Minggu, 17 Mei 2026
Beranda / Berita / Aceh / BMKG Ingatkan Potensi Banjir Rob di Pesisir Lhokseumawe 1-4 April 2026

BMKG Ingatkan Potensi Banjir Rob di Pesisir Lhokseumawe 1-4 April 2026

Selasa, 31 Maret 2026 23:30 WIB

Font: Ukuran: - +

Reporter : Naufal Habibi

Ilustrasi banjir rob yang berpotensi mengancam perairan Aceh, khususnya wilayah Lhokseumawe. [Foto: Naufal Habibi/dialeksis.com]


DIALEKSIS.COM | Lhokseumawe - Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) mengeluarkan peringatan dini terkait potensi banjir pesisir atau rob yang diperkirakan terjadi di sejumlah wilayah pesisir Indonesia pada periode 28 Maret hingga 16 April 2026.

Fenomena ini dipicu oleh fase bulan purnama yang diprediksi terjadi pada 2 April 2026, yang berpotensi meningkatkan ketinggian muka air laut.

Wilayah pesisir Aceh menjadi salah satu kawasan yang masuk dalam daftar daerah yang perlu meningkatkan kewaspadaan. Berdasarkan informasi yang dirilis melalui akun Instagram resmi BMKG, @infobmkg, banjir rob berpotensi terjadi di pesisir Lhokseumawe pada 1 hingga 4 April 2026.

Prakirawan dari BMKG Stasiun Meteorologi Kelas I Sultan Iskandar Muda Banda Aceh, Fitriana Nur, menjelaskan bahwa fenomena astronomi berupa fase bulan purnama menjadi salah satu faktor utama yang dapat memicu kenaikan muka air laut maksimum.

Menurutnya, kondisi tersebut dapat meningkatkan potensi pasang maksimum air laut di sejumlah wilayah pesisir, termasuk di Aceh.

Oleh karena itu, masyarakat yang beraktivitas di kawasan pesisir diminta untuk meningkatkan kewaspadaan terhadap kemungkinan terjadinya banjir rob.

“Fenomena fase bulan purnama pada 2 April 2026 berpotensi meningkatkan ketinggian muka air laut maksimum. Berdasarkan hasil pemantauan data water level dan prediksi pasang surut, terdapat potensi banjir pesisir di beberapa wilayah Indonesia, termasuk pesisir Aceh,” ujar Fitriana kepada media dialeksis.com, Selasa (31/3/2026).

BMKG mengingatkan bahwa banjir rob merupakan fenomena yang terjadi akibat pasang maksimum air laut yang meluap hingga ke daratan di wilayah pesisir. Kondisi ini sering kali dipengaruhi oleh faktor astronomis seperti fase bulan, serta dinamika pasang surut air laut.

Fitriana menambahkan, meskipun banjir rob umumnya tidak berlangsung lama, dampaknya dapat mengganggu berbagai aktivitas masyarakat yang berada di kawasan pesisir.

“Potensi banjir pesisir ini secara umum dapat berdampak pada aktivitas masyarakat di sekitar pelabuhan dan pesisir, seperti kegiatan bongkar muat di pelabuhan, aktivitas pemukiman masyarakat pesisir, serta kegiatan tambak garam dan perikanan darat,” jelasnya.

Selain itu, genangan air laut juga berpotensi mengganggu akses transportasi di kawasan pesisir dan menimbulkan kerugian bagi masyarakat yang menggantungkan aktivitas ekonominya pada sektor kelautan dan perikanan.

Karena itu, BMKG mengimbau masyarakat yang tinggal dan beraktivitas di wilayah pesisir untuk selalu memantau perkembangan informasi cuaca dan kondisi maritim yang dikeluarkan secara resmi oleh BMKG.

“Masyarakat dihimbau untuk selalu waspada dan siaga dalam mengantisipasi dampak dari pasang maksimum air laut serta terus memperhatikan pembaruan informasi cuaca maritim dari BMKG,” tutup Fitriana.

Keyword:


Editor :
Redaksi

riset-JSI