Dialeksis - Akurat, Tajam, dan Strategis
Beranda / Kolom / Orang Gila Menjamur

Orang Gila Menjamur

Senin, 12 Februari 2018 20:24 WIB


foto:pixbay.com

Masih ingat cerita jamur gila? Itu hanya istilah saya, karena jenis jamur ini bila dikomsumsi bisa membuat seperti gila. Nah, bila dalam sebulan terakhir di tanah air heboh banyak orang gila berkeliaran bak jamur di musim hujan boleh jadi akibat memakan jamur gila atau Magic Mushroom itu.

Jamur gila tumbuh dari kotoran sapi. Di beberapa daerah, jamur gila ini diolah. Misal, mencampurkannya dengan minuman seperti fanta atau dengan makanan ringan, dan bila dikomsumsi akan seperti orang gila dalam beberapa saat. Cerita seorang teman, dia mengaku setelah makan jamur gila itu menimbukan efek play. Dia merasa senang sehingga tertawa-tawa meskipun untuk hal yang sama sekali tak lucu. Sebaliknya, jika dalam suasana hati yang sedih sangat membahayakan, bisa menangis dan bahkan melukai diri sendiri atau mencari sasaran orang lain.

Psycho magic mushroom yang arti bebasnya “orang gila bak jamur aneh (gila)" muncul dan melakukan aksi meneror dan menganiaya dengan sasaran uztad dan imam salat. Ini perlu diwaspadai, karena kemunculan Psycho magic mushroom masih menimbulkan multitafsir. Jangan-jangan ada desain politis. Soalnya, sasaran mereka bukan hanya tokoh agama Islam tapi juga ada pastor, biksu yang diperkusi para gila itu.

Sekali lagi penting diwaspadai dengan menggunakan logika sehat. Bisa saja mereka sedang berusaha untuk berubah menjadi "waras” dengan sasaran memburu tokoh agama. Bukan hal mustahil sasaran berikutnya adalah para pejabat dan politikus yang suka bikin gila. Ehem, perlu hati-hati jangan sampai senjata “makan tuan”.

Forum Ulama Umat Indonesia (FUUI) seperti kata ketuanya Athian Ali yang dilansir media, mengingatkan isu orang gila yang menjamur gila (psycho Magic Mushroom) perlu dibersihkan agar tidak semakin liar dan membuat kepanikan dalam masyarakat. “Apakah ini skenario atau kejadian yang kebetulan, pertanyaan masyarakat ini harus terjawab. Sehingga jangan sampai peristiwa yang semestinya bukan berita malah diberitakan hanya karena panik kepada orang gila,” ujarnya

Orang gila, menggila, kegialaan atau apa pun sebutannya, semua itu berasal dari satu kata “gila”. Hanya maknanya yang bisa berbeda. Disebut orang gila menunjukkan keadaan orang bersangkutan gila alias tidak waras; Menggila artinya penyakit orang gila itu sedang kumat. Kegialaan bermakna orang tersebut kehilangan akal sehatnya atas sesuatu yang diinginkannya, sehingga dengan menghalalkan secara cara termasuk berpura-pura gila atau mengirim orang yang benar-benar gila untuk melakukan kegilaan.

Semua kata “gila” itu bersumber dari pikiran yang terganggu. Maka menanganninya tidak sederhana atau hanya cuek. Apalagi ramai-ramai mengutuk, menghukumi tapi harus menggunakan pikiran waras agar tidak ikut gila.

Perlu penanganan serius agar orang gila tidak semakin menggila dan membahayakan masyarakat, merusak persatuan dan kerukunan yang selama ini terjalin damai. Bila itu tidak dituntaskan maka akan menjadi monster yang mengancam hidup manusia.

Orang gila yang menjamur seperti jamur gila itu jangan sampai membuatkan rakyat menjadi melayang pikirannya karena efek yang ditimbulkannya. Bila demikian maka benarlah kata seorang filosof Yunani, bahwa "pada dasarnya semua orang itu gila. Cuma tensinya yang berbeda.

Benar pula apa yang dinyatakan seorang actor terkenal Roberr Pattinson, ketika ia berada di puncak popularitas berkat film Twilight yang diperankannya bersama Kristen Stewart. Bahkan, aktor 31 tahun itu dianggap telah menyatu dengan film tersebut sebagai vampir tampan. mengalami gangguan mental (The Hollywoodlife, Senin (6/11/2017).

Ketika dia diwawancarai, menyebutkan beberapa actor terkenal cenderung gila, seolah berada di dalam lingkaran setan, membuat mereka kesulitan untuk lepas sehinga berusaha untuk sembuh.

Bila diterawang boleh jadi aksi menyerang, persikusi atau turun ke jalan-jalan dengan berbagai atribut sebagai usaha penyembuhan kegilaan orang gila-gila itu. Hal itu pernah diriwayatkan Imam Ali bin Abi Thalib kwh. Beliau suatu hari bersama Rasulullah saw melewati sau tempat. Mereka melihat banyak orang tengah mengelilingi seorang pria. Kemudian Nabi saw bertanya kepada seorang dari mereka, ‘Apa yang terjadi? Mengapa kalian berkumpul di sini dan apa yang dikatakannya?’

Seorang menjawab, ‘Wahai Rasulullah! Ini orang gila dan mengganggu masyarakat. Kami berkumpul di sini untuk memutuskan apa yang akan kami lakukan terhadapnya…’

Nabi saw berkata, ‘Jangan mengatakannya orang gila. Ia sakit dan mungkin saja meraih kesembuhannya…” Nabi saw melanjutkan, bahwa disebut orang gila adalah orang yang menggerakkan tangannya ketika berjalan dikarenakan kesombongan. Dagunya diangkat ke atas dan ia tidak mau mengucapkan salam kepada masyarakat disebabkan kesombongan. Dengan kondisinya yang demikian, orang ini sangat gembira dan optimis karena berpikiran akan masuk surga, padahal keberadaannya penuh dengan dosa dan maksiat.”

Wallah’alam.


Penulis: ampuh devayan


Editor :
Ampuh Devayan

universitas teuku umar
Komentar Anda