Jum`at, 25 September 2026
Beranda / Sosok Kita / Jejak Sjamsul Kahar, Menjaga Api Pers Aceh dari Konflik hingga Tsunami

Jejak Sjamsul Kahar, Menjaga Api Pers Aceh dari Konflik hingga Tsunami

Jum`at, 25 September 2026 10:00 WIB

Font: Ukuran: - +

Reporter : Redaksi

Sosok almarhum H. Sjamsul Kahar. Foto: Desain AI Dialeksis


DIALEKSIS.COM | Banda Aceh - Mesin cetak boleh hancur. Kantor bisa porak-poranda. Tetapi berita tak boleh mati. Prinsip itu seperti menemukan bentuk paling nyata dalam perjalanan panjang H. Sjamsul Kahar. Ketika tsunami menghantam Aceh pada 26 Desember 2004, kantor dan mesin cetak Harian Serambi Indonesia ikut luluh lantak. Sejumlah pekerjanya menjadi korban. Koran itu pun berhenti terbit.

Namun hanya enam hari berselang, pada 1 Januari 2005, Serambi Indonesia kembali menemui pembacanya. Dengan sumber daya yang tersisa dan memanfaatkan mesin cetak di Lhokseumawe, koran tersebut kembali hidup ketika masyarakat Aceh justru sangat membutuhkan informasi.

Di balik keputusan untuk tidak membiarkan pers ikut terkubur bersama puing-puing tsunami itu terdapat nama Sjamsul Kahar.

Tokoh pers senior Aceh tersebut berpulang pada Kamis, 24 September 2026, pukul 02.20 WIB di Rumah Sakit Umum Daerah dr. Zainoel Abidin, Banda Aceh. Ia berusia 80 tahun. Sjamsul lahir di Sigli, Pidie, pada 9 Oktober 1945. Ia juga merupakan ayah Wakil Menteri Komunikasi dan Digital Nezar Patria.

Hasil riset digital Redaksi Dialeksis menunjukkan perjalanan Sjamsul Kahar bukan sekadar riwayat seorang pemimpin perusahaan pers. Jejak hidupnya berkelindan dengan sejarah perkembangan jurnalistik Aceh: dari era koran cetak, tekanan konflik bersenjata, tsunami, hingga perubahan media memasuki era digital.


Dari Kompas Menuju Serambi

Sebelum namanya lekat dengan Serambi Indonesia, Sjamsul Kahar telah lama menekuni dunia jurnalistik. Ia tercatat menjadi wartawan Kompas untuk wilayah Aceh sejak 1977 dan dikenal menggunakan inisial SJK dalam karya-karyanya.

Penelusuran terhadap sejumlah catatan yang merujuk Pusat Informasi Kompas menyebut sedikitnya 1.146 karya jurnalistik Sjamsul Kahar terdokumentasi dalam rentang 22 Maret 1980 hingga 26 November 2000. Jumlah itu memperlihatkan panjangnya rekam kerja Sjamsul sebagai wartawan lapangan sebelum dan ketika membangun media di daerah.

Babak penting berikutnya datang ketika Sjamsul bersama sahabatnya, M. Nourhalidyn, merintis sebuah surat kabar harian di Aceh.

Cikal bakalnya berasal dari Mimbar Swadaya, media mingguan yang dipimpin Nourhalidyn. Pada 9 Februari 1989, media tersebut bertransformasi menjadi Harian Serambi Indonesia. M. Nourhalidyn menjadi Pemimpin Umum, sedangkan Sjamsul Kahar dipercaya sebagai Pemimpin Redaksi pertama.

Proses kelahirannya bukan perjalanan sederhana. Berdasarkan sejumlah catatan sejarah, termasuk buku Perjalanan di Lintas Sejarah: 20 Tahun Serambi Indonesia, gagasan membangun surat kabar harian di Aceh melibatkan komunikasi Sjamsul Kahar dengan Pemimpin Harian Kompas Jakob Oetama dan Gubernur Aceh ketika itu, Ibrahim Hasan.

