Minggu, 17 Mei 2026
Beranda / Berita / Aceh / Arus Lebaran 2026 Meningkat, Dishub Aceh Catat 201 Ribu Kendaraan Melintas di Tol Sibanceh

Arus Lebaran 2026 Meningkat, Dishub Aceh Catat 201 Ribu Kendaraan Melintas di Tol Sibanceh

Senin, 30 Maret 2026 22:00 WIB

Font: Ukuran: - +

Reporter : Naufal Habibi

Konferensi pers bersama terkait evaluasi angkutan Lebaran 2026 yang digelar di Banda Aceh, Senin (30/3/2026).[Foto: Naufal Habibi/dialeksis.com]


DIALEKSIS.COM | Banda Aceh - Mobilitas masyarakat Aceh selama arus mudik dan arus balik Idul Fitri 1447 Hijriah atau Lebaran 2026 menunjukkan peningkatan signifikan. Ruas Jalan Tol Sigli-Banda Aceh (Sibanceh) mencatat pergerakan kendaraan mencapai 201.670 unit sepanjang periode angkutan lebaran tahun ini.

Lonjakan tersebut tidak terlepas dari semakin terbukanya akses jalan tol hingga kawasan Padang Tiji, yang membuat konektivitas menuju Banda Aceh semakin cepat dan efisien. Kemudahan akses ini mendorong meningkatnya arus perjalanan masyarakat, baik untuk keperluan mudik, silaturahmi keluarga, maupun kunjungan wisata ke berbagai daerah di Aceh.

Data operator tol menunjukkan bahwa puncak pergerakan kendaraan terjadi pada 24 Maret 2026, dengan total 18.058 kendaraan melintas dalam satu hari. Sementara itu, Gerbang Tol Padang Tiji menjadi titik tersibuk selama periode Lebaran dengan total 87.780 kendaraan yang keluar-masuk melalui gerbang tersebut.

Secara keseluruhan, volume lalu lintas di Tol Sibanceh meningkat sekitar 20 persen dibandingkan periode Lebaran tahun sebelumnya.

Kepala Dinas Perhubungan Aceh, Teuku Faisal, mengatakan tingginya mobilitas kendaraan selama masa mudik dan arus balik menunjukkan semakin dinamisnya pergerakan masyarakat, terutama dengan dukungan infrastruktur jalan tol yang terus berkembang.

“Pergerakan kendaraan pada masa mudik dan arus balik Lebaran tahun ini sangat tinggi. Kehadiran jalan tol sangat membantu distribusi perjalanan masyarakat sehingga arus lalu lintas dapat terurai dengan lebih baik,” ujar Faisal dalam konferensi pers bersama sejumlah instansi terkait di Banda Aceh, Senin (30/3/2026).

Konferensi pers tersebut turut dihadiri Direktur Lalu Lintas Polda Aceh, Kepala Jasa Raharja Kanwil Aceh, Kepala Balai Pengelola Transportasi Darat (BPTD) Aceh, Kepala Balai Pelaksanaan Jalan Nasional (BPJN) Aceh, General Manager ASDP Banda Aceh, serta General Manager Angkasa Pura Bandara Sultan Iskandar Muda.

Selain kendaraan pribadi yang memadati jalan tol, mobilitas masyarakat juga terlihat tinggi pada seluruh moda transportasi, mulai dari angkutan darat, laut, hingga udara.

Pada sektor angkutan darat, total pergerakan penumpang tercatat mencapai 107.648 orang, atau meningkat 15,4 persen dibandingkan tahun sebelumnya. Puncak pergerakan terjadi pada 17 Maret 2026 dengan jumlah 9.285 penumpang.

Pergerakan penumpang tersebut dilayani melalui sejumlah terminal tipe A, yaitu Terminal Batoh Banda Aceh, Terminal Lhokseumawe, Terminal Paya Ilang Takengon, Terminal Langsa, dan Terminal Meulaboh. Selain itu, terminal tipe B juga turut melayani mobilitas masyarakat, di antaranya Terminal Sigli, Aceh Tamiang, Calang, Aceh Barat Daya, Aceh Selatan, Aceh Singkil, Bireuen, serta Terminal L300 Lueng Bata.

Di sektor angkutan laut, jumlah penumpang tercatat mencapai 65.703 orang. Puncak arus terjadi pada 28 Maret 2026 dengan 7.414 penumpang.

Pergerakan ini dilayani melalui sejumlah pelabuhan penyeberangan seperti Ulee Lheue, Balohan Sabang, Lamteng Aceh Jaya, Calang, Labuhan Haji, Sinabang, Singkil, serta Pulau Banyak. Beberapa lintasan utama yang ramai dilalui penumpang antara lain Ulee Lheue“Balohan, Calang“Sinabang, serta Singkil“Pulau Banyak.

