Beranda / Berita / Aceh / Bupati Gorontalo dan Keluarga Bersuluk di Dayah Darul Ihsan Pawoh

Bupati Gorontalo dan Keluarga Bersuluk di Dayah Darul Ihsan Pawoh

Rabu, 28 April 2021 16:00 WIB

Font: Ukuran: - +

Foto: Ist.

DIALEKSIS.COM | Tapaktuan - Seperti kita ketahui bersama Labuhan Haji yang dipimpin oleh Abuya Syekh H. Amran Waly Al-khalidy (Pimpinan Majelis Pengkajian Tauhid Tasawuf Asia Tenggara) setiap bulan puasa mengadakan Suluk selama bulan ramadan. 

Tahun ini lebih dari 2000 orang telah hadir untuk mengikuti kegiatan Suluk, dari berbagai latar belakang mulai dari pejabat eksekutif seperti bupati, walikota, ada juga dari anggata DPR beberapa kabupaten/kota yang hadir, kalangan pengusaha, para birokrat dan masyarakat biasa.

Kehadiran Bupati Gorontalo Prof. Dr. Ir. H. Nelson Pomalingo, M.Pd disambut hangat oleh Bupati Aceh Barat H. Ramli MS. Hadir dua orang bupati, satu dari Indonesia Timur dan satu dari Indonesia barat, Untuk mengikuti ritual Suluk di Dayah Abuya Syekh H. Amran Waly Al-khalidy. 

Bukan hanya bupati saja, ia juga mengajak keluarga serta seluruh stafnya untuk mengikuti Suluk tahun ini. Tentu Bupati Gorontalo jauh datang dari timur menempuh perjalanan berjam-jam melalui udara dengan tujuan ingin melihat dan merasakan langsung bagaimana Suluk di Aceh, khususnya Suluk di Dayah Darul Ihsan Pawoh tahun ini. 

Bupati Gorontalo mengatakan bahwa MPTT tidak hanya mengajarkan ilmu, tapi juga melatih pengamalan hingga memperoleh rasa dalam ibadah. Tauhid tasawuf adalah satu jalan untuk mendapatkan kemanisan dalam beragama.

Ia juga di percaya sebagai penasehat MPTT di Wilayah Indonesia Timur yang telah berjanji akan membuat 19 buah posko MPTT I di seluruh daerah yang ada di Kota Gorontalo. 

Bupati Gorontalo juga berbagi pengalaman selama hampir satu tahun mengikuti MPTT.

"Banyak sekali manfaat dan berbagai kemudahan yang saya dapati selama mengikuti ajaran tauhid tasawuf, terasa manis dalam beragama, tenang dalam menghadapi berbagai cobaan dan problematika dalam kehidupan," katanya.

Ia salut dan kagum kepada sosok Abuya yang bukan hanya seorang ulama tapi juga pengamal bahkan juga penulis yang begitu banyak karya buku dan makalah.

"Makalah yang dituliskan sangat bagus dan bermanfaat untuk kita pelajari dan amalkan. Saya saja sebagai seorang akademisi sudah Professor tidak mampu membuat karya seperti tulisan Abuya. Itu sebagai tanda kasih sayang Abuya kepada umat, agar umat ini juga merasakan manfaat dari ajaran yang mulia ini yang dapat membawa keselamatan dan kesejahteraan dunia dan akhirat," jelasnya.

”Abuya ini adalah ulama ummat yang tidak menginginkan keselamatan untuk dirinya saja, tapi juga keselamatan untuk ummat seluruhnya. Sebab membangun fisik itu adalah urusan yang gampang, ada uang tinggal dibangun, tapi membangun hati manusia butuh proses tiada lain adalah melalui ajaran tasawuf kesufian. Di MPTT I ini kita disatukan tidak membedakan aliran, saya dari tokoh Muhammadiyah dapat merasakan kemanisan beragama melalui MPTT,” ujar Nelson.

Ia sangat bersyukur dan berterima kasih kepada Abuya dan masyarakat Aceh yang telah membuat muzakarah tauhid tasawuf Asia Tenggara dua kali di Kota Gorontalo yang banyak memberikan ilmu dan inspirasi.

“Kami dari Gorontalo yang dijuluki Serambi Madinah dan Aceh sebagai Serambi Mekkah dapat dipertautkan untuk peradaban dan kemajuan Islam akan datang,” ungkap mantan Rektor universitas Muhammadiyah kota Gorontalo.[rls]

Keyword:


Editor :
Indri

riset-JSI
Komentar Anda