DIALEKSIS.COM | Banda Aceh - Pemerintah Kota Banda Aceh mengajak seluruh masyarakat menghadiri Dakwah Akbar yang akan digelar di Taman Bustanussalatin, Selasa malam, 9 Juni 2026.
Kegiatan yang diinisiasi Pemko Banda Aceh melalui Dinas Syariat Islam bersama sejumlah organisasi dan komunitas dakwah itu akan menghadirkan dua mubaligh ternama, yakni Syeikh Reza Abdul Jabbar dan Ustadzah Khadijah Peggy Melati Sukma.
Dalam wawancara khusus dengan Dialeksis, Wali Kota Banda Aceh Illiza Sa’aduddin Djamal mengatakan kegiatan tersebut bukan sekadar agenda seremonial, melainkan ruang bersama untuk memperkuat syiar Islam, memperdalam ilmu agama, serta membangun kembali semangat ukhuwah di tengah masyarakat kota.
“Banda Aceh ini kota syariat. Identitas itu harus terus kita hidupkan, bukan hanya dalam aturan, tetapi juga dalam kebiasaan masyarakat untuk mencintai ilmu, hadir di majelis taklim, mendengar nasihat ulama, dan memperkuat hubungan dengan Allah SWT,” kata Illiza kepada Dialeksis, Selasa (9/6/2026).
Menurut Illiza, dakwah akbar ini terbuka untuk seluruh masyarakat. Ia mengajak warga datang bersama keluarga, anak-anak muda, komunitas, sahabat, dan kerabat untuk menjadikan Taman Bustanussalatin sebagai ruang ilmu dan zikir.
“Insya Allah malam ini kita berkumpul bukan hanya untuk mendengar ceramah, tetapi untuk mengaji bersama, mengambil hikmah, memperbaiki diri, dan menguatkan iman. Mari datang, duduk bersama, mengaji, mendengar nasihat para dai, dan membawa pulang kebaikan untuk keluarga masing-masing,” ujarnya.
Illiza menilai, kehadiran Syeikh Reza Abdul Jabbar menjadi kebanggaan tersendiri bagi masyarakat Aceh. Selain sebagai putra Aceh, Syeikh Reza dikenal aktif berdakwah di luar negeri dan kini memimpin komunitas imam di Selandia Baru.
“Beliau adalah putra Aceh yang kiprahnya sudah sampai ke mancanegara. Ini menjadi motivasi bagi generasi muda kita bahwa anak Aceh bisa membawa dakwah Islam ke dunia internasional,” kata Illiza.
Sementara itu, Ustadzah Khadijah Peggy Melati Sukma disebut Illiza sebagai sosok dai perempuan yang memiliki perjalanan spiritual dan pengalaman dakwah yang luas. Kehadirannya diharapkan dapat memberi inspirasi, terutama bagi kaum perempuan, keluarga muda, dan generasi muslimah.
“Ustadzah Khadijah Peggy memiliki pesan dakwah yang kuat tentang hijrah, keluarga, kemanusiaan, dan keteguhan iman. Kita berharap banyak ibu-ibu, remaja putri, dan keluarga dapat mengambil pelajaran dari tausiah beliau,” ucapnya.
Illiza menjelaskan, kegiatan dakwah akbar ini juga menjadi bagian dari komitmen Pemko Banda Aceh dalam menguatkan program dakwah kolaborasi. Program tersebut melibatkan pemerintah, ulama, komunitas, organisasi dakwah, generasi muda, dan masyarakat luas.
“Dakwah tidak bisa berjalan sendiri. Pemerintah perlu berkolaborasi dengan ulama, dai, komunitas, pemuda, dan seluruh elemen masyarakat. Kita ingin Banda Aceh menjadi kota yang hidup dengan majelis ilmu, masjid yang makmur, anak muda yang dekat dengan Al-Qur’an, serta keluarga yang kuat secara iman dan akhlak,” jelasnya.
Rangkaian kegiatan akan dimulai pukul 20.30 WIB dengan penampilan Tari Sufi dan lantunan Shalawat Badar. Acara kemudian dilanjutkan dengan pembacaan ayat suci Al-Qur’an serta saritilawah oleh para qari dan peserta terbaik MTQ Kota Banda Aceh.
Selanjutnya, Wali Kota Banda Aceh akan menyampaikan sambutan sekaligus melaunching Program Dakwah Kolaborasi Kota Banda Aceh sebelum memasuki sesi dakwah utama.
Illiza berharap masyarakat hadir lebih awal agar dapat mengikuti seluruh rangkaian acara dengan tertib, nyaman, dan khidmat.
“Kegiatan ini gratis dan terbuka untuk umum. Kami mengajak seluruh warga Banda Aceh dan masyarakat dari daerah sekitar untuk hadir. Jangan lewatkan kesempatan baik ini. Malam ini mari kita ramaikan taman kota dengan shalawat, zikir, ilmu, dan doa untuk keberkahan Banda Aceh,” kata Illiza.
Ia juga mengingatkan bahwa majelis ilmu merupakan salah satu jalan untuk memperbaiki kualitas kehidupan masyarakat. Menurutnya, kota yang baik tidak hanya dibangun dengan infrastruktur, tetapi juga dengan akhlak, iman, ilmu, dan kepedulian sosial.
“Banda Aceh harus terus menjadi kota yang teduh, religius, dan beradab. Kita ingin pembangunan berjalan, pelayanan publik membaik, tetapi ruh syariat dan nilai keislaman tetap menjadi fondasi utama. Karena itu, mari kita jadikan dakwah sebagai kebutuhan, bukan sekadar kegiatan,” pungkasnya.
Dakwah akbar tersebut merupakan bagian dari rangkaian program dakwah Syeikh Reza Abdul Jabbar dan Ustadzah Khadijah Peggy Melati Sukma selama berada di Aceh. Kegiatan ini difokuskan pada penguatan nilai-nilai Islam, pembinaan umat, serta ketahanan keluarga Muslim. [arn]