DIALEKSIS.COM | Banda Aceh - Angka 121 seolah memiliki cerita tersendiri dalam perjalanan Nasir Nurdin memimpin Persatuan Wartawan Indonesia (PWI) Aceh. Lima tahun lalu, jumlah suara itu mengantarkannya ke kursi ketua melalui pemilihan dua putaran. Kini, menjelang berakhirnya masa jabatan 2021 - 2026, angka yang sama kembali muncul. Bedanya, kali ini berupa surat dukungan anggota yang telah melewati verifikasi administrasi pencalonan.
Dukungan kepada Nasir untuk melanjutkan kepemimpinan lima tahun berikutnya terus mengalir. Bukan hanya dari anggota PWI di berbagai kabupaten dan kota, tetapi juga dari sejumlah tokoh yang selama ini berkecimpung dalam organisasi dan industri pers Aceh.
Hasil penelusuran redaksi Dialeksis terhadap dinamika menjelang Konferensi Provinsi (Konferprov) XIII PWI Aceh memperlihatkan petahana itu memiliki modal dukungan yang cukup besar. Namun, jalan menuju periode kedua tidak sepenuhnya lengang. Persaingan antarkandidat dan perdebatan mengenai penyelenggaraan konferensi masih membayangi proses pemilihan.
Sinyal dukungan terlihat ketika Nasir menyerahkan berkas pencalonan di Sekretariat PWI Aceh, kawasan Simpang Lima, Banda Aceh, Sabtu, 17 Oktober 2026.
Hari itu, ia tidak datang sendirian. Tiga pimpinan organisasi pers ikut mendampinginya. Mereka adalah Ketua Asosiasi Media Siber Indonesia (AMSI) Aceh Aryos Nivada, Ketua Serikat Perusahaan Pers (SPS) Aceh Muktaruddin Usman, dan Ketua Forum Pemimpin Redaksi Multimedia Indonesia Aceh Muhammad Saleh.
Ketiganya mengikuti rangkaian kegiatan sejak konferensi pers di Rex Premium Kopi, Peunayong, hingga penyerahan dokumen pencalonan kepada panitia.
Kehadiran para pimpinan organisasi tersebut memperlihatkan sokongan dari sejumlah unsur ekosistem pers Aceh. Meski demikian, dukungan personal para pimpinan tidak serta-merta berarti keputusan resmi organisasi tanpa melalui mekanisme kelembagaan masing-masing.
Dukungan lebih terbuka disampaikan Muktaruddin Usman. Ketua SPS Aceh itu mengaku telah mengajak anggota dan pengurus organisasinya yang juga tercatat sebagai anggota PWI untuk memilih Nasir.
"Anggota dan Pengurus SPS Aceh, yang juga anggota PWI Aceh, sudah kita arahkan dan minta mereka memilih Nasir Nurdin pada konferensi, November 2026 mendatang," kata Muktaruddin sebagaimana diberitakan pada 18 Oktober 2026.
Dukungan tersebut menempatkan pencalonan Nasir bukan semata urusan pergantian kepemimpinan organisasi wartawan. Ada pula harapan tentang kesinambungan kerja sama antarlembaga pers di tengah perubahan lanskap industri media.
Dari wilayah kepulauan, dukungan serupa datang melalui pengurus dan anggota PWI Simeulue.
Dalam kegiatan silaturahmi pada 22 Oktober 2026, mereka menyatakan dukungan terbuka agar Nasir kembali memimpin PWI Aceh. Seruan "Nasir Nurdin Dua Periode" menjadi penegasan sikap sejumlah anggota organisasi wartawan di daerah tersebut.
Suara dukungan juga muncul dari Aceh Utara. Sekretaris Jenderal Pers Siber Indonesia (PSI) Aceh Utara, Muhazir, menilai Nasir masih layak memperoleh kepercayaan untuk melanjutkan kepemimpinan.
"Saya sangat mendukung Bang Nasir Nurdin untuk kembali memimpin PWI Aceh," ujar Muhazir dalam pernyataan yang dipublikasikan pada 22 Oktober 2026.
Muhazir menilai pengalaman, rekam jejak, kemampuan membangun komunikasi, serta perhatian Nasir terhadap kode etik jurnalistik menjadi pertimbangan penting. Namun, dukungan Muhazir merupakan sikap pribadi sebagai insan pers. Ia tidak tercatat memiliki hak suara dalam pemilihan tersebut.
Sokongan dari berbagai unsur pers itu turut memperkuat posisi Nasir dalam penjaringan bakal calon. Ketika mendaftar pada 17 Oktober, tim pemenangannya menyerahkan 118 surat dukungan. Jumlah tersebut jauh melampaui persyaratan minimal 32 dukungan dari 320 anggota dalam Daftar Pemilih Sementara.
