DIALEKSIS.COM | Banda Aceh - Kabar membanggakan datang dari Seulawah Team Universitas Syiah Kuala (USK) berhasil lolos sebagai salah satu tim yang akan mengikuti Kontes Robot Terbang Indonesia (KRTI) Tingkat Nasional 2026 dalam kategori Divisi Fixed Wing.
Kepastian tersebut berdasarkan pengumuman Direktorat Pembelajaran dan Kemahasiswaan Kementerian Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi melalui surat Nomor 3180/DST/B2/DT.01.02/2026 tertanggal 20 Agustus 2026 tentang Tim yang Dinyatakan Lolos KRTI Tingkat Nasional Tahun 2026.
Dalam surat tersebut disebutkan, seleksi tahap kedua yang meliputi penilaian kemajuan dan wilayah telah dilaksanakan. Berdasarkan hasil seleksi, tim-tim yang dinyatakan lolos berhak mengikuti KRTI Tingkat Nasional 2026.
KRTI nasional dijadwalkan berlangsung pada 21 hingga 26 September 2026 di Institut Teknologi Kalimantan (ITK) dan kawasan Ibu Kota Nusantara (IKN), Kalimantan Timur.
General Manager Seulawah Team, Kevin Adiatma, mengatakan keberhasilan lolos ke tingkat nasional menjadi motivasi bagi seluruh anggota untuk mempersiapkan tim secara lebih matang.
Menurutnya, keikutsertaan dalam KRTI bukan hanya tentang mengejar prestasi, tetapi juga menjadi ruang bagi mahasiswa untuk mengembangkan kemampuan dalam desain, manufaktur, pemrograman, elektronika, serta sistem kendali pesawat tanpa awak.
"Setiap tahun kami berupaya mengikuti KRTI sebagai wadah untuk mengasah kemampuan anggota tim, baik dalam bidang desain, manufaktur, pemrograman, maupun sistem kendali UAV. Ini bukan sekadar kompetisi, tetapi juga proses pembelajaran yang sangat berharga," kata Kevin kepada media dialeksis.com, Senin, 24 Agustus 2026.
Seulawah Team merupakan tim robot terbang USK yang dibentuk pada 2016. Sejak awal berdiri, tim tersebut aktif mengikuti berbagai kompetisi nasional maupun internasional di bidang teknologi dirgantara, khususnya robot terbang.
Saat ini, Seulawah Team beranggotakan 24 mahasiswa dari empat program studi, yakni Teknik Mesin, Teknik Kimia, D3 Listrik, dan Teknik Komputer. Tim tersebut berada di bawah bimbingan dosen Program Studi Teknik Mesin USK.
Dalam pengembangannya, Seulawah Team juga bekerja sama dengan Cempala Aeromodelling Club Banda Aceh serta menjadi bagian dari Seulawah Aero Club di bawah naungan Federasi Aero Sport Indonesia (FASI) Provinsi Aceh.
Kevin mengatakan teknologi Unmanned Aerial Vehicle (UAV) atau pesawat tanpa awak memiliki pemanfaatan yang luas, mulai dari dokumentasi udara, pemetaan, pemantauan lingkungan, pertanian presisi, inspeksi bangunan hingga membantu pencarian dan pemantauan saat terjadi bencana.
"Teknologi UAV saat ini memiliki peran yang sangat luas. Tidak hanya untuk kompetisi, tetapi juga dapat digunakan dalam berbagai sektor kehidupan," ujarnya.
Ia menyebut KRTI 2026 dengan tema "Menuju Kemandirian Teknologi Nir Awak" menjadi momentum bagi mahasiswa untuk terus mengembangkan kemampuan dan inovasi di bidang teknologi tanpa awak.
Sementara itu, salah seorang perakit Seulawah Team, Rauhul Haq, mengatakan proses pembuatan dan pengembangan UAV membutuhkan kerja sama dari berbagai bidang keahlian.
"Pengembangan UAV tidak hanya soal membuat pesawat dapat terbang. Kami juga harus memastikan sistem kendali, struktur, perangkat elektronik, hingga perangkat lunaknya bekerja secara optimal agar mampu menjalankan misi sesuai kebutuhan kompetisi," ungkap Rauhul.
Menurutnya, lolosnya Seulawah Team ke tingkat nasional menjadi hasil dari proses persiapan dan kerja sama seluruh anggota.
Rauhul berharap tim dapat memanfaatkan waktu persiapan yang tersisa untuk melakukan penyempurnaan terhadap pesawat dan seluruh sistem yang akan digunakan dalam kompetisi.
"Kami berharap dapat terus meningkatkan prestasi, menghasilkan inovasi yang memiliki manfaat nyata, serta membawa nama baik Seulawah Team, Universitas Syiah Kuala, dan Aceh di tingkat nasional," pungkasnya.

