DIALEKSIS.COM | Banda Aceh - Guru Besar Fakultas Ekonomi dan Bisnis (FEB) Universitas Syiah Kuala (USK), Prof. Dr. Apridar, S.E., M.Si., menilai persoalan ekonomi dan degradasi budaya menjadi tantangan serius bagi ketahanan sosial masyarakat Aceh.
Menurutnya, ketahanan sosial Aceh tidak cukup hanya dijaga melalui pendekatan keagamaan, tetapi juga membutuhkan penguatan ekonomi, budaya, kelembagaan masyarakat, serta modal sosial yang selama ini menjadi kekuatan masyarakat Aceh.
Hal itu disampaikan Prof. Apridar saat peluncuran buku Aceh dan Ujian Ketahanan Sosial: Pelajaran dari Daerah Pasca Konflik karya Dr. Yusri Kasim, SE, M.Si.
Prof Apridar mengatakan Aceh sebenarnya memiliki modal sosial yang kuat. Nilai gotong royong, kebersamaan, tradisi keagamaan dan keberadaan tokoh masyarakat dahulu menjadi kekuatan penting dalam menjaga kehidupan sosial.
Namun, seiring perubahan zaman, sejumlah kekuatan tersebut mulai melemah.
“Ada kelembagaan di sini yang utamanya adalah agama. Agama juga bagian daripada itu, mungkin dijadikan sosialnya. Sehingga kita mesti mampu bertahan,” kata Prof Apridar yang dihadiri media dialeksis.com.
Ia menyebut masyarakat Aceh telah melewati berbagai ujian besar, mulai dari konflik berkepanjangan hingga bencana tsunami. Berbagai pengalaman tersebut, menurutnya, menjadi bukti bahwa masyarakat Aceh memiliki kemampuan untuk bertahan dalam situasi sulit.
“Allah tidak akan menguji suatu umat kalau umat tersebut tidak mampu. Walaupun kita katakan itu berat, tetapi Allah tahu masyarakatnya mampu untuk bertahan dengan situasi ini,” ujarnya.
Modal Sosial Mulai Melemah
Prof Apridar menjelaskan, salah satu persoalan yang perlu mendapat perhatian adalah melemahnya modal sosial masyarakat. Dahulu, kata dia, masyarakat memiliki tokoh-tokoh yang menjadi rujukan dalam menyelesaikan persoalan bersama.
Namun, kondisi tersebut kini mulai berubah.
“Kalau dulu apa pun yang dikatakan oleh ulama, walaupun tidak sependapat, kalau sudah diputuskan bersama dengan ahli dan orang bijaksana, masyarakat akan mengikuti. Sekarang kekuatan tersebut sudah mulai hilang,” katanya.
Menurutnya, konflik Aceh juga meninggalkan trauma, hilangnya kepercayaan antarwarga, migrasi dan berbagai bentuk perpecahan sosial. Dampak tersebut ikut memengaruhi kebersamaan masyarakat hingga saat ini.
Ia juga menyoroti perubahan fungsi sejumlah lembaga sosial dan keagamaan. Menurutnya, lembaga yang sebelumnya menjadi kekuatan untuk menggerakkan masyarakat kini sebagian hanya terlihat dalam kegiatan seremonial.
“Kalau ada orang kawin, lembaga masyarakat hanya menjadi seremonial. Padahal seharusnya menjadi lembaga yang menggerakkan dan memberikan kekuatan sosial kepada masyarakat,” ujarnya.
Ekonomi Jadi Persoalan Utama
Prof Apridar menilai persoalan ekonomi merupakan salah satu tantangan utama yang harus diselesaikan jika Aceh ingin memperkuat ketahanan sosial.
Menurutnya, kemiskinan, pengangguran dan kesenjangan ekonomi dapat memengaruhi stabilitas sosial masyarakat.
“Persoalan utama kita adalah persoalan ekonomi kita. Maka bagaimana kita menyelesaikan hal tersebut? Islam justru memiliki konsep ekonomi, tetapi konsep ekonomi itu yang pertama tidak dilakukan,” katanya.
