Beranda / Berita / Aceh / Berbagai Kisah di AJI Banda Aceh: Dibalik Produksi 'Dirty Vote' bersama Sutradara dan Videografer

Berbagai Kisah di AJI Banda Aceh: Dibalik Produksi 'Dirty Vote' bersama Sutradara dan Videografer

Minggu, 03 Maret 2024 10:00 WIB

Font: Ukuran: - +

Dandhy Dwi Laksono bersama para awak media di Kantor AJI Kota Banda Aceh. Foto: AJI Banda Aceh/Suparta Arz


DIALEKSIS.COM | Banda Aceh - Sutradara dokumenter "Dirty Vote", Dandhy Dwi Laksono, bersama dengan videografer Yusuf Priambodo, membagikan kisah menarik di balik layar proses produksi film yang mengungkap dugaan skenario kecurangan Pilpres 2024. Diskusi yang berjudul ‘Setelah Dirty Vote’ berlangsung di Kantor Aliansi Jurnalis Independen (AJI) Banda Aceh pada Sabtu (2/3/2024) malam.

Diskusi yang dimulai sekitar pukul 20.30 WIB tersebut menarik perhatian puluhan peserta yang memadati halaman sekretariat AJI Banda Aceh di Jalan Angsa, Gampong Batoh, Kecamatan Lueng Bata, Kota Banda Aceh.

Ketua AJI Banda Aceh, Juli Amin, mengatakan kehadiran Dandhy dan Yusuf sangat dinantikan untuk menjawab banyak pertanyaan yang muncul setelah menyaksikan "Dirty Vote", sebuah film yang dirilis pada masa tenang Pemilu 2024 dan langsung menciptakan gebrakan.

Dandhy menceritakan bahwa mereka hanya memiliki waktu tiga pekan mulai dari perencanaan hingga penayangan di kanal YouTube untuk memproduksi "Dirty Vote". "Ada keajaiban di situ," kata Dandhy.

Selain itu, faktor keberhasilan lainnya adalah ketiga narasumber dalam film tersebut, Bivitri Susanti, Zainal Arifin Muchtar, dan Feri Amsari, yang sebelumnya telah menjadi figur utama di media massa. Hal ini membuat Dandhy tidak mengalami kesulitan berimprovisasi dalam cara mereka bercerita.

Dandhy menekankan bahwa konsep yang rumit dalam ilmu hukum dijelaskan dalam bahasa yang sederhana agar dapat dimengerti oleh masyarakat umum.

Lebih lanjut, Dandhy menyebutkan ada tiga faktor penting yang menyebabkan dokumenter yang berdurasi hampir dua jam tersebut sukses diproduksi dalam waktu kurang dari sebulan. "Pertama, kru yang sudah siap dan terlatih, kedua, narasumber yang terbiasa berbicara di depan kamera, dan ketiga, momentum Pemilu yang membuat orang-orang lebih terbuka untuk berbicara tentang politik," katanya.

Dandhy juga mengungkapkan bahwa sejak awal, mereka sudah memperkirakan apakah film tersebut akan menjadi viral atau tidak, dan hasilnya seimbang atau 50-50 karena diunggah di kanal YouTube yang baru tanpa memiliki pengikut. Promosi pun dilakukan hanya satu hari sebelum penayangan.

Di samping itu, Yusuf Priambodo juga membagikan pengalamannya terlibat dalam produksi "Dirty Vote". Ia baru saja menyelesaikan Ekspedisi Indonesia Baru, sebuah perjalanan keliling Indonesia dengan sepeda motor bersama Dandhy, Farid Gaban, dan Benaya Ryamizard Harobu.

Keyword:


Editor :
Redaksi

riset-JSI
Komentar Anda