Dialeksis - Akurat, Tajam, dan Strategis
Beranda / Berita / Dunia / Maskapai Rusia Dituding Diskriminatif Tolak Penumpang Muslim

Maskapai Rusia Dituding Diskriminatif Tolak Penumpang Muslim

Rabu, 28 Maret 2018 10:23 WIB



Dialeksis.com, MOSKOW -- Maskapai Rusia Aeroflot memaksa lima penumpang untuk terbang ke Delhi, India, padahal mereka akan menuju New York, Amerika Serikat. Masalah tersebut terjadi diduga karena masalah diskriminasi rasial sebab penumpang merupakan tidak berkulit putih dan bernama Muslim.

Warga Amerika tersebut Arc Fernandes, Shahana Islam, Sabiha Islam, Bakiul Islam, dan Anshul Agrawal. Mereka melakukan perjalanan dari Delhi ke Amerika. Hanya saja mereka harus transit ke Moskow untuk melakukan penerbangan lanjutan. Namun, penerbangan mesti dibatalkan karena terjadi tumpukan salju di New York saat itu.

Staf Aeroflot mengatakan kepada mereka bahwa tidak ada kursi yang tersedia untuk penerbangan alternatif dan mereka tidak akan mendapatkan akomodasi di Moskow. Di balik pernyataan tersebut, diduga mereka telah menawarkan koneksi alternatif ke AS untuk orang kulit putih Amerika yang berada di penerbangan yang sama.

Mereka juga ditolak visa transit, yang berarti di bawah hukum Rusia mereka tidak bisa meninggalkan Bandara Sheremetyevo atau tetap di negara itu selama lebih dari 24 jam. Seorang karyawan Aeroflot mengatakan kepada kelompok itu, mereka malah harus kembali ke India jika tidak ingin dideportasi.

Masalah itu pun diadukan kepada Kedutaan Besar Amerika di Moskow, hanya saja pihak Aeroflot enggan menanggapi. Kelima penumpang tersebut diberi tiket untuk kembali ke India dan mereka pun terpaksa terbang kembali.

Setelah tiba di Delhi, mereka diberi tahu tidak ada penerbangan Aeroflot ke New York selama lebih dari seminggu. Empat dari penumpang yang terlibat dalam komplain, yaitu Arc Fernandes, Shahana Islam, Sabiha Islam, Bakiul Islam. Mereka sudah menghabiskan ribuan poundsterling untuk memesan penerbangan satu arah ke Washington DC dengan menggunakan Qatar Airways sebagai gantinya. Yang kelima, Anshul Agrawal, terbang ke Miami melalui Aeroflot pada enam hari kemudian.

"Saya telah kehilangan satu minggu kerja (saya tidak akan diizinkan untuk liburan tahun ini) dan menghadapi tekanan mental yang luar biasa. Saya telah terbang selama lebih dari 17 tahun dan tidak pernah dilecehkan atau diperlakukan seperti ini," tulis Anshul Agrawal dalam akun Facebook.

Untuk mengurus masalah tersebut, mereka berlima meminta bantuan Muslim Advocates untuk mengadukan pada Departemen Transportasi AS (DOT). Masalah itu bukan kali pertama, maskapai yang berbasis di Moskow ini sebelumnya telah didenda oleh otoritas Amerika karena melanggar aturan perlindungan penumpang AS.

"Kami jelas gagal memenuhi standar pelayanan tinggi kami dalam insiden ini, yang terjadi lebih dari dua bulan yanglalu, dan memang kami menghubungi para penumpang segera setelah itu untuk menawarkan permintaan maaf kami," kata perwakilan Aeroflot dikutip dari Independent, Rabu (28/3).

Atas peristiwa tersebut, Aeroflot mengutarakan permintaan maaf. Insiden tersebut menjadi momok yang menampar wajah mereka karena gagal memenuhi standar pelayanan yang sudah ditetapkan dan mereka menolak jika kasus itu terjadi karena masalah diskriminasi rasial.

"Namun, penyelidikan internal kami yang menyeluruh menetapkan ini bukan kasus diskriminasi berdasarkan penampilan, dan kami tidak menerima karakterisasi ini dalam keluhan," kata pernyataan Aeroflot. (Republika)

Editor :
HARIS M

Komentar Anda