Logo Dialeksis
Beranda / Berita / Aceh / Karo Humpro: Rumah Sakit Darurat Belum Dibutuhkan*

Karo Humpro: Rumah Sakit Darurat Belum Dibutuhkan*

Senin, 10 Agustus 2020 08:00 WIB

Font: Ukuran: - +


Kepala Biro Humas dan Protokol Setda Aceh, Muhammad Iswanto


DIALEKSIS.COM | Banda Aceh - Kepala Biro Humas dan Protokol Setda Aceh, Muhammad Iswanto, menegaskan pembangunan rumah sakit darurat di Aceh belum lagi dibutuhkan. Hal itu merujuk pada kesiapan pemerintah Aceh dan seluruh pemerintahan kabupaten dan kota dalam menangani penyebaran covid 19. 

"Terima kasih atas masukan dari teman-teman di DPRA. Masukan itu bisa menjadi pertimbangan pemangku kepentingan di pemerintah Aceh untuk mengambil kebijakan. Tapi sampai saat ini insya Allah kita masih siap dan terus bekerja maksimal dan pembangunan rumah sakit darurat untuk saat ini kami pandang belum perlu," kata Iswanto menjawab masukan dari Komisi V DPR Aceh, di Banda Aceh, Minggu (9/8/2020).

Iswanto mengatakan, sejak Februari saat wabah covid terjadi, pemerintah Aceh telah mengambil berbagai tindakan kewaspadaan hingga penanganan. Mulai dari mempersiapkan dua ruang Penyakit Infeksi New-Emerging dan Re-Emerging (Pinere) untuk perawatan bagi pasien terinfeksi covid-19. Dua ruangan itu berkapasitas 40 tempat tidur.

Selain Pinere, pemerintah Aceh juga menyediakan fasilitas poliklinik dan RICU di Rumah Sakit Umum Zainoel Abidin Banda Aceh. Plt gubernur juga mengarahkan para pimpinan SKPA mempersiapkan beberapa fasilitas seperti BPSDM dan Asrama Haji sebagai tempat istirahat bagi Orang Tanpa Gejala. Di kedua tempat ini terdapat 195 kamar dengan 388 tempat tidur. Kapasitas yang tersedia diyakini masih mampu menampung jumlah pasien covid di Aceh.

Untuk pemeriksaan spesimen masyarakat, pemerintah juga memfungsikan Balai Litbang Kesehatan yang sampai hari ini sebanyak 3.443 sampel telah diperiksa. Di Litbangkes, masa tunggu hasil laboratorium adalah 1-2 hari dengan maksimal 170 orang per hari (dua shef) bisa diperiksa.

Untuk mendukung kesiapan kabupaten dan kota merawat pasien terinfeksi covid khususnya OTG, pemerintah Aceh juga menyalurkan bantuan keuangan bersifat khusus.

Dengan itu, selain mempersiapkan berbagai kebijakan terkait sosial saftynet dan program pengadaan bahan pangan, kabupaten dan kota juga mempersiapkan penyediaan ruang rawat inap di setiap Rumah Sakit Umum Daerah. Di RSUD kabupaten dan Kota, 10 persen dari tempat tidur dijadikan tempat rawatan pasien covid.

"Persiapan yang kita lakukan didukung seluruh pimpinan kabupaten dan kota sudah sangat maksimal dan insya Allah sejak awal persiapan-persiapan yang kita lakukan selalu rata-rata di atas tren yang ada," kata Iswanto.

"Dalam pandangan kami saat ini rumah sakit darurat belum dibutuhkan di Aceh."

Langkah cepat seluruh kabupaten dan kota itu merupakan arahan dari Plt Gubernur dan Sekda Aceh. Di mana, Plt gubernur meminta minimal 10 persen dari jumlah tempat tidur di RSUD itu harus difungsikan sebagai tempat rawat inap bagi pasien teridentifikasi covid. Baru kemudian apabila ada pasien berat yang membutuhkan alat kesehatan tindakan agar dirujuk ke Rumah Sakit Umum Daerah dr. Zainoel Abidin Banda Aceh.

Dalam pra desk dan desk bantuan keuangan bersifat khusus dari pemerintah Aceh kepada pimpinan daerah yang dilakukan Plt Gubernur dan Sekda Aceh pada pekan lalu, disebutkan bahwa seluruh RSUD di seluruh Aceh wajib menyiapkan ruang rawat Pinere yang nyaman sesuai standar penanganan pasien Covid-19. Maksimal pada tanggal 15 Agustus 2020 keharusan itu harus dipenuhi oleh RSUD.

Ruang Pinere yang harus dipersiapkan RSUD kabupaten dan kota adalah yang sesuai standar penanganan pasien Covid-19 katagori ringan dan sedang. Nantinya ruangan itu akan dimanfaatkan bagi pasien yang membutuhkan observasi dan perawatan awal serta tidak membutuhkan alat kesehatan tindakan seperti ventilator.

"Arahan itu langsung ditindaklanjuti oleh pimpinan kabupaten dan kota tanpa menunggu batas waktu tanggal 15 Agustus. Langkah ini wajib kita apresiasi," kata Iswanto.

Iswanto menyebutkan, komitmen pemerintah di seluruh kabupaten dan kota itu menjadi kabar baik bagi penanganan covid di Aceh. Ia yakin pemutusan mata rantai penyebaran covid di Aceh akan berlangsung cepat.

Iswanto merinci, di RSUD Cut Meutia telah disediakan 18 Tempat Tidur (TT) untuk inap pasien OTG, RSUD Meuraxa punya 17 TT, RSUD Sigli 19 TT, RSUD Bireuen 5 TT, RSUD Langsa 20 TT, RSUD Aceh Tengah 10 TT, RSUD Nagan Raya 6 TT, RSUD Abdya 13 TT, dan RSUD Zubir Mahmud 30 TT.

Selanjutnya RSUD Gayo Lues 9 TT, RSUD Aceh Tenggara 4 TT, RSUD Aceh Selatan 14 TT, RSUD Sabang 2 T, RSUD Pidie Jaya 2 TT, RSUD Aceh Tamiang 20 TT, RSUD Bener Meriah 6 TT, RSUD Aceh Jaya 6 TT, dan RSUD Aceh Barat 12 TT.

Selanjutnya RSUD Aceh Singkil 7 TT, RSUD Subulussalam 13 TT, RSUD Simeulue 7 TT, RSUD Aceh Besar 2 TT, RSUD Beureunun 11 TT dan RSUD Peureulak 3 TT.

Untuk kesiapsiagaan melonjaknya kasus covid-19, Senin 10/8 besok, pemerintah Aceh juga akan meresmikan penggunaan dua ruangan Pinere baru (Pinere 3 dan Pinere 4) yang punya kapasitas 70 tempat tidur. Selain itu juga akan diresmikan 8 tempat penapisan pasien sebelum mereka masuk ke ruang Instalasi Gawat Darurat.

"Bahkan kita sedang mempersiapkan ruang Pinere 5 dan Pinere 6 dengan kapasitas 70 tempat tidur serta ruang oprs 2 theater & ponek," kata Iswanto. []


Editor :
Indra Wijaya

riset-JSI
Komentar Anda