Beranda / Berita / Aceh / Kultur Narkoba di Aceh, Pemakai di Bawah Umur Adalah Korban

Kultur Narkoba di Aceh, Pemakai di Bawah Umur Adalah Korban

Selasa, 16 November 2021 22:00 WIB

Font: Ukuran: - +

Reporter : Akhyar

Ketua DPP IKAN Aceh, Syahrul Maulidi. [Foto: IST]

DIALEKSIS.COM | Banda Aceh - Ketua Inspirasi Keluarga Anti Narkoba (IKAN) Aceh Syahrul Maulidi menyayangkan temuan aparat terhadap remaja Aceh yang masih belum bisa lepas dari penyalahgunaan narkotika, terutama pada pemakaian lem.

Walau tak ada data secara akurat, Syahrul menyebutkan jika penyalahgunaan lem sebagai alternatif untuk mencapai sensasi "ngefly," angkanya cukup tinggi dan banyak digunakan oleh remaja Aceh saat ini.

Ia juga meminta konsolidasi semua pihak, terutama peran keluarga, pegiat anti narkotika, dan pemerintah untuk giat mensosialisasikan pencegahan narkoba.

Pola pencegahan narkoba, jelas dia, harus betul-betul dilakukan secara rutin dan berkesinambungan.

"Keluarga harus betul-betul mengawasi pergaulan anak. Orangtua harus bisa melihat perubahan-perubahan perilaku yang terjadi sama anaknya," ujar Syahrul Maulidi kepada reporter Dialeksis.com, Banda Aceh, Selasa (16/11/2021).

Berkenaan dengan kondisi darurat narkoba di Aceh, Syahrul meminta masyarakat tak menyalahkan pemerintah secara sepihak. Karena peran orangtua dalam keluarga merupakan sentral utama atau lini depan dalam pencegahan narkoba di masyarakat.

"Saya melihat, orangtua kita masih sangat kurang perhatian terhadap anaknya, terutama pada level pencegahan narkoba. Orangtua harus bisa mengawasi anaknya," kata dia.

Sementara itu, Syahrul mengatakan, fenomena masih adanya penyalahgunaan narkoba di era modern ini merupakan saksi kelam dari eksisnya kultur narkoba di Aceh.

Kontradiktif antara kecanggihan teknologi dengan adanya remaja pemakai narkoba, kata dia, adalah kenyataan dari kondisi sosial yang tak bisa dihindari saat ini.

"Ini tanggungjawab moral kita semua. Edukasi pencegahan narkoba harus lebih kita tingkatkan lagi," ungkapnya.

Adapun bagi anak pemakai narkoba, Syahrul menegaskan bahwa masyarakat tak boleh seratus persen menjustifikasi atau menyalahkan si anak. 

Menurutnya, anak-anak yang terjerumus pada pemakaian barang haram tersebut adalah korban dari kultur narkoba di lingkungan masyarakat.

"Anak-anak usia remaja yang pemikirannya masih labil, mereka sedang mencari jati diri. Dorongan mereka untuk mencoba sesuatu juga tinggi. Mungkin karena ingin tampil keren, walaupun dia tahu hal tersebut sebenarnya berbahaya bagi dirinya. Namun karena dorongannya itu dan kultur sosial tadi, dia terjerumus dan terjebak di dalam pemakaian narkoba," jelasnya.

Tak hanya itu, lanjut dia, faktor-faktor lain yang dialami kadang juga menjadi penyebab mengapa seseorang terjerumus narkoba. 

"Kalau kita pelajari, ada banyak alasan mengapa orang terjebak narkoba. Mungkin karena dia broken home, permasalahan di keluarga. Sehingga dia mencoba melarikan diri pada pemakaian narkoba," tuturnya.

Oleh karena itu, berkaca pada faktor penyebab mengapa seseorang bisa terjebak narkoba, Syahrul menegaskan bahwa pemakai narkoba jangan dihakimi habis-habisan.

"Peran kita sebagai orang dewasa, sebagai orangtua, guru, stakeholder lainnya juga harus kuat dan giat dalam memberi pemahaman," pungkasnya.

Keyword:


Editor :
Alfi Nora

riset-JSI
Komentar Anda