DIALEKSIS.COM | Aceh - Mantan Direktur Rumah Sakit Pendidikan (RSP) Universitas Syiah Kuala (USK) sekaligus Dosen Gizi Klinik Fakultas Kedokteran (FK) USK, Dr. Iflan Nauval, M.ScIH, Sp.GK, mengungkapkan kondisi darurat yang terjadi di RSUD Pidie Jaya pascabanjir dan tanah longsor yang melanda wilayah tersebut sejak Kamis (27/11/2025).
Dalam wawancara eksklusif bersama Dialeksis, ia menuturkan bagaimana situasi kolapsnya layanan kesehatan memaksa USK melakukan respons cepat.
Dr. Iflan mengatakan dirinya menerima telepon darurat pada Kamis tengah hari dari Wakil Direktur RSUD Pidie Jaya, dr. Aditya, yang melaporkan bahwa pelayanan rumah sakit runtuh total akibat tingginya lonjakan pasien dan terbatasnya tenaga medis yang tersedia.
“Beliau meminta bantuan tenaga kesehatan dari FK dan Fakultas Keperawatan (FKEP) USK karena kondisi di lapangan benar-benar tidak mampu ditangani oleh tim yang ada,” ujarnya, Minggu (30/11/2025).
Mendengar laporan itu, Dr. Iflan langsung menemui Dekan Fakultas Kedokteran USK, dr. Safrizal Rahman, untuk melakukan koordinasi cepat. Situasi mendesak membuat jajaran pimpinan universitas harus mengambil keputusan tanggap darurat. Melalui komunikasi intensif dengan Rektor dan Wakil Rektor USK, diputuskan untuk segera mengirim tim medis ke Pidie Jaya pada keesokan harinya.
Pada Jumat siang, Tim Kebencanaan USK yang dipimpin oleh dr. Melya, Sp.EM, diberangkatkan menuju RSUD Pidie Jaya. Setibanya di lokasi, tim langsung membuka kembali layanan kesehatan, terutama pada sektor-sektor krusial seperti Instalasi Gawat Darurat (IGD), rawat inap, ICU, dan ruang operasi.
Hari ini, kata Dr. Iflan, tim kedua kembali diberangkatkan untuk memperkuat tenaga medis dan memastikan pelayanan tetap berjalan di tengah situasi yang sangat terbatas.
Berdasarkan laporan dari lokasi, RSUD Pidie Jaya menghadapi sejumlah kendala berat yang memperparah kondisi darurat. Tiga faktor utama menjadi penyebab lumpuhnya layanan kesehatan, yaitu, krisis air bersih, akses menuju rumah sakit yang terisolasi, dan pasokan listrik yang sangat terbatas.
“Ketiga faktor ini membuat pelayanan kesehatan benar-benar tidak bisa berjalan dan membutuhkan dukungan dari luar,” jelas Dr. Iflan.
Dr. Iflan melihat langsung bagaimana dunia akademik dan tenaga kesehatan harus mengisi kekosongan layanan publik di tengah bencana besar ini.
“Bagi saya pribadi, ini adalah salah satu momen penting ketika kampus dan para tenaga medis harus turun langsung menjawab kebutuhan masyarakat,” ujarnya.
Ia juga memuji respons cepat jajaran pimpinan USK serta dedikasi para dokter dan perawat yang bersedia berangkat tanpa keraguan.
“Semangat kemanusiaan mereka luar biasa. Ini menunjukkan komitmen USK untuk hadir di tengah masyarakat,” tambahnya.
Dr. Iflan berharap kondisi di Pidie Jaya segera pulih. Ia memastikan Tim Kesehatan USK siap terjun ke wilayah lain yang terdampak bencana apabila diperlukan.
“InsyaAllah, tim kami jumlahnya cukup dan siap diperbantukan ke daerah lain yang juga terimbas bencana ini,” pungkasnya. [ra]