DIALEKSIS.COM | Medan - Kamar Dagang dan Industri (KADIN) Aceh mendorong konsolidasi ekonomi 10 provinsi di Sumatera untuk membangun kawasan ekonomi yang lebih terintegrasi, efisien dan berdaya saing.
Gagasan tersebut mengemuka dalam rangkaian IMT-GT ke-32 di Medan, yang menempatkan Sumatera sebagai salah satu kekuatan penting ekonomi nasional. Dengan kontribusi sekitar 22,08 persen terhadap PDB nasional dan sekitar 21,9 persen populasi Indonesia, Sumatera memiliki basis pasar dan produksi yang sangat besar.
Namun, kekuatan tersebut dinilai belum sepenuhnya menghasilkan nilai tambah optimal. Berbagai komoditas unggulan seperti karet, kopi, kelapa sawit, kelapa, kakao serta perikanan masih menghadapi persoalan hilirisasi, konektivitas dan logistik yang berjalan secara terfragmentasi antarwilayah.
Karena itu, KADIN Aceh memandang diperlukan perubahan pendekatan, dari 10 provinsi yang bergerak sendiri-sendiri menjadi satu rantai nilai ekonomi Sumatera.
“Setiap provinsi tidak harus memiliki seluruh rantai nilai. Yang penting, Sumatera sebagai satu kawasan memiliki rantai nilai yang utuh, dari produksi, hilirisasi, logistik, perdagangan, investasi hingga pasar nasional dan ASEAN,” demikian gagasan yang mengemuka dalam forum tersebut.
Lima agenda prioritas yang dinilai strategis untuk dikonsolidasikan meliputi stabilisasi pangan dan agribisnis, hilirisasi komoditas perkebunan, logistik terintegrasi, peningkatan nilai tambah perikanan dan kelautan, serta pariwisata regional.
Dalam sesion rakor gubernur se-Sumatera yang dirangkaikan pada AGENDA IMT GT, hadir Gubernur Aceh yang diwakili oleh Wakil Gubernur Fadlullah, S.E. menyatakan perlu tambahan fokus pada potensi Minyak Nilam Aceh dan letak strategis Selat Malaka sebagai lintasan angkutan menuju Eropa dan Timur Tengah.
KADIN Aceh menilai kerja sama tersebut perlu ditindaklanjuti melalui proyek lintas-provinsi yang konkret, terukur dan berorientasi pada outcome, dengan dukungan pemerintah pusat serta mitra strategis.
“Potensi Sumatera bukan persoalan. Tantangannya adalah bagaimana menghubungkan potensi tersebut menjadi kekuatan ekonomi kawasan.”
Dengan integrasi tersebut, Sumatera diharapkan tidak hanya menjadi basis produksi nasional, tetapi berkembang menjadi pusat pertumbuhan ekonomi Indonesia dan pintu strategis menuju pasar ASEAN. [*]