Senin, 17 Agustus 2026
Beranda / Berita / Dunia / Ratusan Migran Bergerak ke Ceuta Spanyol, Polisi Maroko Tangkap 111 Orang

Ratusan Migran Bergerak ke Ceuta Spanyol, Polisi Maroko Tangkap 111 Orang

Minggu, 16 Agustus 2026 13:00 WIB

Font: Ukuran: - +

Para migran menunggu untuk memasuki pusat penampungan sementara CETI di Pantai Trampolin, wilayah kantong Spanyol Ceuta di Maroko, pada 15 Agustus 2026 [Foto: AFP]


DIALEKSIS.COM | Maroko - Polisi Maroko menangkap ratusan orang yang berupaya mencapai Ceuta, wilayah kantong Spanyol di pesisir utara Afrika. Upaya penyeberangan tersebut terjadi di tengah meningkatnya arus migrasi dan dugaan kampanye disinformasi di media sosial.

Rekaman yang beredar secara daring pada Sabtu (15/8/2026) memperlihatkan kerumunan besar orang bergerak menuju Ceuta. Sebagian besar mereka dilaporkan berasal dari negara-negara Afrika sub-Sahara.

Ratusan aparat keamanan Maroko dikerahkan untuk menghentikan massa yang bergerak melintasi kawasan pegunungan menuju wilayah Spanyol tersebut. Polisi dilaporkan menggunakan gas air mata untuk membubarkan kerumunan.

Reuters, mengutip sumber di Kementerian Dalam Negeri Maroko, melaporkan sedikitnya 111 orang telah ditangkap dalam operasi tersebut. Sementara itu, media lokal Maroko Le360 menyebut jumlah penangkapan mencapai 294 orang, termasuk 46 warga negara Maroko.

Sisanya disebut berasal dari wilayah Afrika sub-Sahara.

Para migran dilaporkan bergerak melalui kawasan pegunungan dengan melewati Fnideq, kota pesisir di Maroko utara. Jalur tersebut diduga dipilih untuk menghindari pos pemeriksaan keamanan.

Upaya tersebut terjadi hanya beberapa pekan setelah puluhan ribu orang mencoba memasuki Ceuta. Sekitar 72.000 orang dilaporkan masuk ke wilayah kantong tersebut pada akhir Juli, sementara sedikitnya 96 orang meninggal dunia dalam upaya mencapai Ceuta.

Menteri Dalam Negeri Spanyol Fernando Grande-Marlaska mengatakan pada Kamis bahwa sekitar 5.000 migran masih berada di Ceuta.

Otoritas Maroko sebelumnya menyatakan akan meningkatkan upaya untuk menggagalkan aksi penyeberangan massal. Pemerintah juga menyoroti keberadaan kampanye disinformasi di media sosial yang diduga mendorong orang-orang untuk datang secara berkelompok menuju Ceuta.

Ceuta merupakan salah satu dari dua wilayah kantong Spanyol yang berada di Afrika Utara. Status Ceuta sebagai wilayah Spanyol tidak diakui oleh Maroko.

Kritik terhadap Pemerintah Spanyol

Situasi tersebut turut memicu kritik politik di Spanyol. Jaime de los Santos, anggota parlemen dari Partai Rakyat (PP), menuding Perdana Menteri Spanyol Pedro Sanchez gagal menangani krisis migrasi yang kembali mencuat sejak akhir Juli.

De los Santos juga mengkritik Sanchez yang tengah berlibur di Kediaman Kerajaan La Mareta di Lanzarote.

"Hari ini Sabtu, 15 Agustus, dan pekan gerhana telah berlalu. Enam belas hari telah lewat sejak Spanyol 'diserbu' oleh lebih dari 80.000 warga negara Maroko," ujar De los Santos dalam pernyataannya.

Ia menuduh Sanchez tidak memberikan penjelasan mengenai situasi tersebut dan menyerahkan penanganan krisis kepada para menterinya.

Sementara itu, otoritas Spanyol dan Maroko terus menghadapi tantangan untuk mengendalikan arus migrasi menuju Ceuta, yang menjadi salah satu jalur utama bagi migran untuk memasuki wilayah Uni Eropa. [Aljazeera, AFP, AP]

Keyword:


Editor :
Indri

riset-JSI