Jum`at, 25 September 2026
Beranda / Berita / Dunia / Mengapa Brasil Selalu Dapat Giliran Pertama Pidato di Sidang Umum PBB?

Mengapa Brasil Selalu Dapat Giliran Pertama Pidato di Sidang Umum PBB?

Kamis, 24 September 2026 23:50 WIB

Font: Ukuran: - +

Ilustrasi bendera negara Brazil. Foto: ist


DIALEKSIS.COM | Jakarta - Ada satu tradisi menarik yang kembali terlihat dalam Debat Umum Sidang Majelis Umum Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) ke - 81 di New York, Amerika Serikat. Di antara hampir 200 negara anggota PBB, Brasil kembali mendapat kehormatan menjadi negara pertama yang menyampaikan pidato.

Debat Umum Majelis Umum PBB ke - 81 berlangsung di Markas Besar PBB, New York, mulai 22 hingga 26 September dan dilanjutkan pada 28 September 2026. Forum tersebut mempertemukan para kepala negara, kepala pemerintahan, menteri, serta perwakilan tingkat tinggi negara-negara anggota.

Tema Debat Umum tahun ini adalah “Restoring trust, managing transformation: a United Nations that delivers for all”, atau kurang lebih “Memulihkan kepercayaan, mengelola transformasi: Perserikatan Bangsa-Bangsa yang bekerja untuk semua.” Sidang ke-81 dipimpin Presiden Majelis Umum PBB Khalilur Rahman dari Bangladesh.

Yang menarik, kesempatan membuka rangkaian pidato negara-negara anggota bukan diberikan kepada negara pendiri PBB, bukan pula kepada negara dengan kekuatan ekonomi ataupun militer terbesar di dunia.

Kesempatan itu secara tradisional jatuh kepada Brasil. Lantas, mengapa Brasil selalu menjadi negara pertama?

Penelusuran Dialeksis terhadap informasi resmi PBB menemukan bahwa tidak ada ketentuan dalam Piagam PBB yang menetapkan Brasil harus menjadi pembicara pertama.

Posisi tersebut merupakan tradisi diplomatik yang berkembang dalam perjalanan sejarah Majelis Umum.

PBB Brasil menyebutkan bahwa sejak Sidang Majelis Umum ke-10 pada 1955, Brasil secara konsisten membuka rangkaian pidato Debat Umum. Tradisi itu kemudian bertahan selama lebih dari tujuh dekade.

Dalam sejarah awal Majelis Umum, urutan pembicara belum mempunyai pola seperti sekarang. Brasil kemudian mengambil peran sebagai pembuka dalam forum tersebut hingga praktik itu berkembang menjadi kebiasaan diplomatik.

Ada pula jejak sejarah penting Brasil di awal perjalanan PBB. Salah satu tokohnya adalah diplomat Brasil Oswaldo Aranha. Ia pernah memimpin Sidang Khusus Pertama Majelis Umum PBB pada 1947 dan kemudian menjadi Presiden Sidang Kedua Majelis Umum pada tahun yang sama. PBB Brasil menyebut posisi Brasil sebagai pembuka Debat Umum merupakan suatu kehormatan yang berkembang secara historis, tetapi tidak pernah dilembagakan menjadi aturan formal.

Artinya, tidak ada pasal yang menyatakan bahwa Brasil wajib berbicara pertama. Namun kebiasaan itu telah begitu mengakar sehingga menjadi bagian dari protokol tidak tertulis dalam diplomasi PBB.


AS Biasanya Berbicara Setelah Brasil. Setelah Brasil menyampaikan pidatonya, giliran berikutnya secara tradisional diberikan kepada Amerika Serikat. Alasannya berbeda, kenapa karena  AS memperoleh posisi tersebut karena menjadi negara tuan rumah Markas Besar Perserikatan Bangsa-Bangsa di New York.

PBB sendiri menjelaskan pola tersebut secara sederhana: Brasil secara tradisional berbicara pertama, kemudian Amerika Serikat sebagai negara tuan rumah.

Tradisi yang sama kembali berlangsung dalam Debat Umum Sidang Majelis Umum PBB ke-81 tahun ini. Keterangan resmi PBB Brasil menyebut Presiden Brasil Luiz Inácio Lula da Silva membuka rangkaian pidato negara, disusul Presiden Amerika Serikat Donald Trump.

Setelah dua negara tersebut, penentuan urutan pembicara tidak semata-mata didasarkan pada abjad.

Penyusunan jadwal mempertimbangkan sejumlah faktor diplomatik dan protokoler, termasuk tingkat pejabat yang hadir, permintaan masing-masing delegasi, serta keseimbangan agenda selama berlangsungnya Debat Umum.


Panggung 193 Negara

Majelis Umum merupakan salah satu organ utama PBB dan menjadi forum tempat seluruh 193 negara anggota mempunyai representasi dan hak suara yang setara.

Debat Umum menjadi salah satu momentum politik dan diplomatik terbesar setiap tahun karena para pemimpin dunia menggunakan mimbar tersebut untuk menyampaikan posisi negaranya mengenai perang, perdamaian, ekonomi, perubahan iklim, pembangunan, keamanan hingga reformasi tata kelola internasional.

PBB menetapkan waktu pidato secara sukarela sekitar 15 menit bagi setiap delegasi agar seluruh pembicara dapat memperoleh kesempatan dalam agenda enam hari tersebut. Namun dalam praktiknya, durasi itu tidak selalu dipatuhi.

Pidato juga diterjemahkan secara simultan ke dalam enam bahasa resmi PBB, yakni Arab, China, Inggris, Prancis, Rusia dan Spanyol.

Dengan demikian, posisi Brasil sebagai pembicara pertama bukanlah privilese yang lahir dari aturan tertulis atau besarnya kekuatan negara tersebut.

Ia merupakan produk sejarah dan tradisi diplomatik yang terus dipertahankan.

Sejak 1955, pemerintahan boleh berganti dan situasi geopolitik dunia terus berubah. Namun ketika para pemimpin dunia berkumpul di aula Majelis Umum PBB di New York, satu kebiasaan hampir selalu tetap sama: Brasil membuka percakapan dunia, dan Amerika Serikat menyusul setelahnya.

Keyword:


Editor :
Redaksi

riset-JSI