DIALEKSIS.COM | Tripoli - Kebakaran hebat melanda Kilang Zawiya di Libya setelah sebuah tangki penyimpanan bensin dilaporkan menjadi sasaran serangan drone. Insiden ini memicu kekhawatiran terhadap kelangsungan operasi kilang dan pasokan energi domestik.
Layanan Ambulans dan Darurat Libya menyebut tidak ada korban dengan luka serius. Sebagian besar pasien yang ditangani mengalami gangguan akibat menghirup asap.
National Oil Corporation (NOC) mengatakan kebakaran terjadi Senin (10/8/2026) malam di tangki milik Brega Oil Company yang menyimpan sekitar 4,5 juta liter bensin. Tangki tersebut disebut menjadi sasaran langsung hingga terbakar dan akhirnya runtuh.
Serangan itu merupakan rangkaian insiden di kawasan kilang. Sebelumnya, fasilitas desalinasi air dan tangki penyimpanan nafta juga dilaporkan menjadi sasaran drone.
Kilang Zawiya merupakan kilang terbesar yang masih beroperasi di Libya dengan kapasitas pengolahan sekitar 120.000 barel per hari. Fasilitas tersebut berada sekitar 40 kilometer sebelah barat Tripoli.
NOC kemudian memperingatkan kemungkinan menerapkan status *force majeure* dan menghentikan operasi jika serangan terhadap fasilitas minyak terus terjadi.
"Jika serangan-serangan ini terus berlanjut, perusahaan harus menyatakan status *force majeure* dan menghentikan operasi di kilang tersebut," demikian pernyataan NOC.
Belum ada pihak yang mengklaim bertanggung jawab atas serangkaian serangan tersebut.
Pemerintah Libya yang berbasis di Tripoli menyatakan Perdana Menteri Abdul Hamid Dbeibah telah menggelar rapat dengan sejumlah pejabat keamanan untuk merespons perkembangan tersebut. Pemerintah menegaskan akan mengambil tindakan terhadap pihak yang mengancam keamanan dan fasilitas vital.
Serangan terhadap Kilang Zawiya kembali menyoroti kondisi keamanan Libya yang masih rapuh. Negara tersebut hingga kini terpecah antara pemerintahan di Tripoli dan pemerintahan saingan di wilayah timur yang didukung komandan militer Khalifa Haftar.
Sektor minyak menjadi tulang punggung ekonomi Libya, sehingga gangguan terhadap fasilitas energi berpotensi berdampak terhadap produksi dan pasokan bahan bakar di dalam negeri. [Aljazeera, AFP, Reuters]