Sjamsul menjadi salah satu penghubung penting antara gagasan pers daerah, dukungan pemerintah Aceh, dan pengalaman manajemen media Kompas. Pertemuan antara Ibrahim Hasan dan Jakob Oetama kemudian menjadi salah satu titik penting dalam proses kelahiran Serambi Indonesia.

Dari sebuah koran daerah, Serambi Indonesia kemudian tumbuh menjadi salah satu institusi pers yang paling lama bertahan dan berpengaruh dalam lanskap media Aceh.


Bekerja di Tengah Konflik

Menjadi wartawan di Aceh pada masa konflik bukan pekerjaan tanpa risiko, Sjamsul mengalaminya sendiri. Committee to Protect Journalists (CPJ) mencatat pada 10 Agustus 1999 sekitar pukul 02.00 dini hari, orang tak dikenal melemparkan dua bom molotov ke rumah Sjamsul Kahar di Banda Aceh. Mobilnya terbakar dan bagian luar rumah mengalami kerusakan.

Ketika serangan terjadi, Sjamsul tengah berada di kantor Serambi Indonesia. Tidak ada korban dalam peristiwa tersebut. CPJ juga mencatat Sjamsul ketika itu mengaku telah berulang kali menerima ancaman kematian di tengah meningkatnya konflik di Aceh. Saat itu ia menjabat Pemimpin Redaksi Serambi Indonesia sekaligus Ketua PWI Aceh.

Tekanan tersebut menjadi gambaran betapa tipisnya ruang aman bagi pers ketika konflik sedang memuncak. Media harus memberitakan keadaan di tengah dua kekuatan yang sama-sama mengawasi pemberitaan.

Tak sampai disitu saja, pengabdian Sjamsul tidak berhenti di ruang redaksi. Ia pernah diberikan percayaan dalam pengabdian menjadi ketua PWI Aceh selama tiga periode. 

Ia dipercaya memimpin Persatuan Wartawan Indonesia (PWI) Aceh selama tiga periode: 1985 - 1991, 1991 - 1995, dan 1995 - 1999. Rentang hampir satu setengah dekade tersebut menempatkannya sebagai salah satu tokoh penting dalam perjalanan organisasi wartawan di Aceh.

Pada masa kepemimpinannya pula perjalanan kelembagaan PWI Aceh berkembang, termasuk pembangunan gedung PWI Aceh di Jalan T. Angkasah, Simpang Lima, Banda Aceh.

Bahkan setelah tak lagi menjadi ketua, Sjamsul tetap berada di lingkaran organisasi profesi. Pada kepengurusan PWI Aceh periode 2021 - 2026, ia dipercaya sebagai Ketua Penasihat PWI Aceh.

Usia tidak menghentikan perhatiannya terhadap sejarah pers. Ketika PWI Aceh menampilkan sejarah perjalanan organisasi pada Pekan Kebudayaan Aceh ke-8 tahun 2023, Sjamsul menekankan pentingnya masyarakat dan generasi muda mengenal sejarah PWI sekaligus memahami bagaimana wartawan menjalankan profesinya.


Tak Membiarkan Serambi Mati

Kisah lainnya terekam dalam jejak sejarah sekaligus menjadi salah satu ujian terbesar dalam perjalanan Sjamsul justru datang bukan dari konflik bersenjata.

Minggu pagi, 26 Desember 2004, gempa dan tsunami menghantam Aceh. Kantor Serambi Indonesia di kawasan Baet, Aceh Besar, ikut diterjang. Redaksi dan percetakannya rusak parah. Dalam laporan dua hari setelah bencana, kondisi kantor disebut nyaris tidak menyisakan apa-apa dan masih dipenuhi air serta lumpur.

Di tengah kehancuran itulah muncul keputusan penting yaitu koran harus kembali terbit. Pada 1 Januari 2005 enam hari setelah tsunami Serambi Indonesia kembali dicetak. Mesin di Lhokseumawe digunakan untuk menghidupkan kembali surat kabar tersebut dalam keadaan serba terbatas.

