DIALEKSIS.COM | Dunia - Orang boleh memilih pekerjaan, menentukan tempat tinggal, hingga merencanakan masa depan. Namun, seberapa luas pilihan itu ketika penghasilan hanya cukup untuk bertahan hidup?
Pertanyaan tentang batas kebebasan tersebut menjadi pintu masuk untuk membaca tema yang diangkat akun Facebook Jejak Sejarah: kebebasan manusia dalam kendali sistem ekonomi global.
Gagasan itu menyentuh persoalan mendasar dalam kehidupan sehari-hari. Kebebasan mengambil keputusan membutuhkan kesempatan dan sumber daya untuk menjalankannya. Memiliki keinginan melanjutkan pendidikan, misalnya, belum tentu disertai kemampuan membayar biaya sekolah atau meninggalkan pekerjaan.
Program Pembangunan Perserikatan Bangsa-Bangsa atau UNDP menempatkan perluasan pilihan manusia sebagai inti pembangunan. Dalam pendekatan ini, pertumbuhan pendapatan menjadi sarana untuk memperbaiki kehidupan. Keberhasilannya ditentukan pula oleh kesempatan memperoleh pendidikan, hidup sehat, dan mengakses sumber daya untuk kehidupan yang layak.
Dengan kerangka tersebut, tekanan ekonomi dapat dibaca sebagai pembatas ruang gerak. Seseorang mungkin memiliki hak untuk memilih, tetapi pilihan yang benar-benar dapat dijalankannya bergantung pada keadaan hidupnya.
Gambaran ketimpangan dunia memperlihatkan betapa berbeda keadaan itu. World Inequality Report 2026 mencatat, kelompok 10 persen berpendapatan tertinggi menerima lebih banyak pendapatan dibandingkan gabungan 90 persen lainnya. Separuh penduduk dunia di lapisan terbawah memperoleh kurang dari 10 persen pendapatan global.
Kesenjangan kepemilikan kekayaan lebih tajam. Kelompok 10 persen terkaya memiliki sekitar tiga perempat kekayaan dunia, sedangkan separuh penduduk di lapisan terbawah hanya memiliki 2 persen.
Laporan yang sama menyoroti ketimpangan dalam sistem keuangan internasional. Negara penerbit mata uang cadangan menikmati keuntungan berupa biaya pinjaman lebih rendah. Sebaliknya, negara berkembang menghadapi pembiayaan lebih mahal dan aliran pendapatan keluar yang membatasi kemampuan berinvestasi dalam pelayanan publik.
Temuan tersebut memberi dasar untuk membahas bagaimana struktur ekonomi memengaruhi kesempatan manusia. Namun, data ketimpangan saja belum membuktikan klaim bahwa seluruh keputusan manusia dikendalikan oleh satu kekuatan global. Klaim tentang pengendalian tetap membutuhkan penjelasan mengenai pelaku, mekanisme, dan bukti yang dapat diperiksa.
Ruang perubahan juga tersedia. World Inequality Report 2026 menunjukkan bahwa perpajakan progresif, bantuan yang mendistribusikan kembali pendapatan, serta investasi pendidikan dan kesehatan dapat mengurangi ketimpangan. Kebijakan dan institusi ikut menentukan seberapa lebar kesenjangan kesempatan di masyarakat.
Dari sudut pandang pembangunan manusia, ukuran kebebasan akhirnya menyentuh hal yang konkret: apakah seseorang mempunyai kesempatan nyata untuk menjalani kehidupan yang dianggapnya bernilai. UNDP menekankan bahwa pembangunan perlu menciptakan lingkungan yang memungkinkan manusia mengembangkan kemampuan dan menggunakan pilihannya.