Beranda / Berita / Aceh / Akademisi Dr T Saiful: Konsep Ketahanan Pangan di Masa Pandemi

Akademisi Dr T Saiful: Konsep Ketahanan Pangan di Masa Pandemi

Sabtu, 17 Juli 2021 16:00 WIB

Font: Ukuran: - +

Reporter : akhyar

Akademisi Fakultas Pertanian Universitas Syiah Kuala (USK) Banda Aceh dan Ketua Perhimpunan Ekonomi Pertanian Indonesia (PERHEPI) Aceh, Dr T Saiful Bahri. [Foto: Ist]


DIALEKSIS.COM | Banda Aceh - Akademisi Fakultas Pertanian Universitas Syiah Kuala (USK) Banda Aceh dan Ketua Perhimpunan Ekonomi Pertanian Indonesia (PERHEPI) Aceh, Dr T Saiful Bahri mengatakan, di era pandemi Covid-19 ini memberikan dampak pada gangguan yang serius pada rantai pasok pangan. Dimana terjadinya penurunan harga komoditas pertanian yang diakibatkan oleh turunnya permintaan.

Ia mengatakan, turunnya permintaan ini berkaitan dengan berkurangnya kegiatan masyarakat. Banyak sekali sektor kuliner yang tidak menjalankan bisnisnya atau mengurangi jam kerja bisnisnya baik karena penurunan permintaan dan juga oleh kebijakan PPKM Mikro yang sedang diberlakukan oleh pemerintah.

"Penurunan harga komoditas pertanian tentu berdampak buruk bagi kesejahteraan petani. Ketika produksi pertanian terus berjalan, sedangkan permintaan di pasar turun, akan terjadi over supply sehingga harga komoditas akan turun drastis. Turunnya harga tersebut akan membuat para petani mengurangi produksinya karena merugi," kata Dr T Saiful Bahri, Banda Aceh, Sabtu (17/7/2021).

Ia melanjutkan, jika hal tersebut tidak segera diatasi, maka di kemudian hari ketika pandemi mencapai titik akhir akan terjadi kelangkaan bahan pangan karena petani yang terus mengurangi produksinya.

Disisi lain, lanjutnya, bila petani mengurangi ataupun menghentikan produksinya akan berdampak pada berkurangnya pangan yang tersedia di pasar yang pada ujungnya akan berakibat pada kelangkaan dan tidak terpenuhinya pangan bagi masyarakat. Berkaitan hal tersebut perlu dilakukan beberapa hal oleh pemangku kepentingan terutama sektor pemerintahan.

Apa saja kebijakan yang diperlukan?

Dr T Saiful Bahri mengatakan, salah satu caranya adalah menjaga kelancaran distribusi bahan pangan. Pemerintah harus menjamin kelancaran distribusi bahan pangan ke seluruh daerah meskipun sedang dilakukan PPKM, perlu pemetaan ulang stok-stok komoditas pada masing-masing daerah guna memetakan arah pendistribusian pangan.

"Pemetaan dapat dilakukan mulai tingkat kabupaten/kota dan apa saja komoditas yang dihasilkan serta perhitungan kebutuhan pangan masing-masing penduduk di daerah. Pemetaan terhadap daerah yang menjadi kantong kantong produksi perlu ditinjau kembali dan dioptimalkan perannya untuk mencukupi ketersediaan bahan pangan bagi daerah sekitarnya yang rawan pangan," ungkapnya.

Selain itu, Ketua PERHAPI Aceh itu mengimbau agar perlu ada perubahan dalam usaha komoditas dengan menyesuaikan keadaan pandemi terutama kondisi pasar. 

"Komoditas yang permintaannya berkurang digantikan dengan komoditas yang mempunyai prospek pasarnya lebih baik. Misalanya untuk segmen pasarnya hotel, restoran dan mall yang saat ini berkurang prospeknya, perlu beralih menjadi petani dengan komoditas yang pasarnya masih bagus, misalnya pasar tradisional karena segmen ini semua kalangan konsumen," jelasnya.

Selanjutnya, Dr T Saiful Bahri juga mengimbau agar perlu dijaga stabilitas harga komoditas pertanian agar harga komoditas tidak terlalu rendah akan tetapi harga yang adil dan terjangkau, sehingga petani akan bersedia untuk memproduksi.

"Melaksanakan kebijakan tersebut Pemerintah dapat bekerja sama dengan beberapa Lembaga Pembiayaan murah dan BUMG untuk membantu petani dalam penyediaan modal usaha, kemudian adanya koperasi yang dapat berperan dalam pemasann komditi, sehingga terciptanya suatu ekosistem system penyediaan dan distribusi komoditas yang lebih efektif dan efisien," tuturnya.

Saat ini, kata dia, pemasaran sudah perlu dikembangkan dengan mengikuti perkembangan industri informasi atau dikenal dengan revolusi industri 4.0. Dengan ini platform digital dalam pemasaran komoditas pertanian dapat dimanfaatkan untuk membantu petani dalam memasarkan hasil panennya.

"Dan tidak lupa juga bahwa perlu ada kemudahan akses petani terhadap faktor produksi seperti pupuk, benih dan saluran irigasi yang terus terjaga layanannya. Hal-hal tersebut dilakukan agar bagaimana kesejahteraan tetap terjaga dan bahan makanan tetap dapat terus diproduksi dengan mutu, jumlah dan harga harga yang adil dan terjangkau," pungkasnya. [akh]

Keyword:


Editor :
Alfatur

riset-JSI
Komentar Anda