Rabu, 01 Juli 2026
Beranda / Berita / Dunia / Krisis Gaza Makin Parah, PBB Minta Donor Tutup Defisit UNRWA US$100 Juta

Krisis Gaza Makin Parah, PBB Minta Donor Tutup Defisit UNRWA US$100 Juta

Rabu, 01 Juli 2026 21:00 WIB

Font: Ukuran: - +

Anak-anak Palestina, yang melarikan diri bersama orang tua mereka dari rumah mereka di kamp pengungsi Palestina Ein el-Hilweh, berkumpul di sekolah UNRWA di Sidon, Lebanon, pada September 2023 [Foto: Mohammed Zaatari/AP]


DIALEKSIS.COM | Jakarta - Sekretaris Jenderal PBB Antonio Guterres mendesak negara-negara anggota segera menutup kekurangan pendanaan sebesar US$100 juta untuk Badan PBB bagi Pengungsi Palestina (UNRWA). Menurutnya, defisit anggaran tersebut mengancam keberlangsungan layanan bagi jutaan pengungsi Palestina.

Dalam konferensi donor UNRWA di Markas Besar PBB, Selasa (30/6/2026), Guterres mengatakan kondisi badan tersebut semakin kritis di tengah pembatasan operasional yang diberlakukan Israel di wilayah Palestina.

"Saat kita berkumpul hari ini, keselamatan dan kesejahteraan jutaan pengungsi Palestina dipertaruhkan," ujar Guterres.

Ia menyoroti kondisi kemanusiaan yang memburuk di Jalur Gaza, meningkatnya kekerasan di Tepi Barat, hingga dampak serangan Israel di Lebanon yang turut menjadi tempat perlindungan bagi pengungsi Palestina.

Menurut Guterres, UNRWA kini menghadapi tekanan ganda, yakni keterbatasan operasional di lapangan serta kekurangan dana yang mengancam kelangsungan program bantuan. Jika pendanaan terus berkurang, badan tersebut dikhawatirkan tidak lagi mampu menjalankan mandat yang diberikan Majelis Umum PBB.

UNRWA didirikan pada 1949 untuk memberikan layanan pendidikan, kesehatan, bantuan sosial, dan perlindungan kepada pengungsi Palestina di Gaza, Tepi Barat, Yerusalem Timur, Lebanon, Yordania, dan Suriah. Saat ini badan tersebut melayani sekitar 2,6 juta pengungsi.

Krisis pendanaan UNRWA semakin dalam setelah Amerika Serikat menghentikan kontribusinya pada Januari 2024. Langkah itu diambil menyusul tuduhan Israel bahwa sejumlah staf UNRWA terlibat dalam serangan Hamas pada 7 Oktober 2023.

Namun, hasil investigasi internal PBB menemukan hanya sembilan dari 19 staf yang diselidiki kemungkinan terlibat, sementara terhadap 10 lainnya tidak ditemukan bukti atau bukti yang cukup untuk mendukung tuduhan tersebut.

Guterres menegaskan UNRWA telah melakukan berbagai reformasi dan memperketat kebijakan internal sebagai respons atas tuduhan tersebut. Ia juga menilai badan itu tetap menjadi pilar penting dalam menjaga stabilitas di kawasan.

"UNRWA adalah kekuatan penstabil di tengah era ketidakstabilan," katanya.

Ia juga mengecam berbagai upaya yang dinilainya melemahkan UNRWA, mulai dari kampanye disinformasi, pembatasan operasional, hingga hambatan diplomatik. Menurut Guterres, sejak perang pecah pada Oktober 2023, sebanyak 390 personel UNRWA dilaporkan tewas di Gaza.

Sementara itu, Juru Bicara PBB Stephane Dujarric mengatakan hasil konferensi donor terkait tambahan kontribusi sukarela untuk UNRWA akan diumumkan pada Rabu.

Dalam pertemuan yang sama, Duta Besar Turki untuk PBB Ahmet Yildiz menilai UNRWA tengah menghadapi tekanan politik yang belum pernah terjadi sebelumnya. 

Ia juga menuduh Israel melakukan pelanggaran hukum internasional melalui berbagai pembatasan terhadap aktivitas badan tersebut di wilayah Palestina. [Reuters, AFP, Aljazeera]

Keyword:


Editor :
Redaksi

riset-JSI
dishes