DIALEKSIS.COM | Banda Aceh - Kolektor asal Belanda, Mark Peter van Klinken, menghibahkan tiga koleksi bersejarah yang dimilikinya kepada Museum Aceh. Koleksi tersebut diterima secara langsung oleh Kepala Museum Aceh, Arif Arham, di Museum Aceh pada Selasa (4/8/2026).
Ketiga koleksi yang dihibahkan terdiri atas sebuah perisai rotan Aceh (rattan shield), medali dari Raja Belanda untuk tentaranya saat Perang Kemerdekaan Indonesia 1945-1949, serta lencana ekspedisi militer Belanda di Aceh (Expedition Cross) yang berkaitan dengan operasi militer kolonial di Aceh pada awal abad ke-20.
Kepala Museum Aceh, Arif Arham, menyampaikan terima kasih dan penghargaan kepada Mark Peter van Klinken atas kepeduliannya terhadap pelestarian sejarah Aceh.
“Pemberian koleksi ini merupakan bentuk kontribusi yang sangat berharga bagi Museum Aceh. Koleksi-koleksi tersebut akan memperkaya narasi sejarah yang dapat dipelajari oleh masyarakat dan generasi mendatang,” ujar Arif Arham.
Menurut Arif, keberadaan koleksi tersebut tidak hanya menambah jumlah benda bersejarah yang tersimpan di Museum Aceh, tetapi juga memberikan perspektif yang lebih luas mengenai hubungan sejarah antara Aceh dan Belanda.
Perisai Rotan Aceh (Rattan Shield)
Perisai rotan ini merupakan perlengkapan perang tradisional Aceh yang digunakan pada masa Perang Aceh, sekitar tahun 1873-1900. Terbuat dari anyaman rotan dengan hiasan tujuh bintang berbahan perunggu, perisai ini menjadi bagian penting dari persenjataan para pejuang Aceh dalam menghadapi pasukan kolonial Belanda.
Menurut Mark van Klinken yang menghibahkannya, seluruh perisai jenis ini umumnya memiliki tujuh bintang sebagai ciri khas. Kondisi koleksi masih relatif baik, meskipun pegangan yang biasanya terbuat dari tali sudah tidak lagi tersisa. Salah satu baut pada bintang bagian tengah juga telah diganti pada masa kemudian dan bukan merupakan komponen asli. Jejak kerusakan yang tampak pada permukaan perisai terjadi akibat pergeseran hiasan bintang tersebut selama bertahun-tahun.
Koleksi ini memiliki nilai sejarah penting sebagai bukti material perjuangan rakyat Aceh dalam mempertahankan wilayahnya selama perang kolonial pada akhir abad ke-19.
Medali Perang Kemerdekaan Indonesia 1945-1949
Medali ini diberikan kepada tentara Belanda yang terlibat dalam konflik Indonesia-Belanda pada periode 1945-1949, yaitu setelah Proklamasi Kemerdekaan Indonesia pada 17 Agustus 1945. Medali tersebut menjadi bentuk penghargaan atas partisipasi militer dalam upaya Belanda mempertahankan kekuasaannya di Indonesia pada masa Revolusi Kemerdekaan.
Sebagai artefak sejarah, medali ini merepresentasikan sudut pandang pihak Belanda terhadap konflik yang oleh bangsa Indonesia dikenang sebagai perjuangan mempertahankan kemerdekaan.
"Kehadirannya dalam koleksi Museum Aceh dapat membantu pengunjung memahami kompleksitas sejarah pascakemerdekaan dari berbagai perspektif," harap Mark van Klinken.
Lencana Ekspedisi Belanda di Aceh
Lencana ini merupakan Expedition Cross (Expeditiekruis), sebuah penghargaan militer yang ditetapkan oleh Raja Willem III dari Belanda. Penghargaan tersebut diberikan kepada prajurit yang terlibat dalam operasi militer di wilayah koloni Belanda.
"Yang menjadikan koleksi ini istimewa adalah keberadaan batang penghargaan (bar) bertuliskan “Atjeh 1911-1914” dan “Westkust Atjeh” yang menunjukkan bahwa penerimanya pernah bertugas dalam operasi militer di Aceh pada periode tersebut. Setiap batang penghargaan menandai lokasi dan masa penugasan tertentu, sehingga menjadi sumber informasi penting mengenai sejarah konflik kolonial di Aceh pada awal abad ke-20," jelas Mark van Klinken.
Menurut penjelasan kolektor asal Belanda ini, terdapat sekitar 83 jenis batang penghargaan yang berbeda untuk berbagai ekspedisi militer Belanda di wilayah koloninya. Namun, untuk Museum Aceh dipilih lencana yang secara khusus berkaitan dengan Aceh karena relevansinya dengan sejarah daerah ini.
Koleksi ini tidak hanya merekam aktivitas militer kolonial Belanda, tetapi juga menjadi pengingat akan panjangnya perlawanan rakyat Aceh terhadap kekuasaan kolonial hingga memasuki abad ke-20.
"Belanda sangat sulit menaklukkan Aceh," pungkas Mark van Klinken.
Museum Aceh berencana melakukan pendataan, dokumentasi, dan kajian lebih lanjut terhadap ketiga koleksi tersebut sebelum ditampilkan kepada publik sebagai bagian dari upaya memperkaya informasi sejarah Aceh melalui benda-benda warisan budaya. [*]