Kamis, 23 Juli 2026
Beranda / Berita / Aceh / Rumah Sakit Siloam Medan Hadirkan Layanan Stroke Berstandar Internasional untuk Warga Aceh

Rumah Sakit Siloam Medan Hadirkan Layanan Stroke Berstandar Internasional untuk Warga Aceh

Kamis, 23 Juli 2026 22:00 WIB

Font: Ukuran: - +

Reporter : Naufal Habibi

Forum Neuroscience yang digelar Siloam Hospitals Dhirga Surya Medan di Banda Aceh menjadi wadah berbagi ilmu sekaligus memperkuat kolaborasi dalam meningkatkan kualitas layanan stroke di wilayah Sumatera. Foto: Naufal Habibi/dialeksis.com. 


DIALEKSIS.COM | Banda Aceh - Rumah Sakit Siloam Dhirga Surya Medan menghadirkan layanan penanganan stroke berstandar internasional bagi masyarakat Aceh melalui penguatan kolaborasi dengan tenaga kesehatan dan rumah sakit di daerah. 

Langkah ini diwujudkan lewat penyelenggaraan Siloam Neuroscience Forum Goes to Banda Aceh, sebagai wadah berbagi ilmu dan memperkuat jejaring rujukan neurologi di Pulau Sumatera.

Hal tersebut menjadi bagian dari tindak lanjut setelah Siloam Dhirga Surya Medan berhasil meraih sertifikasi Advanced Stroke Centre dari World Stroke Organization (WSO), menjadikannya rumah sakit swasta pertama di Indonesia yang memperoleh pengakuan internasional tersebut.

Chief Executive Officer (CEO) Siloam Hospitals Dhirga Surya Medan, Hartono Teguh Wijaya, mengatakan pencapaian itu bukan sekadar prestasi institusi, melainkan komitmen untuk menghadirkan pelayanan stroke yang cepat, tepat, aman, dan komprehensif bagi masyarakat Indonesia, termasuk Aceh.

"Kami ingin masyarakat mendapatkan pelayanan dengan standar internasional tanpa harus meninggalkan negaranya sendiri. Ini adalah komitmen kami bahwa pasien berhak memperoleh penanganan terbaik di Indonesia," ujar Hartono kepada media dialeksis.com di Banda Aceh, Kamis (23/7/2026).

Menurut Hartono, kehadiran Siloam di Aceh bukan untuk bersaing dengan fasilitas kesehatan setempat, tetapi membangun kolaborasi agar masyarakat memiliki akses yang lebih luas terhadap layanan kesehatan berkualitas.

"Kami datang bukan sebagai pesaing, tetapi sebagai mitra. Kami ingin membangun jejaring dengan dokter dan rumah sakit di Aceh sehingga pasien bisa mendapatkan pelayanan terbaik tanpa harus pergi jauh," katanya.

Ia menilai masih banyak masyarakat Indonesia yang memilih berobat ke luar negeri karena faktor kepercayaan. Padahal, menurutnya, kemampuan tenaga medis dan fasilitas rumah sakit di Indonesia kini telah berkembang pesat dan mampu memberikan pelayanan yang setara dengan negara lain.

"Kami berharap kepercayaan masyarakat terhadap layanan kesehatan nasional terus meningkat. Dengan begitu, pasien tidak lagi merasa harus berobat ke luar negeri," ujarnya.

Hartono juga menegaskan bahwa kolaborasi antarwilayah menjadi langkah penting untuk menekan tingginya angka masyarakat yang mencari pengobatan ke negara tetangga.

"Kami ingin devisa bangsa tidak terus mengalir ke luar negeri hanya untuk layanan kesehatan. Indonesia memiliki dokter dan fasilitas yang mampu memberikan pelayanan terbaik," katanya.

Sementara itu, Dokter Spesialis Bedah Saraf Siloam Hospitals Dhirga Surya Medan, Dr. dr. Steven Tandean, M.Ked (Neurosurg), Sp.BS, FIS, DABRM mengatakan keberhasilan penanganan stroke maupun tumor otak tidak hanya ditentukan oleh keberhasilan operasi, tetapi juga kualitas hidup pasien setelah menjalani tindakan medis.

"Tujuan kami bukan sekadar mengangkat penyakit, tetapi memastikan pasien dapat kembali menjalani kehidupan dengan fungsi tubuh yang baik," ujarnya.

Menurut Steven, pelayanan bedah saraf modern mengutamakan tindakan minimal invasif apabila memungkinkan sehingga risiko operasi dapat ditekan tanpa mengurangi keberhasilan terapi.

Ia menjelaskan, Siloam Dhirga Surya Medan telah dilengkapi teknologi modern seperti neuronavigation yang berfungsi layaknya GPS saat operasi otak, serta Intra Operative Monitoring (IOM) untuk memantau fungsi saraf selama tindakan berlangsung.

"Kami selalu mengutamakan keselamatan pasien. Kalau bisa dilakukan dengan tindakan yang lebih minimal dan hasilnya sama baik, tentu itu yang kami pilih," katanya.

Steven menambahkan, penanganan penyakit saraf memerlukan pendekatan multidisiplin yang melibatkan dokter spesialis bedah saraf, neurologi, radiologi intervensi, rehabilitasi medik, hingga berbagai disiplin ilmu lainnya.

"Keberhasilan pelayanan tidak bisa dilakukan oleh satu dokter saja. Semua harus bekerja bersama demi hasil terbaik bagi pasien," ujarnya.

Ia juga mengingatkan bahwa stroke kini semakin banyak menyerang usia produktif. Jika sebelumnya identik dengan usia lanjut, kini kasus stroke mulai banyak ditemukan pada usia 30 hingga 40 tahun.

"Stroke sekarang tidak lagi didominasi usia lanjut. Karena itu masyarakat harus mulai memperhatikan faktor risiko sejak usia muda," katanya.

Steven menekankan pentingnya golden period dalam penanganan stroke, yakni kurang dari 4,5 jam sejak gejala pertama muncul. Semakin cepat pasien mendapatkan penanganan, semakin besar peluang untuk mencegah kecacatan permanen bahkan menyelamatkan nyawa.

Di sisi lain, Ketua Ikatan Dokter Indonesia (IDI) Wilayah Aceh untuk periode 2025–2028, dr. Muntadhar, Sp.B, Subsp.Ped(K) menyambut baik kolaborasi yang dibangun Siloam Dhirga Surya Medan dengan tenaga kesehatan di Aceh. 

Menurutnya, forum ilmiah seperti ini menjadi kesempatan penting bagi dokter untuk memperbarui pengetahuan sekaligus memperkuat sistem rujukan.

Ia mengatakan angka kasus stroke di Aceh masih cukup tinggi sehingga peningkatan kompetensi tenaga medis dan kolaborasi antar rumah sakit menjadi kebutuhan yang tidak dapat diabaikan.

"Kami berharap kerja sama seperti ini terus berlanjut sehingga pelayanan neurologi di Aceh semakin berkembang dan masyarakat mendapatkan penanganan yang lebih cepat, tepat, dan berkualitas," tutupnya.

Keyword:


Editor :
Alfi Nora

riset-JSI