DIALEKSIS.COM | Tokyo - Kementerian Luar Negeri (Kemlu) Jepang menghapus foto-foto simulasi antiterorisme setelah menuai kecaman di media sosial. Penggunaan penutup kepala menyerupai keffiyeh pada pemeran teroris dinilai memperkuat stereotip yang mengaitkan masyarakat Arab dan Muslim dengan terorisme.
Dilansir dari The Independent, Minggu (20/9/2026), foto-foto tersebut memperlihatkan latihan antiterorisme yang berlangsung pada 10 September 2026. Dalam salah satu gambar, seorang pemeran teroris tampak mengenakan kain menyerupai keffiyeh sambil menutup kepala pemeran sandera dengan kantong.
Unggahan itu memicu keberatan sejumlah pengguna media sosial. Mereka menilai penggunaan pakaian yang mengingatkan pada identitas wilayah atau kelompok tertentu dalam penggambaran teroris dapat mendorong diskriminasi.
Salah seorang warganet menuntut permintaan maaf sekaligus penghapusan foto. Pengguna lainnya mempertanyakan keputusan kementerian memublikasikan gambar tersebut karena dianggap dapat memperkuat prasangka terhadap kelompok tertentu.
Merespons kritik yang muncul, Kemlu Jepang menarik foto-foto itu dan menyampaikan klarifikasi. Kementerian menegaskan bahwa kostum yang dikenakan para pemeran teroris tidak dimaksudkan untuk menggambarkan etnis, wilayah, maupun agama tertentu.
Kemlu Jepang juga menyatakan bahwa kesalahpahaman yang timbul bukanlah sesuatu yang disengaja.
Menteri Luar Negeri Jepang Toshimitsu Motegi menanggapi polemik tersebut dalam konferensi pers, Jumat (18/9/2026).
“Kami menanggapi berbagai pendapat dengan serius,” kata Motegi.
Kemlu Jepang menjelaskan, latihan tersebut merupakan bagian dari upaya meningkatkan kesiapsiagaan warga Jepang yang bepergian maupun menetap di luar negeri. Edukasi keselamatan dinilai semakin penting seiring beragamnya ancaman yang dapat mereka hadapi.
Simulasi berlangsung di sebuah fasilitas pemerintah di Tokyo dengan melibatkan perusahaan keamanan. Menurut perusahaan tersebut, latihan dirancang agar sedekat mungkin dengan situasi nyata, dengan mengambil pelajaran dari serangan di Kafe Holey Artisan, Dhaka, Bangladesh, pada Juli 2016.
Dalam peristiwa itu, kelompok militan mengepung kafe selama sekitar 12 jam. Sebanyak 22 orang meninggal dunia, termasuk tujuh warga negara Jepang.
Latihan antiterorisme di Jepang telah diselenggarakan sejak 2018. Kegiatan tersebut bertujuan membekali warga dengan pengetahuan untuk menghadapi keadaan darurat saat berada di luar negeri. []