DIALEKSIS.COM| Pidie Jaya – Hujan yang mengguyur Aceh telah menyebabkan banyak kawasan kembali dilanda banjir, banjir bandang dan tanah longsor. Musibah banjir 25 November 2025 lalu, penanganganya masih belum normal.
Ketika hujan kembali mengguyur bumi, perumahan penduduk kembali terendam, jembatan dilarikan air, aksses jalan terputus, antrian panjang masih terlihat di beberapa titik.
Melihat amukan alam kembali terjadi, Komandan Korem (Danrem) 011/Lilawangsa, Brigjen TNI Ali Imran, mengerahkan personel TNI dari Kodim 0102/Pidie dan Yon TP 857/GS ke Kabupaten Pidie Jaya pada Rabu (8/4/2026) malam.
13 desa di dua kecamatan di kabupaten ini terendam banjir dengan ketinggian air mencapai 40 hingga 70 centimeter.
Banjir mulai menggenangi pemukiman warga sekitar pukul 20.00 WIB, akibat tingginya intensitas curah hujan, sungai meluap. Selain merendam rumah warga di Kecamatan Meureudu dan Meurah Dua, air juga menggenangi jalan lintas nasional Medan-Banda Aceh.
Brigjen TNI Ali Imran dalam keteranganya kepada media menjelasakan, titik terparah berada di Desa Meunasah Krueng, Kecamatan Meureudu.
"Jalan lintas Medan-Banda Aceh di lokasi tersebut ketika itu belum bisa dilewati kendaraan roda 2 dan roda 4. Namun, truk dan mobil besar masih dapat melintas," jelas Danrem, Rabu (8/4/2026) malam.
Saat ini, kata Danrem Brigjen TNI Ali Imran, personel TNI telah bersiaga di lokasi untuk mengatur arus lalu lintas. Membersihkan material banjir, dan memantau debit air secara berkala guna mengantisipasi potensi cuaca ekstrem susulan, terangnya.
Sementara itu, Dandim 0102/Pidie, Letkol Inf Abdul Hadi, mengimbau masyarakat untuk tetap waspada dan mencari tempat yang lebih aman jika debit air terus meningkat. Meski tidak ada korban jiwa, tim gabungan TNI-Polri dan SAR tetap disiagakan di titik-titik rawan.
Letkol Inf Abdul Hadi menjelaskan, bahwa banjir dipicu oleh pendangkalan sungai (sedimen lumpur) pascabanjir bandang sebelumnya, sehingga Krueng Meureudu tidak mampu menampung volume air hujan dari pegunungan.
"Pemerintah perlu segera melakukan normalisasi sungai, menutup aliran sungai baru, serta membersihkan saluran air dan sisa lumpur di area permukiman," tegasnya.
Kini perlahan-lahan air mulai surut. Dua kecematan yang terendam banjir itu; Kecamatan Meurah Dua: Desa Pante Beurne ketinggian air mencapai 70 cm. Dayah Husen (50 cm), Meunasah Mancang (50 cm), Meunasah Raya (70 cm), Meunasah Bie (50 cm), Beuringin (60 cm), dan Geunteng (60 cm).
Kecamatan Meureudu: Desa Meunasah Lhok (70 cm), Beurawang (60 cm), Mayang Cut (50 cm), Meunasah Krueng (70 cm), Manyang Lancok (50 cm), dan Masjid Tuha (40 cm).
Pihak TNI yang berjaga dilapangan dibantu aparatur pemerintah, TNI dan Polri serta masyarakat, senantiasa siaga dilapangan memantau keadaan, mengantisipasi kenaikan air jika hujan kembali mengguyur bumi.