Selasa, 25 Agustus 2026
Beranda / Berita / Aceh / Launching Buku Yusri Kasim, IKAL Lemhannas Aceh Soroti Dampak Konflik terhadap Karakter Masyarakat

Launching Buku Yusri Kasim, IKAL Lemhannas Aceh Soroti Dampak Konflik terhadap Karakter Masyarakat

Selasa, 25 Agustus 2026 12:30 WIB

Font: Ukuran: - +

Reporter : Naufal Habibi

Ketua DPD IKAL Lemhannas Aceh, Prof. Dr. Syahrizal Abbas, M.A., saat memberikan sambutan pada launching buku Aceh dan Ujian Ketahanan Sosial: Pelajaran dari Daerah Bekas Konflik karya Yusri Kasim di Banda Aceh, Selasa (25/8/2026). [Foto: Naufal Habibi/dialeksis.com]


DIALEKSIS.COM | Banda Aceh - Ketua DPD Ikatan Keluarga Alumni Lembaga Ketahanan Nasional (IKAL Lemhannas) Aceh, Prof. Dr. Syahrizal Abbas, M.A., menilai konflik yang berlangsung panjang di Aceh tidak hanya meninggalkan dampak pada aspek ekonomi, infrastruktur, kesehatan, dan pendidikan, tetapi juga memengaruhi karakter serta harmoni sosial masyarakat.

Hal itu disampaikan Syahrizal dalam kegiatan launching buku Aceh dan Ujian Ketahanan Sosial: Pelajaran dari Daerah Bekas Konflik karya Yusri Kasim di Banda Aceh, Selasa (25/8/2026).

Menurut Syahrizal, salah satu perubahan yang terjadi dapat dilihat dari tradisi dan pola interaksi sosial masyarakat Aceh. Ia mencontohkan tradisi antar linto, yang secara umum dilakukan pada malam hari karena masyarakat lebih memiliki waktu setelah menyelesaikan aktivitas pekerjaan.

“Antar linto itu pada malam hari. Pertama, orang tidak lagi bekerja pada malam hari. Kedua, lebih banyak waktu dan suasananya dingin, tidak panas,” ujar Syahrizal dalam kata sambutan yang dihadiri media dialeksis.com. 

Ia menjelaskan, dalam tradisi tersebut terdapat proses interaksi antara keluarga pengantin laki-laki dan keluarga pengantin perempuan. Setelah prosesi pernikahan, keluarga masih berkumpul dan berbincang hingga waktu yang cukup lama.

Menurutnya, tradisi tersebut pada dasarnya mencerminkan adanya mekanisme sosial untuk membangun kedekatan, komunikasi, sekaligus menjaga keharmonisan antaranggota keluarga.

Namun, konflik yang berlangsung selama puluhan tahun turut memengaruhi berbagai tradisi dan pola hubungan sosial masyarakat Aceh.

“Selama hampir 30 tahun ini yang terjadi dalam tradisi masyarakat Aceh, kebudayaan, peradaban, dan tradisi masyarakat Aceh karena konflik itu berbeda,” katanya.

Syahrizal menyebut dampak konflik tidak hanya terlihat dalam aspek fisik seperti infrastruktur dan ekonomi, tetapi juga pada aspek sosial yang dinilai lebih sulit untuk dipulihkan.

Menurutnya, karakter kecurigaan, rasa tidak senang terhadap orang lain, hingga kebiasaan menyebarkan fitnah merupakan sebagian dampak sosial yang dapat tumbuh dalam masyarakat yang hidup dalam situasi konflik berkepanjangan.

“Yang paling berbahaya adalah karakter kecurigaan dan kesunyian, karakter tidak senang sama orang, karakter fitnah selama konflik. Itu sangat berpengaruh,” ujarnya.

Ia mengatakan, karakter-karakter tersebut kemudian dapat terbawa ke berbagai sektor kehidupan masyarakat, termasuk ekonomi, pendidikan, pelayanan kesehatan, hingga kehidupan sosial sehari-hari.

“Bahasa kesantunan orang Aceh itu berubah. Perilaku orang Aceh yang harmonis, yang damai, yang penuh kesunyian itu hilang selama 30 tahun,” katanya.

Karena itu, Syahrizal menilai perdamaian tidak cukup hanya dimaknai sebagai berhentinya konflik bersenjata. Menurutnya, masyarakat juga perlu melakukan proses pemulihan sosial untuk mengembalikan karakter kehidupan masyarakat yang harmonis dan saling percaya.

Ia mengapresiasi penerbitan buku karya Yusri Kasim tersebut karena dinilai menawarkan pembelajaran mengenai bagaimana menjaga dan merawat perdamaian di daerah yang memiliki pengalaman konflik.

“Atas nama DPD IKAL Lemhannas Aceh, kami memberikan apresiasi atas launching buku ini,” katanya.

Syahrizal berharap pembahasan mengenai buku tersebut tidak berhenti pada ruang diskusi terbatas, tetapi dapat diperluas ke berbagai kalangan, termasuk mahasiswa, akademisi, pemerintah, dan para pengambil kebijakan.

“Kita berharap ke depan diskusi terhadap buku ini bukan hanya berada di ruang tertentu, tetapi juga di kalangan mahasiswa dan pengambil kebijakan,” ujarnya.

Ia juga mendorong agar hasil kajian dalam buku tersebut dibuat dalam bentuk executive summary yang lebih singkat dan mudah dipahami. Dokumen tersebut, menurutnya, dapat menjadi bahan masukan bagi pemerintah, lembaga pendidikan, lembaga teknologi, maupun organisasi sosial.

“Harapannya hasil dari buku ini nanti bisa dibuat executive summary singkat saja, sehingga bisa disampaikan kepada rumah pemerintahan maupun lembaga-lembaga pendidikan dan lembaga-lembaga sosial,” pungkasnya. [nh]

Keyword:


Editor :
Indri

riset-JSI
pema - damai
dishub