Sementara itu, pada angkutan udara, total pergerakan penumpang mencapai 40.887 orang, meningkat sekitar 2,4 persen dibandingkan tahun lalu. Puncak arus penumpang terjadi pada 14 Maret 2026 dengan jumlah 3.071 orang.

Pergerakan ini dilayani melalui sejumlah bandara di Aceh, yakni Bandara Sultan Iskandar Muda, Bandara Malikussaleh Lhokseumawe, Bandara Rembele Bener Meriah, Bandara Cut Nyak Dhien Nagan Raya, serta Bandara Lasikin Simeulue, termasuk dukungan bandara-bandara perintis.

Menurut Faisal, tingginya mobilitas tersebut menunjukkan bahwa perjalanan masyarakat selama Lebaran tidak hanya bergantung pada kendaraan pribadi, tetapi juga didukung oleh tingginya penggunaan transportasi umum di berbagai moda.

“Ini menunjukkan mobilitas masyarakat selama Lebaran tidak hanya didominasi kendaraan pribadi, tetapi juga didukung oleh angkutan umum di semua moda yang tetap tinggi,” kata Faisal.

Ia menambahkan, angka pergerakan tersebut bahkan diperkirakan jauh lebih besar jika dihitung secara keseluruhan dengan pengguna kendaraan pribadi di berbagai ruas jalan nasional dan provinsi.

“Jika dihitung secara keseluruhan, termasuk kendaraan pribadi di jalan tol maupun ruas lainnya, maka jumlah orang yang melakukan perjalanan dipastikan jauh lebih besar dari data angkutan umum yang tercatat,” ujarnya.

Sementara itu, Kepala Dinas Perhubungan Aceh juga menyampaikan apresiasi kepada seluruh pihak yang terlibat dalam menyukseskan penyelenggaraan angkutan Lebaran tahun ini.

Ia menyebut sinergi antara pemerintah daerah, kepolisian, Jasa Raharja, Balai Pengelola Transportasi Darat Aceh, Balai Pelaksanaan Jalan Nasional Aceh, ASDP, serta Angkasa Pura menjadi faktor penting dalam menjaga kelancaran mobilitas masyarakat.

“Terima kasih kepada seluruh pihak yang telah bekerja sama sehingga arus mudik dan arus balik Lebaran di Aceh dapat berjalan dengan aman, tertib, dan lancar,” ujar Faisal.

Sementara itu, Direktur Lalu Lintas Polda Aceh, Kombes Pol Deden Supriyatna Imhar, mengatakan pihak kepolisian telah melakukan berbagai langkah pengamanan dan rekayasa lalu lintas selama masa arus mudik dan arus balik Lebaran.

Salah satu titik yang menjadi perhatian utama adalah kawasan Kuta Blang, Kabupaten Bireuen, yang sejak awal diprediksi mengalami kepadatan lalu lintas cukup tinggi. Hal ini dipengaruhi oleh tingginya volume kendaraan serta adanya pekerjaan perbaikan jembatan di kawasan tersebut.

“Sejak arus mudik, Kuta Blang menjadi perhatian karena volume kendaraan cukup tinggi, bahkan lebih besar dari arah Banda Aceh menuju Medan. Saat arus balik, personel kami masih tetap standby di lokasi untuk memastikan kelancaran lalu lintas,” ujar Deden.

Ia juga mengungkapkan bahwa angka kecelakaan lalu lintas selama periode angkutan Lebaran tahun ini mengalami penurunan signifikan. Jika pada tahun lalu tercatat 73 kasus kecelakaan, maka pada tahun ini jumlahnya turun menjadi 47 kasus.

Meski demikian, tingkat fatalitas korban justru mengalami peningkatan. Tahun ini tercatat 20 orang meninggal dunia, meningkat dibandingkan tahun sebelumnya yang mencatat 15 korban jiwa.

“Beberapa faktor penyebab di antaranya kehilangan kendali saat berkendara, tidak menggunakan helm, serta berkendara dengan kecepatan tinggi,” jelasnya.

Deden menambahkan, sejumlah daerah yang menjadi titik rawan kecelakaan antara lain Banda Aceh, Aceh Jaya, dan Aceh Timur. Bahkan di Aceh Tenggara, yang sebelumnya tidak masuk kategori daerah rawan kecelakaan, tercatat dua korban meninggal dunia selama periode angkutan Lebaran.

Pihak kepolisian, kata dia, akan terus menyiagakan personel di berbagai titik rawan hingga arus balik benar-benar berakhir dan kondisi lalu lintas kembali normal.[nh]

Keyword:


Editor :
Indri

riset-JSI