Keputusan tersebut bukan semata soal mempertahankan bisnis media. Aceh saat itu mengalami kekosongan informasi. Warga mencari keluarga, bantuan, lokasi pengungsian, keadaan kampung, hingga kabar mengenai proses evakuasi. Dalam situasi semacam itu, informasi menjadi kebutuhan yang hampir sama pentingnya dengan logistik.

Bagi Sjamsul dan rekan-rekannya, menerbitkan kembali koran adalah cara memastikan masyarakat tidak kehilangan salah satu saluran informasi di tengah bencana.


Pers, Syariat, dan Bank Aceh

Perhatian Sjamsul juga melampaui persoalan redaksi dan keorganisasian wartawan. Sisi lainnya Sjamsul Kahar sangat peduli dalam menjaga dan menerapakan syariat Islam di Aceh. Dibuktikan ia aktif dalam Kaukus Wartawan Peduli Syariat Islam (KWPSI) dan hingga masa tuanya dipercaya sebagai Ketua Dewan Pembina organisasi tersebut.

Salah satu isu yang mendapat perhatiannya adalah transformasi Bank Aceh menjadi bank syariah. Dalam buku Jalan Terjal Menghapus Riba: Advokasi Jurnalis dalam Konversi Bank Aceh, Sjamsul menyambut konversi Bank Aceh sebagai langkah penting. Namun ia mengingatkan perubahan tersebut tidak cukup hanya mengganti sistem.

Menurut Sjamsul, Bank Aceh perlu bersabar menghadapi masa transisi, memperkuat sosialisasi kepada nasabah, sekaligus menata organisasi secara menyeluruh agar transformasi syariah memiliki fondasi yang kokoh.

Pandangan itu menunjukkan satu sisi lain Sjamsul, ia bukan hanya memikirkan bagaimana sebuah berita ditulis, tetapi juga mengikuti persoalan sosial dan ekonomi yang berkembang di Aceh.


Penghargaan untuk Pengabdian Panjang

Dedikasi puluhan tahun Sjamsul mendapat pengakuan dari berbagai kalangan. Pada 2021, ia bersama tokoh pers dan pengusaha Aceh H. Harun Keuchik Leumiek menerima penghargaan Pekerja Pers Sejati Aceh atas pengabdian panjang mereka terhadap dunia pers.

Dua tahun kemudian, Syarikat Islam memberikan penghargaan kepada Sjamsul dalam kategori Wartawan Pengusaha Media Tahun 2023 pada momentum Gebyar 118 Tahun Syarikat Islam di Anjong Mon Mata, Kompleks Pendopo Gubernur Aceh.

Penghargaan tersebut diberikan atas dedikasinya sebagai wartawan sekaligus pengusaha daerah di bidang media cetak. Namun warisan Sjamsul barangkali tidak cukup dihitung melalui penghargaan, jabatan, ataupun jumlah karya jurnalistik yang pernah ditulisnya. Jejak terbesarnya justru terlihat pada institusi yang tetap hidup setelah ia pergi.


Api yang Ditinggalkan

Sjamsul Kahar berasal dari generasi wartawan yang bekerja dengan mesin ketik, kertas, film kamera, telepon rumah dan mesin cetak. Ia kemudian menyaksikan sendiri pers berpindah ke komputer, internet, portal berita, video, dan media sosial.

Teknologinya berubah. Cara masyarakat memperoleh berita pun berubah. Tetapi perjalanan Sjamsul memperlihatkan bahwa satu hal tidak ikut berubah: pers harus hadir ketika masyarakat membutuhkan informasi.

Ia pernah menjaga ruang redaksi ketika konflik menciptakan tekanan. Ia ikut mempertahankan koran ketika tsunami menghancurkan mesin cetak. Ia membangun organisasi profesi ketika wartawan membutuhkan rumah bersama.

Kini Sjamsul Kahar telah pergi. Tetapi Serambi Indonesia masih terbit. Wartawan masih turun ke lapangan. Berita masih ditulis setiap hari. Itulah barangkali peninggalan paling nyata seorang wartawan: bukan hanya namanya yang tercetak dalam sejarah, melainkan api jurnalistik yang tetap menyala setelah dirinya tiada.

Keyword:


Editor :
Redaksi

riset-JSI