Ia menilai penguatan agama juga harus diarahkan sebagai kekuatan moral dan sosial, bukan hanya pada persoalan simbol atau pendekatan yang bersifat memaksa.
Selain ekonomi, Apridar menyoroti persoalan narkoba, perubahan nilai generasi muda dan pengaruh media sosial yang menurutnya turut menjadi tantangan baru bagi masyarakat Aceh.
Prof Apridar juga menyoroti perkembangan politik lokal yang dinilainya turut memengaruhi hubungan sosial masyarakat.
Menurutnya, perbedaan pilihan politik bahkan dapat memicu konflik di tingkat keluarga.
“Jangankan konflik antarwarga dalam satu kampung, dalam satu rumah pun suami dan istri bisa berkonflik hanya karena persoalan politik. Beda pilihan, beda pandangan,” katanya.
Ia menilai kondisi tersebut menunjukkan bahwa ketahanan sosial Aceh menghadapi tantangan yang semakin kompleks. Karena itu, masyarakat harus memiliki kemampuan untuk menjaga perbedaan agar tidak berubah menjadi perpecahan.
Dalam bidang ekonomi, ia mendorong pemerintah memberikan perhatian lebih besar kepada sektor UMKM. Menurutnya, UMKM merupakan salah satu kekuatan utama ekonomi masyarakat Aceh.
“Lebih dari 90 persen kegiatan ekonomi kita ada di UMKM. Karena itu, yang perlu kita sentuh adalah UMKM,” katanya.
Ia meminta pemerintah menghadirkan regulasi yang mampu melindungi UMKM dari tekanan usaha bermodal besar. Penguatan UMKM, menurutnya, harus menjadi bagian dari strategi membangun ketahanan ekonomi masyarakat.
Ia juga menilai dana otonomi khusus (Otsus) Aceh seharusnya dimanfaatkan secara lebih optimal untuk memperkuat pendidikan, ekonomi dan ketahanan sosial.
Selain ekonomi, Apridar menekankan pentingnya menghidupkan kembali budaya dan tradisi masyarakat Aceh.
Menurutnya, tradisi mengaji, gotong royong dan berbagai kegiatan sosial merupakan modal penting dalam membangun kebersamaan.
“Tradisi, mengaji, gotong royong pascakonflik ini perlu dihidupkan kembali. Ini bagian dari penyelesaian konflik dan membangun kebersamaan,” katanya.
Ia juga mendorong agar pendidikan ketahanan sosial dan perdamaian dimasukkan ke dalam kurikulum pendidikan di Aceh. Dengan demikian, generasi muda dapat memahami sejarah konflik dan perdamaian serta memiliki kesadaran untuk menjaga kehidupan sosial.
“Kenapa tidak dimasukkan pendidikan ketahanan sosial dan damai ke dalam kurikulum?” ujarnya.
Menurut Apridar, degradasi budaya tidak boleh dibiarkan karena dapat menghilangkan identitas dan kekuatan sosial masyarakat Aceh.
Ia menyebut perkembangan media sosial juga menjadi tantangan karena generasi muda semakin mudah terpapar berbagai informasi dan budaya dari luar.
Karena itu, ketahanan sosial Aceh harus dibangun melalui keseimbangan antara agama, ekonomi, budaya, pendidikan dan penguatan kelembagaan masyarakat.
Apridar menegaskan bahwa perdamaian Aceh juga tidak boleh dianggap sebagai sesuatu yang akan bertahan dengan sendirinya.
“Saya pikir yang kita katakan damai itu harus dirawat seperti tanaman. Tidak bisa kita katakan dia tanaman, lalu dia akan tumbuh sendiri. Kita harus merawatnya,” katanya.
Ia berharap masyarakat Aceh tetap optimistis dan terus bekerja bersama untuk memperkuat ketahanan sosial.
“Mudah-mudahan dengan optimisme dan kerja keras kita, dengan niat untuk berbuat segala sesuatu, mudah-mudahan Allah akan memudahkan,” pungkasnya.