Dukungan terus bertambah setelah pendaftaran. Berdasarkan hasil verifikasi Steering Committee (SC) tertanggal 24 Oktober 2026 yang disampaikan tim pemenangan, sebanyak 121 dari 122 berkas dukungan dinyatakan memenuhi persyaratan administrasi. Satu berkas lainnya tidak memenuhi ketentuan.
Ketua Tim Pemenangan Nasir, Jufrizal yang akrab disapa Coy, menyambut hasil tersebut sebagai modal untuk menghadapi konferensi. Namun, ia mengingatkan bahwa proses pencalonan belum berakhir dan kekompakan pendukung tetap harus dijaga.
Jumlah dukungan itu belum dapat diterjemahkan sebagai perolehan suara dalam pemilihan. Keputusan akhir tetap berada di tangan anggota yang memiliki hak pilih melalui mekanisme Konferprov.
Bagi Nasir, pencalonan kembali bukan sekadar upaya mempertahankan jabatan. Ia menyebut masih ada pekerjaan organisasi yang belum tuntas selama lima tahun kepemimpinannya.
"Kalau amanah ini dipercayakan kepada saya untuk lima tahun ke depan, saya akan mencoba menuntaskan berbagai pekerjaan rumah yang masih tertunda pada periode pertama," kata Nasir dalam pernyataan saat pendaftaran.
Sejumlah agenda yang hendak dilanjutkan mencakup konsolidasi kepengurusan provinsi dengan kabupaten dan kota, penguatan kompetensi wartawan, digitalisasi administrasi, pengembangan Koperasi Tinta Emas, serta upaya memperkuat kemandirian ekonomi organisasi.
Nasir juga menempatkan integritas sebagai salah satu pekerjaan penting PWI di tengah perkembangan media digital. Menurut dia, organisasi wartawan harus tetap memiliki wibawa dan kemampuan menjaga standar profesi ketika arus informasi bergerak semakin cepat.
"Kita akan memperkuat konsolidasi antara provinsi dengan kabupaten/kota. Kita juga akan terus memperjuangkan marwah dan integritas PWI agar tetap tegak di tengah masyarakat Aceh," ujarnya.
Selama periode pertamanya, Nasir beberapa kali menyuarakan pentingnya kompetensi, perlindungan profesi, dan disiplin verifikasi informasi. Dalam pemberitaan Dialeksis pada 7 Oktober 2026, misalnya, ia mengingatkan wartawan agar tidak mengorbankan proses verifikasi hanya karena tekanan kecepatan media sosial.
Namun, dukungan terhadap petahana tidak menghapus pertanyaan mengenai capaian kepemimpinannya. Program yang telah berjalan, agenda yang belum selesai, serta kemampuan organisasi menjawab persoalan kesejahteraan dan profesionalisme wartawan tetap menjadi ukuran penting dalam menentukan kelayakan kepemimpinan berikutnya.
Di sisi lain, dinamika menjelang Konferprov juga diwarnai keberatan dari tiga bakal calon, yakni Sayuti Achmad, Muhammad Saman, dan T. Haris Fadhillah. Mereka mengadukan sejumlah persoalan kepada PWI Pusat, termasuk dugaan intimidasi dalam pengumpulan dukungan, persoalan daftar pemilih, dan netralitas penyelenggara.
Laporan itu ditindaklanjuti PWI Pusat dengan menurunkan tim untuk meminta klarifikasi di Aceh.
Nasir membantah tuduhan intimidasi. Ia menegaskan tidak pernah memaksa anggota memberikan dukungan kepada kandidat tertentu. Menurut dia, setiap anggota berhak menentukan pilihan secara bebas. Ia juga menyatakan menghormati proses evaluasi yang dilakukan PWI Pusat.
Hingga penelusuran ini dilakukan, belum diperoleh keputusan akhir PWI Pusat yang dipublikasikan mengenai seluruh keberatan tersebut.
Karena itu, Konferprov XIII bukan hanya menjadi arena perebutan kursi ketua, melainkan juga ujian bagi kedewasaan demokrasi internal organisasi wartawan tertua di Indonesia itu.
Konferprov PWI Aceh dijadwalkan berlangsung pada 20 - 22 November 2026 di Banda Aceh. Forum tersebut akan menentukan kepemimpinan PWI Aceh periode 2026 - 2031.
Nasir datang dengan pengalaman lima tahun memimpin, jaringan organisasi, dan dukungan anggota yang telah memenuhi persyaratan administrasi. Para pesaingnya juga memiliki kesempatan menawarkan arah kepemimpinan yang berbeda.
Pada akhirnya, dukungan yang mengalir menjadi modal, bukan jaminan kemenangan. Kepercayaan untuk memimpin periode kedua harus ditentukan melalui pemilihan yang terbuka, adil, dan dapat dipertanggungjawabkan.
Bagi Nasir, tantangannya bukan semata kembali menduduki kursi Ketua PWI Aceh. Ia juga harus meyakinkan anggota bahwa lima tahun berikutnya akan menghadirkan organisasi yang lebih kuat, mandiri, dan mampu menjaga martabat profesi wartawan.