Rabu, 22 Juli 2026
Beranda / Berita / Aceh / Menyemai Ketahanan Pangan di Tengah Kota Banda Aceh Lewat Hidroponik

Menyemai Ketahanan Pangan di Tengah Kota Banda Aceh Lewat Hidroponik

Selasa, 21 Juli 2026 23:30 WIB

Font: Ukuran: - +

Reporter : Naufal Habibi

Suasana pelatihan budidaya tanaman hidroponik yang diikuti anggota Kelompok Wanita Tani (KWT) Desa Pineung di Banda Aceh, Selasa (21/7/2026). Foto: Naufal Habibi/dialeksis.com.


DIALEKSIS.COM | Banda Aceh - Di tengah pesatnya perkembangan kawasan perkotaan yang identik dengan keterbatasan lahan, sekelompok ibu rumah tangga di Desa Pineung, Kecamatan Syiah Kuala, Banda Aceh, memilih jalan berbeda. 

Mereka belajar bercocok tanam dengan sistem hidroponik, sebuah metode pertanian modern yang dinilai mampu menjadi solusi untuk memperkuat ketahanan pangan sekaligus menghadapi tantangan perubahan iklim.

Suasana Balai Desa Pineung, Selasa (21/7/2026), tampak lebih hidup dari biasanya. Puluhan anggota Kelompok Wanita Tani (KWT) mengikuti pelatihan budidaya tanaman hidroponik di rumah kaca (greenhouse) yang diselenggarakan Universitas Syiah Kuala (USK) bekerja sama dengan Pemerintah Desa Pineung.

Pelatihan tersebut tidak hanya berisi penyampaian materi, tetapi juga praktik langsung. Para peserta diajak memahami setiap tahapan budidaya hidroponik, mulai dari penyemaian benih, pemilihan media tanam, pemberian nutrisi, perawatan tanaman, hingga pengelolaan instalasi hidroponik di dalam greenhouse.

Narasumber pelatihan, Dr. Elvrida Rosa, S.P., M.P., dosen Pascasarjana Biologi Universitas Serambi Mekkah, mengatakan sistem hidroponik menjadi salah satu alternatif pertanian yang sangat relevan diterapkan di wilayah perkotaan karena tidak membutuhkan lahan yang luas.

"Hidroponik tidak hanya menghasilkan sayuran yang berkualitas, tetapi juga memanfaatkan air secara lebih hemat dibandingkan pertanian konvensional. Dengan teknik yang benar, masyarakat dapat memperoleh hasil panen yang optimal meski memiliki lahan yang sempit," kata Elvrida kepada media dialeksis.com.

Ia menjelaskan, keberhasilan budidaya hidroponik bergantung pada beberapa faktor penting, seperti pemilihan media tanam, pengelolaan nutrisi, serta perawatan tanaman yang dilakukan secara konsisten.

"Melalui pelatihan ini kami berharap masyarakat tidak hanya memahami teori, tetapi juga mampu mempraktikkannya secara mandiri sehingga hidroponik dapat menjadi bagian dari aktivitas sehari-hari," ujarnya.

Sementara itu, Ketua Program Kemitraan Masyarakat (PKM) Teknologi Tepat Guna (TTG) Rumah Hidroponik Berbasis Internet of Things (IoT) LPPM USK sekaligus Ketua II Aceh Climate Change Initiative (ACCI) USK, Dr. Monalisa, S.P., M.Si., menilai penerapan teknologi pertanian modern menjadi langkah penting dalam meningkatkan kemampuan masyarakat menghadapi dampak perubahan iklim.

Menurutnya, perubahan pola cuaca yang semakin sulit diprediksi menuntut masyarakat untuk mulai beradaptasi dengan sistem pertanian yang lebih efisien, hemat sumber daya, dan ramah lingkungan.

"Hidroponik merupakan salah satu bentuk adaptasi terhadap perubahan iklim. Dengan dukungan teknologi, masyarakat dapat tetap memproduksi pangan secara berkelanjutan meskipun menghadapi berbagai tantangan lingkungan. Selain itu, sistem ini juga dapat memperkuat kemandirian pangan keluarga," ujar Monalisa.

Ia menambahkan, pengembangan rumah hidroponik berbasis IoT memungkinkan proses budidaya dilakukan secara lebih efektif melalui pengaturan kebutuhan air dan nutrisi tanaman secara terukur.

Sepanjang kegiatan berlangsung, antusiasme peserta terlihat dari banyaknya pertanyaan yang diajukan. Mereka juga aktif mempraktikkan teknik budidaya yang diperagakan narasumber. Bagi para anggota Kelompok Wanita Tani, pelatihan tersebut menjadi pengalaman baru yang membuka peluang memanfaatkan pekarangan rumah sebagai sumber pangan sekaligus tambahan pendapatan keluarga.

"Kami berharap ini menjadi awal lahirnya komunitas pertanian hidroponik yang berkelanjutan di kawasan perkotaan. Selain meningkatkan kapasitas masyarakat dalam mengelola lahan terbatas, program tersebut juga diharapkan mampu memperkuat ketahanan pangan keluarga dan mendukung terciptanya lingkungan yang lebih tangguh terhadap perubahan iklim," tutupnya.

Keyword:


Editor :
Alfi Nora

riset-JSI