DIALEKSIS.COM | Banda Aceh - Fenomena penyimpangan seksual yang dikenal sebagai LGBT dinilai semakin dekat dengan kehidupan masyarakat Aceh dan menjadi tantangan serius dalam menjaga moral generasi muda.
Perkembangan teknologi, kemudahan akses tontonan digital, hingga lemahnya pengawasan keluarga disebut menjadi faktor yang membuat perilaku tersebut semakin mudah dikenali bahkan berpotensi memengaruhi anak-anak dan remaja.
Pandangan tersebut disampaikan Ust. Dr. Mujtahid Anwar, Lc., MA dalam kajian rutin setiap malam Sabtu di Masjid Oman Al-Makmur, Lamprit, Banda Aceh. Kajian tersebut disiarkan secara langsung melalui kanal YouTube Masjid Oman Banda Aceh dan dilansir Dialeksis.com, Minggu (28/6/2026).
Dalam ceramahnya, Mujtahid Anwar mengingatkan bahwa ancaman terhadap moral generasi saat ini tidak lagi datang dari tempat yang jauh, melainkan telah berada sangat dekat dengan kehidupan sehari-hari masyarakat.
"Fakta yang kita hadapi hari ini, fenomena LGBT sudah sangat dekat dengan kita. Bahkan masyarakat Aceh pun sudah mulai berhadapan langsung dengan berbagai kasus yang berkaitan dengan perilaku menyimpang tersebut," ujarnya.
Menurutnya, tantangan terbesar saat ini adalah kemudahan akses terhadap berbagai bentuk tontonan digital yang dapat dikonsumsi anak-anak tanpa harus membuka situs-situs khusus.
"Kalau dulu orang harus mencari sendiri. Hari ini tidak lagi. Lewat media sosial, video pendek, film, bahkan konten-konten hiburan, anak-anak bisa melihat berbagai gaya hidup yang perlahan dinormalisasi. Ini yang harus menjadi perhatian semua pihak," katanya.
Dalam kajiannya, Mujtahid juga menyinggung sejumlah kasus yang menurutnya pernah terjadi di Aceh. Ia menyebut adanya seorang istri yang mendapati langsung suaminya sedang bersama pasangan sesama jenis di sebuah ruko.
Selain itu, ia juga menyoroti kasus kekerasan seksual terhadap anak yang berulang kali menjadi korban sodomi hingga harus menjalani tindakan operasi akibat luka yang dialami.
"Ada anak-anak yang menjadi korban berulang kali oleh orang terdekatnya. Ini tragedi yang sangat menyedihkan dan harus menjadi alarm bagi kita semua untuk lebih serius melindungi anak-anak," tuturnya.
Ia juga menyampaikan keprihatinannya terhadap dugaan kasus penyimpangan seksual yang disebut mulai merambah lingkungan pendidikan, termasuk pesantren, dayah, hingga perguruan tinggi.
Menurutnya, terdapat dugaan kasus yang melibatkan sesama santri maupun santriwati, bahkan melibatkan oknum tenaga pendidik dengan peserta didik.
"Kita juga mendengar adanya kasus yang terjadi di lingkungan pendidikan. Ada sesama santri, ada yang melibatkan oknum ustaz dengan santri ataupun ustazah dengan santriwati. Ini tentu menjadi evaluasi bersama agar lembaga pendidikan memperkuat sistem pengawasan dan pembinaan akhlak," katanya.
Ia juga mengungkapkan adanya dugaan praktik pendekatan terhadap mahasiswa yang mengalami kesulitan ekonomi maupun akademik.
"Jangan sampai ada pihak-pihak yang memanfaatkan kondisi mahasiswa yang sedang membutuhkan bantuan, baik dalam urusan biaya hidup maupun penyelesaian tugas akhir, lalu kemudian melakukan tindakan yang tidak bermoral," ujarnya.
Dalam kesempatan itu, Mujtahid turut menyinggung adanya sejumlah kasus yang melibatkan berbagai latar belakang profesi, termasuk aparat maupun masyarakat sipil.
Menurutnya, hal tersebut menunjukkan bahwa penyimpangan perilaku seksual tidak mengenal status sosial maupun profesi.
Selain itu, ia menyoroti fenomena media sosial yang dinilai mulai menampilkan dan menormalisasi ekspresi atau gaya tertentu yang menurutnya dapat memengaruhi cara pandang generasi muda terhadap perilaku menyimpang.
"Normalisasi itu sering kali dimulai dari tontonan. Ketika sesuatu terus ditampilkan sebagai sesuatu yang biasa, maka lama-kelamaan masyarakat akan menganggap itu tidak lagi bermasalah. Padahal nilai-nilai agama mengajarkan sebaliknya," jelasnya.
Mujtahid juga mengingatkan masyarakat agar lebih waspada terhadap berbagai bentuk pendekatan yang menurutnya dapat digunakan pelaku untuk membangun kedekatan dengan calon korban.
Ia mengatakan, salah satu modus yang perlu diwaspadai adalah memberikan perhatian, mentraktir makan atau minum, mengajak bepergian, hingga perlahan membangun hubungan yang semakin dekat.
"Anak-anak yang sedang membutuhkan perhatian, sedang kesepian, atau memiliki masalah ekonomi bisa menjadi sasaran. Awalnya diajak ngopi, diajak jalan-jalan, semua dibiayai. Setelah merasa nyaman, hubungan itu diarahkan kepada hal-hal yang tidak baik. Karena itu orang tua harus mengenal lingkungan pergaulan anak-anaknya," katanya.
Lebih jauh, ia mengingatkan bahwa berbagai bentuk penyimpangan moral tidak cukup dihadapi hanya melalui penegakan hukum, tetapi harus dimulai dari penguatan keluarga sebagai institusi pertama dalam pendidikan anak.
"Keluarga adalah benteng pertahanan yang paling kuat. Tidak ada yang bisa menggantikan peran ayah dan ibu dalam menjaga anak-anaknya," tegasnya.
Menurut Mujtahid, seorang ayah memiliki fungsi sebagai qawwam, yakni pemimpin keluarga, teladan, pendidik, pelindung, sekaligus pencari nafkah yang halal.
Sementara ibu, lanjutnya, merupakan sumber ketenangan, kasih sayang, sekolah pertama bagi anak-anak, sekaligus sosok yang senantiasa mengiringi pertumbuhan mereka dengan doa-doa terbaik.
"Kalau ayah hadir sebagai teladan dan ibu hadir sebagai sumber kasih sayang, maka anak-anak akan tumbuh dengan sehat, baik secara fisik, intelektual, maupun spiritual. Dari keluarga yang kuat akan lahir generasi yang mampu menjaga dirinya dari berbagai penyimpangan," ujarnya.
Ia mengajak seluruh masyarakat Aceh untuk memperkuat pendidikan agama, mempererat komunikasi dalam keluarga, meningkatkan kepedulian terhadap lingkungan sekitar, serta bersama-sama menjaga generasi muda dari berbagai bentuk kekerasan seksual dan penyimpangan perilaku.
"Semoga Allah SWT menjaga anak-anak, keluarga, dan negeri kita dari berbagai fitnah zaman. Nas'alullaha al-'afiyah. Wallahu a'lam," pungkasnya.
