Minggu, 13 September 2026
Beranda / Berita / Nasional / Dosen UIN Ar-Raniry Lolos Google DeepMind Accelerator 2026, Bawa Inovasi AI Prediksi Banjir Aceh

Dosen UIN Ar-Raniry Lolos Google DeepMind Accelerator 2026, Bawa Inovasi AI Prediksi Banjir Aceh

Minggu, 13 September 2026 13:00 WIB

Font: Ukuran: - +

Reporter : Naufal Habibi

Dosen UIN Ar-Raniry Zuhra Sofyan bersama tim GeoFlux dalam rangkaian Google DeepMind Accelerator 2026 di Singapura, membawa inovasi AI untuk mendukung upaya menghadapi risiko banjir di Aceh. Dokumen untuk dialeksis.com


DIALEKSIS.COM | Banda Aceh - Dosen Program Studi S1 Pendidikan Teknologi Informatika (PTI), Fakultas Tarbiyah dan Keguruan UIN Ar-Raniry Banda Aceh, Zuhra Sofyan, M.Sc., terpilih sebagai salah satu peserta Google DeepMind Accelerator: AI for the Planet Asia Pacific 2026.

Zuhra mewakili konsorsium UIN Ar-Raniry dalam pengembangan GeoFlux, sebuah sistem prediksi banjir berbasis kecerdasan buatan atau Artificial Intelligence (AI) yang dikembangkan untuk kawasan Aceh.

GeoFlux merupakan inisiatif Yayasan Ekosistem Lestari (YEL) Aceh yang dikembangkan melalui kolaborasi lintas lembaga. Dalam tim tersebut, Zuhra berperan sebagai AI Specialist dari UIN Ar-Raniry.

Selain Zuhra, tim GeoFlux melibatkan Zakiul Fuady, M.Sc., selaku Head of Policy & Advocacy YEL Aceh sekaligus inisiator, serta Rizal Wahyudi, M.Si., dari Universitas Syiah Kuala (USK) yang berkontribusi dalam riset data dan kecerdasan buatan.

“Keterlibatan kami dalam program ini menjadi kesempatan penting untuk mengembangkan teknologi AI yang tidak hanya unggul dari sisi teknologi, tetapi juga memberikan manfaat langsung bagi masyarakat, khususnya dalam menghadapi risiko banjir di Aceh,” kata Zuhra kepada media dialeksis.com, Minggu, 13 September 2026.

Menurutnya, pengembangan GeoFlux tidak berhenti pada teknologi, tetapi diarahkan untuk memperkuat ketahanan masyarakat sekaligus mendukung kelestarian lingkungan.

“Yang kami harapkan, teknologi ini nantinya dapat memberikan dukungan yang lebih baik dalam memprediksi dan menghadapi potensi banjir di Aceh. Karena itu, kolaborasi antara akademisi, peneliti data dan pegiat lingkungan menjadi sangat penting,” ujarnya.

Zuhra menyebut terpilihnya GeoFlux sebagai satu dari 16 organisasi dari 680 pendaftar di kawasan Asia Pasifik menjadi capaian yang membanggakan sekaligus peluang untuk memperkuat inovasi AI dari Aceh.

“Ini bukan hanya tentang pencapaian individu atau institusi, tetapi bagaimana kolaborasi ini bisa melahirkan solusi nyata untuk masyarakat dan lingkungan,” katanya.

Ia berharap program akselerasi selama tiga bulan tersebut dapat semakin mematangkan GeoFlux dan membuka peluang pengembangan teknologi yang lebih luas untuk Aceh.

“From Aceh to a Greener Tomorrow,” pungkas Zuhra.

Keyword:


Editor :
Alfi Nora

riset-JSI