Beranda / Berita / Aceh / Nasir Djamil Diisukan Bakal Calon Gubernur Aceh di Pilkada 2022, Pengamat: Seperti Kuda Hitam

Nasir Djamil Diisukan Bakal Calon Gubernur Aceh di Pilkada 2022, Pengamat: Seperti Kuda Hitam

Jum`at, 22 Januari 2021 12:00 WIB

Font: Ukuran: - +

Reporter : Alfi Nora

Pengamat Politik Aceh, Usman Lamreung [For Dialeksis]

DIALEKSIS.COM | Banda Aceh - Masyarakat Aceh sedang memperbincangkan siapa siapa nama calon yang akan bertarung dalam Pilkada Aceh 2022. 

Isu yang beredar, ada tiga nama kuat yang disebut-sebut akan dipantaskan untuk menjadi calon Gubernur. Dari isu itu, ada tiga tokoh Aceh yang akan bertarung, yakni Muzakkir Manaf atau sebutan akrabnya Mualem, Muhammad Nasir Djamil dan Nova Iriansyah.

Pengamat Politik Aceh, Usman Lamreung sekaligus Akademisi Universitas Abulyatama mengatakan, nama bakal calon yang sudah mencuat saat ini semua memiliki potensi serta berpeluang untuk memenangkan Aceh 1 (Gubernur).

“Hanya yang baru muncul sekarang ini 3 partai yaitu Demokrat, PAN dan PA. Tidak heran lagi kalau kekuatan partai Aceh memang masih sangat kuat di Aceh,” ujar Usman saat dihubungi Dialeksis.com, Jumat (21/1/2021).

Namun, dengan kondisi dengan dinamika politik saat ini bisa saja kekuatan tersebut berubah tergantung bagaimana wakil yang nantinya akan direkrut oleh kandidat tersebut.

"Misalnya awalnya sempat terdengar bahwa Nova Iriansyah ingin merekrut Mawardi, tetapi tampaknya Mawardi tidak ingin jadi orang nomor 2," ungkapnya.

Contoh lainnya, Partai Aceh setelah melakukan konsolidasi mereka berkeinginan wakilnya nanti juga berasal dari partai lokal, apakah dari PA juga atau Parlok lainnya. Namun hal itu bisa saja berubah kembali dan akan terus bergulir dinamikanya.

Selain, salah satu nama yang kerap dianggap pasti akan mencalonkan diri yakni Nasir Djamil. Menurut Usman, Nasir Djamil masih malu-malu untuk mempublikasikan dirinya sebagai salah satu kandidat calon Gubernur, sampai hari ini belum ada kepastian biarpun kemudian nampaknya akan ada deklarasi dari PKS.

"Nasir Djamil ini seperti kuda hitam yang kemudian menjadi persaingan berat, kita ketahui Nasir sudah 4 periode di DPR RI, kalangan masyarakat Aceh sudah mengenal akrab dengan beliau karena beliau sering tampil di media massa," kata Usman.

Ia melihat, Nasir Djamil memiliki potensi besar dan wakilnya yang paling sesuai adalah Sudirman alias Haji Uma.

"Kalau haji Uma dipasangkan dengan Nasir Djamil, saya melihat peluang besar untuk memenangkan Pilkada 2022, namun tergantung juga bagaimana nanti lobi politiknya, karena kita lihat haji Uma pun juga berafiliasi dengan partai partai Aceh karena dari dulu ia bagian dari kader PA. bisa jadi kalau diajak Nasir, Haji Uma ambil momentum itu," jelasnya. 

Menurut Usman, potensi koalisi pada Pilkada 2022 mendatang tetap ada. Karena yang namanya politik itu hari ini musuh besok jadi teman atau sebaliknya.  

"Hari ini para elit itu tidak terjadi gesekan yang tajam, misalnya denagn melakukan konsolidasi dengan Mualem, artinya mereka komunikasi politiknya bagus," tuturnya.

Sementara itu, potensi gesekan di Pilkada 2022 Jika dilihat dari perkembangan dinamika politik gesekan-gesekan dalam konflik elit itu tetap ada, tetapi gesekan tingkat kekerasan politik itu akan semakin berkurang.

"Kita lihat saja dari rentetan situasi politik dari Pilkada 2006, 2012, 2017. Konsentrasi politiknya semakin berkurang tindak kekerasannya semakin berkurang. Ada tindak kekerasan tetapi seiring berjalannya waktu kesadaran politik dalam masyarakat semakin tinggi," katanya.

Ia berharap, semoga Pilkada ini berlangsung baik, damai dan dapat terpilih pemimpin yang benar-benar berpikir untuk kemaslahatan rakyat, artinya lima tahun kedepan itu harus ada sosok pemimpin yang ada yang serius menjalankan berbagai hajatan pembangunan.

"Otonomi khusus yang hanya tinggal 2 periode lagi. Saya sangat berharap adanya program-program yang besar kemudian dapat berdampak terhadap ekonomi masyarakat," harapnya.

Editor :
Fira

riset-JSI
Komentar Anda