Beranda / Berita / Aceh / Bimbingan dan Konseling Sering Terabaikan dalam Pendidikan Aceh

Bimbingan dan Konseling Sering Terabaikan dalam Pendidikan Aceh

Selasa, 10 Desember 2019 22:02 WIB

Font: Ukuran: - +

Drs Syaiful Bahri, M. Pd (kanan) dan Dr Safrilsyah, S Ag M Si (kiri) sedang mengisi Seminar Hasil Monitoring Isu-isu Pendidikan Aceh, Selasa (10/12/2019) di Hotel Alhanifi, Banda Aceh. Foto: IST


DIALEKSIS.COM | Banda Aceh - Banyak sekolah dan pembuat kebijakan pendidikan di Aceh mengabaikan pentingnya peran guru bimbingan dan konseling dalam memotivasi dan membentuk karakter anak didik. Hal demikian disampaikan Anggota Majelis Pendisikan Aceh (MPA), Drs. Syaiful Bahri, M.Pd dalam Seminar Hasil Monitoring Isu-isu Pendidikan Aceh, Selasa (10/12/2019) di Hotel Alhanifi, Banda Aceh.

Seminar yang dibuka Ketua MPA Prof. Abdi A. Wahab tersebut menghadirkan dua narasumber, yaitu Drs. Syaiful Bahri, M.Pd, anggota MPA sekaligus dosen Bimbingan dan Konseling (BK) FKIP Unsyiah dan Dr. Syafrilsyah, S Ag M Si, dosen Fakultas Tarbiyah, UIN Ar-Raniry.

"Ada kesalahpahaman tentang guru BK selama ini. Guru BK dipandang sebagai guru yang menyelesaikan masalah-masalah anak-anak yang tidak disiplin, padahal guru BK mempunyai peran besar dalam membentuk karakter anak-anak didik, tidak sebatas mengatasi masalah anak nakal, melainkan perannya sangat krusial dalam membimbing anak didik agar sukses dalam belajar," kata Syaiful.

Ia menambahkan, peran guru BK sangat erat hubungannya dengan pembinaan karakter, termasuk untuk anak-anak yang bermasalah di sekolah. Namun, banyak sekolah kekurangan guru BK dan fasilitas yang dapat digunakan untuk bimbingan dan konseling juga masih minim. 

Selain itu, katanya guru BK sendiri selain jumlanya minim, sebagian mereka juga tidak melaksanakan tugas secara aktif sehingga bimbingan dan konseling kurang efektif.

"Misalnya, sebagian guru BK tidak membuat rumusan instrumen yang diperlukan. Konseling yang semestinya berlangsung dua arah, tapi lebih sering dilangsungkan secara individual dan searah," tambahnya.

Nadiya, seorang guru BK pada MAN 3 Banda Aceh yang menjadi peserta seminar menyampaikan bahwa ia adalah satu-satunya guru BK di MAN tersebut dan terpaksa melayani hingga 500 siswa, padahal menurut ketentuan semestinya maksimum yang dilayani adalah 150 siswa. Ia juga menegaskan apa yang disampaikan oleh Syaiful bahwa ada guru BK di beberapa sekolah/madrasah yang tidak mempunyai latar belakang kompetensi sebagai guru BK, sehingga bimbingan dan konseling tidak berlangsung sebagaimana mestinya.

"Guru BK semestinya menjadi teman siswa dan menjadi leader panutan bagi siswa. Selain itu, profesionalisme guru BK sangat menentukan keberhasilan anak didik. Bimbingan sangat penting dalam era destruksi dan era Industri 4.0 sekarang ini," tandas Dr. Safrilsyah sebagai narasumber kedua.

Ia juga menyorot aksesibilitas anak-anak terhadap teknologi informasi dewasa ini, menurutnya bukan untuk dihambat, tapi untuk dibimbing sehingga generasi milenial yang terekspos dengan perkembangan informasi yang sangat dinamis, tidak terjerumus kepada hal-hal negatif. Anak didik harus diarahkan memanfaatkan teknologi untuk hal-hal positif.

"Penggunaan gawai sebenarnya bukan untuk dilarang, karena pembatasan penggunaan di sekolah atau satuan pendidikan, tidak serta merta mereka tidak dapat mengakses informasi melalui internet di tempat lain, tetapi karena kurang bimbingan, maka yang sering muncul ke permukaan adalah hal-hal negatif saja, padahal banyak informasi positif juga dari internet", ujarnya. 

Seminar tersebut juga dihadiri Wakil Ketua MPA, Ir. T. Said Mustafa, Dr. Anas M. Adam, Kepala BPSDM, Drs Syaridin, para anggota MPA, unsur-unsur instansi terkait, serta para kepala sekolah dan guru SMA, MA dan SMK se Banda Aceh dan Aceh Besar. (rls/sm)

Keyword:


Editor :
Im Dalisah

riset-JSI
Komentar Anda