Dialeksis - Akurat, Tajam, dan Strategis
Beranda / Berita / Aceh / Pabrik Gula Terbesar di Indonesia Kini Jadi Besi Tua

Pabrik Gula Terbesar di Indonesia Kini Jadi Besi Tua

Senin, 07 Januari 2019 16:05 WIB

Foto: Dialeksis.com/Agm

DIALEKSIS.COM | Aceh Utara - Saat panas terik, jalanan mengepulkan debu tebal bila dilindas kendaraan bermotor. Apabila hujan turun, jalan ini nyaris tak bisa dilewati, karena air menggenangi badan jalan dan selebihnya dibalut dengan lumpur tebal.

Setiap jalan kita menemui berbatu kasar dan berdebu. Kendaraan yang banyak lewat adalah truk pengangkut tandan sawit milik perusahaan PTPN I dan sepeda motor milik warga setempat.

Begitulah suasana menuju ke "Pabrik Gula Tjot Girek" berlokasi di Desa Cot Girek, Kecamatan Cot Girek, Kabupaten Aceh Utara, jaraknya sekitar 15 Kilometer dari arah Lhoksukon, 35 Kilometer dari Kota Lhokseumawe dan 200 Km dari Medan, Provinsi Sumatera Utara.

Pabrik tersebut diresmikan penggunaannya oleh Menko Ekuin Sri Sultan Hamengkobowono IX pada tanggal 19 September 1970. Pembangunan pabrik gula di Aceh merupakan bagian daripada perjanjian bilateral ekonomi, antara Indonesia dan Polandia, yang ditandatangani di Jakarta pada 11 Agustus 1961.

Saat itu Waperdam Chairul Saleh sebagai wakil Republik Indonesia dan Menteri Negara Republik Rakyat Polandia Prof Dr Witold Trampezynski. Sebagai tindak lanjut perjanjian tersebut, pada tanggal 30 Nopember 1962 diterbitkan sebuat kontrak pengadaan pabrik gula antara Pemerintah Republik Indonesia.

Bukan hanya itu saja, Pabrik Gula Tjot Girek juga pernah dikunjungi Presiden Soeharto pada Mei 1970. Saat itu masyarakat Aceh sangat bangga dengan hadirnya pabrik raksasa tersebut dan dinilai mampu menopang perekonomian Aceh.

Pada saat diresmikan, luas konsesi “Pabrik Gula Tjot Girek” adalah 7.890 Ha, dengan luas kebun karet, 427 Ha, komplek perumahan, 200 Ha, perumahan di afdelimg, 100 Ha, kompleks pabrik, 40 Ha, tempat penampungan air, 258 HA, saluran air : 125 Ha, areal berbukit tidak dapat dipergunakan untuk tanaman tebu, 4.240 Ha, dan luas areal yang dapat dipakai untuk tanaman tebu, 2.500 Ha.

Tenaga kerja pada diresmikan adalah 1.145 Orang dengan rincian, pimpinan 2, bagian TUK 26, bagian instalasi 378, bagian tanaman 122, sub bagian teknik Sipil 131, sub bagian angkutan 123, sub bagian irigasi 14, sub bagian research dan sub bagian mekanisasi 66, bagian tekhnologi 65, bagian Umum 129, keamanan 40, usaha sampingan 147, guru negeri 9. Selama giling ditambah dengan tenaga musiman tanaman : 600 orang dan Pabrik : 400 orang.

Namun siapa disangka, pabrik raksasa ini mulai berhenti beroperasi pada tahun 1985, tidak ada data yang jelas mengapa perusahaan itu sampai harus tutup. Hingga kini, bangunan tersebut menjadi besi tua.

Salah seorang masyarakat setempat Abdullah,62, mengatakan, semenjak pabrik tersebut beroperasi, kawasan Cot Girek merupakan jalur tersibuk dan sangat banyak mobil yang lalu-lalang menuju ke Pabrik Gula Tjot Girek.

Serta mampu menampung lapangan kerja dalam kapasitas besar dan terjadi pertumbuhan perekonomian. Sehingga setiap pagi warga sudah ada agenda untuk bekerja dan tidak seperti saat ini.

“Mungkin itu hanya kejayaan dimasa lalu saja, sehingga pabrik yang kami anggap terbesar tersebut kini menjadi besi tua dan banyak yang tidak memiliki pekerjaan, serta tidak seindah seperti dulunya,” ujar Abdullah.

Kini bangunan tersebut menjadi tempat penyimpanan barang milik kebun perusahaan sawit PTPN 1 dan pintu masuknya dijaga oleh sejumlah petugas keamanan milik perusahaan tersebut. (agm)


Editor :
Indri

pelantikan pengurus PSC (TNI)
Komentar Anda