Beranda / Berita / Aceh / Banjir Tahunan di Aceh Utara dan Aceh Timur, Ini Saran Pakar

Banjir Tahunan di Aceh Utara dan Aceh Timur, Ini Saran Pakar

Rabu, 09 Desember 2020 14:30 WIB

Font: Ukuran: - +

Reporter : Roni
Pakar Analisis Dampak Lingkungan, Yeggi Darnas. [IST]

DIALEKSIS.COM | Banda Aceh - Banjir di Utara dan Aceh Timur dalam sepekan terakhir menyebabkan ribuan warga mengungsi, putusnya akses jalan dan jembatan serta beberapa orang dinyatakan meninggal akibat terseret arus.

Menanggapi hal itu, Pakar Analisis Dampak Lingkungan, Yeggi Darnas mengatakan, banjir tahunan yang menyambangi Aceh Utara, Aceh Timur dan beberapa daerah lainnya di Aceh ini akibat kondisi peralihan fungsi lahan. Hal ini menyebabkan rendahnya daya hisap air ke dalam tanah.

"Hutan di sana sudah pada habis, WALHI Aceh pernah sampaikan sudah 50 persen hutan lindung sudah hampir habis. Otomatis kalau tidak ada hutan di situ, tidak ada yang berfungsi menahan air hujan dengan intensitas tinggi," jelas Yeggi saat dihubungi Dialeksis.com, Rabu (9/12/2020).

Alumnus Magister Teknik Lingkungan ITB itu menyampaikan, agar dampak banjir ini dapat diminimalisir, masyarakat minimal sudah mulailah membuat resapan air seperti biopori atau sumur resapan.

"Kemudian upaya menjaga lingkungan itu harus terus digencarkan. Jangan buang sampah sembarangan sehingga saluran-saluran air atau selokan bisa berfungsi menyalurkan air hujan dan dapat meresepkan air ke dalam tanah," jelas Yeggi.

Selain itu, ia juga berharap pemerintah harus berupaya mengembalikan fungsi lahan seperti dengan menanam kembali pohon misalnya melalui program hutan produksi dan sebagainya.

"Hutan-hutan yang sudah gundul bisa ditanami kembali pohon-pohon misal pohon jati atau apapun itu. Kalau nanti misalnya ada hutan produksi ya ditanam, sudah direncanakan kapan dipanen," jelas Yeggi.

"Jangan sampai semua sekalian dibabat seperti yang terjadi selama ini. Jadi nggak ada lagi fungsi lahan untuk menghindari erosi di pegunungan atau daerah-daerah yang jadi langganan banjir tahunan," pungkasnya.

Keyword:


Editor :
Sara Masroni

riset-JSI
Komentar Anda