukan hanya tentang menghadirkan hidangan daging di meja makan, tetapi tentang menghadirkan kebahagiaan di tengah keluarga dan masyarakat. Tradisi ini sejak dulu menjadi ruang berbagi, mempererat hubungan sosial, serta memastikan semua lapisan masyarakat dapat merasakan suasana menyambut bulan suci,” ujar Khairul Rahmad kepada media dialeksis.com, Selasa (17/2/2026).

Menurutnya, makna meugang menjadi semakin relevan di tengah kondisi Aceh yang masih berduka akibat bencana banjir yang memaksa ribuan warga kehilangan rumah, pekerjaan, dan sumber penghidupan.

Ia mengajak masyarakat untuk menjadikan meugang sebagai momentum memperkuat empati sosial, terutama kepada mereka yang masih bertahan di tenda pengungsian.

“Apalagi Aceh sedang dalam masa pemulihan bencana. Kita harus bersyukur dan melihat kondisi saudara-saudara kita yang masih tinggal di tenda pengungsian. Mereka kehilangan rumah, tempat tinggal, bahkan penghasilan karena disapu banjir. Momentum meugang seharusnya menjadi ruang berbagi dan menguatkan mereka,” katanya.

Khairul menilai, semangat meugang sejatinya bertentangan dengan praktik komersialisasi berlebihan yang berpotensi membebani masyarakat, terutama kelompok ekonomi lemah.

Ia mengingatkan agar seluruh elemen, mulai dari pedagang, distributor, pemerintah, hingga masyarakat, menjaga keseimbangan antara aktivitas ekonomi dan nilai sosial yang menjadi ruh tradisi tersebut.

“Kenaikan harga yang tidak wajar serta praktik mengambil keuntungan berlebihan berpotensi menggeser makna meugang dari tradisi kebersamaan menjadi beban sosial. Ini tentu bertolak belakang dengan semangat solidaritas yang menjadi identitas budaya Aceh,” tegasnya.

Ia juga mendorong pemerintah untuk memastikan stabilitas harga dan ketersediaan bahan pokok agar masyarakat dapat menjalankan tradisi meugang tanpa tekanan ekonomi yang berlebihan. Menurutnya, kehadiran negara penting untuk menjaga agar tradisi ini tetap inklusif dan dapat dirasakan oleh seluruh lapisan masyarakat.

Lebih jauh, PW KAMMI Aceh mengajak masyarakat menjadikan meugang sebagai momentum memperkuat nilai gotong royong dan kepedulian sosial, seperti berbagi dengan tetangga, kerabat, fakir miskin, serta korban bencana. Nilai empati, kata Khairul, harus lebih menonjol daripada semangat konsumtif.

“Meugang adalah identitas sosial Aceh. Yang kita jaga bukan hanya tradisinya, tetapi maknanya sebagai jembatan silaturahmi dan kepedulian antarsesama,” tutupnya. [nh]

Keyword:


Editor :
Redaksi

riset-JSI