Logo Dialeksis
Beranda / Berita / Aceh / Merasa Dihina Oleh Google Translate, Warga Banda Aceh Ini Layangkan Protes Keras ke Google

Merasa Dihina Oleh Google Translate, Warga Banda Aceh Ini Layangkan Protes Keras ke Google

Selasa, 15 Oktober 2019 21:40 WIB

Font: Ukuran: - +

DIALEKSIS.COM | Banda Aceh - Salah seorang warga Banda Aceh Haekal Afifa menyampaikan protes dan keberatannya kepada pihak Google, khususnya layanan Google terjemahan (Google Translate). Menurut dia beberapa terjemahan dari bahasa Jawa dan Melayu ke bahasa Indonesia tentang frasa 'Aceh' telah mendiskreditkan masyarakat Aceh secara umum.

Haekal menjelaskan pada pada laman https://translate.google.com, dia melihat opsi terjemahan dari bahasa Jawa (Javanese) dan bahasa Melayu ke bahasa Indonesia, frasa (1) ‘anak aceh’, (2) ‘pria aceh’, (3) ‘wanita aceh’, (4) ‘gadis aceh’, (5) ‘bocah aceh’, (6) ‘ibu aceh’, (7) ‘ayah aceh’, (8) ‘saya aceh’, (9) ‘keluarga aceh’, (10) ‘baju aceh’, (11) ‘suku aceh, (12) ‘orang aceh’, (13) ‘dunia aceh’, (14) ‘tokoh aceh’, (15) ‘bahasa aceh’, (16) ‘kakak aceh’, (17) ‘anak melayu.

"ditulis dalam terjemahan bahasa Indonesia sebagai: (1) ‘bajingan’, (2) ‘Dasar brengsek’, (3) ‘seorang wanita yang kasar’, (4) ‘Dasar brengsek’, (5) ‘kamu bajingan’, (6) ‘Ibu brengsek’, (7) ‘Ayah brengsek’, (8) ‘Saya brengsek’, (9) ‘keluarga fanatik’, (10) ‘kaus kaki’, (11) ‘suku yang sakit’, (12) ‘bajingan’, (13) ‘dunia berantakan’, (14) ‘sosok yang kasar’, (15) ‘bahasa menghujat’, (16) ‘Anda brengsek’, (17) ‘bajingan’. Bahkan, jika frasa ‘anak aceh’ dari bahasa Jawa dan bahasa Melayu diterjemahkan ke bahasa Inggris maka ditulis terjemahannya sebagai ‘son of a bitch’," tulis Haekal pada surat terbukanya, seperti yang dilihat Dialeksis.com, Selasa, (15/10/2019).

Haekal menilai semua frasa diatas yang ditampilkan oleh produk layanan Google terjemahan, khususnya opsi dari bahasa Jawa dan bahasa Melayu ke bahasa Indonesia itu terlihat seperti ada unsur kesengajaan dan bukan bagian dari terjemahan.

"Tapi lebih kepada mendeskripsikan dan mendiskreditkan saya dan orang Aceh secara umumnya," tulis Haekal.

Sebagai bangsa Aceh, sambung dia, Haekal merasa telah dihina, direndahkan, didiskriminasi dan diperlakukan rasis oleh layanan Google terjemahan tersebut. 

"Karena dalam bahasa, budaya dan nilai hidup kami tidak pernah terdapat arti dari frasa seperti yang diterjemahkan oleh layanan perusahaan anda," tegas dia.

Dia menilai tindakan tersebut telah membuktikan perusahaan mesin pencaharian itu, khususnya produk layanan Google terjemahan, tidak memiliki sistem verifikasi yang baik dan rasa sensitifitas terhadap keberagaman budaya, bahasa, suku, adat serta peradaban masyarakat di Indonesia yang berpotensi konflik horizontal dan memecahkan persatuan bangsa Indonesia.  

"Maka, saya meminta kepada pihak perusahaan Google LLC atau pihak Google Indonesia untuk menghapus frasa-frasa tersebut diatas pada produk layanan Google terjemahan (Google Translate) khususnya terjemahan dari bahasa Jawa dan Melayu ke Bahasa Indonesia dan Inggris yang mengandung diskriminatif rasial sesegera mungkin," tegas Haekal.

Bukan hanya meresahkan dirinya, lanjut dia, namun kesalahan definisi frasa yang ditampilkan google terjemahan dinilai telah melanggar (1) Konvensi Internasional tentang Penghapusan Segala Bentuk Diskriminasi Rasial atau ICERD (International Convention on the Elimination of All Forms of Racial Discrimination) yang sudah disahkan oleh Sidang Majelis Umum PBB Nomor 2106 (XX) pada 21 Desember 1965 serta telah diratifikasi oleh Republik Indonesia pada 25 Juni 1999. (2) Undang-Undang Nomor 40 Tahun 2008 tentang Penghapusan Diskriminasi Ras dan Etnis. (3) Undang-Undang Nomor 11 Tahun 2008 tentang Informasi dan Transaksi Elektronik. 

"Saya yakin, sebagai sebuah perusahaan multinasional yang menawarkan produk dan layanan yang mendunia, para pekerja Anda tentunya paham dengan aturan dan regulasi diatas. Karena sampai kapanpun dan dimanapun praktek rasial harus segera dihentikan. Perusahaan Anda memiliki peran besar untuk mulai menghentikannya dari sekarang," terang Haekal.

Pada akhir surat terbukanya ia berharap pihak perusahaan Google dapat menjadi lebih baik dan bijak dalam melakukan verifikasi dan validasi terjemahan serta menindak tegas dan tidak memberi ruang kepada orang-orang atau komunitas Google Terjemahan yang berpotensi diskriminasi rasial.

"Sehingga kesalahan seperti ini tidak terulang kembali kepada kami dan etnis atau bangsa-bangsa yang lain di Indonesia khususnya dan di belahan dunia manapun yang menikmati layanan perusahaan Anda pada umumnya," ujar Haekal.

"Saya berharap, siapapun dari orang-orang atau Komunitas Google Terjemahan yang telah melakukan diskriminasi rasial semacam ini kepada kami untuk tidak pernah diberikan ruang sampai kapanpun dan diblokir dalam produk layanan apapun dari perusahaan Anda. Terimakasih," tutup dia.

Selain dikirim ke pihak Google, Haekal juga memberi tembusan surat terbuka itu ke Mr. Sundar Pichai, CEO Google LLC, International Labour Organization - Organisasi Perburuhan, Kementerian Hukum dan HAM RI, Kementerian Komunikasi dan Informatika RI, dan Komnas HAM RI.


Editor :
Im Dalisah

darwis jeunib
pelantikan menteri nadiem
Komentar Anda