Rabu, 26 Agustus 2026
Beranda / Data / Menelusuri Nama Indonesia, Peran Sukarno, dan Jejak “Londo Ireng”

Menelusuri Nama Indonesia, Peran Sukarno, dan Jejak “Londo Ireng”

Rabu, 26 Agustus 2026 16:30 WIB

Font: Ukuran: - +

Reporter : Redaksi
Foto: Ilustrasi ChatGPT oleh dialeksis.com

DIALEKSIS.COM | Jakarta - Nama Indonesia telah muncul lebih dari setengah abad sebelum Sukarno lahir. Ia bukan nama yang diciptakan sang proklamator, apalagi sebutan lain untuk Pulau Jawa. Nama itu menempuh perjalanan panjang bermula dari istilah geografis para ilmuwan Eropa, lalu diambil alih kaum pergerakan sebagai identitas politik sebuah bangsa.

Hasil penelusuran redaksi Dialeksis terhadap arsip negara, kajian akademik, dan data resmi menunjukkan bahwa sejumlah narasi populer mengenai asal-usul Indonesia kerap mencampuradukkan tiga hal berbeda dimulai dari sejarah sebuah nama, pembentukan bangsa, dan kelahiran negara.

Jejak awalnya dapat ditarik ke 1850. Etnolog Inggris George Samuel Windsor Earl mengusulkan istilah Indu-nesians dan Malayunesians untuk menyebut penduduk Kepulauan Hindia atau Kepulauan Melayu. Earl lebih menyukai istilah kedua.

Pada tahun yang sama, James Richardson Logan editor The Journal of the Indian Archipelago and Eastern Asia memilih bentuk “Indonesia” sebagai istilah geografis yang lebih ringkas untuk menyebut Kepulauan Hindia.

Kajian Russell Jones berjudul Earl, Logan and “Indonesia” yang diterbitkan jurnal akademik Archipel pada 1973 mencatat bahwa istilah tersebut telah lahir jauh sebelum kemerdekaan Indonesia diproklamasikan. Penelitian Jones juga menunjukkan nama itu kemudian dipopulerkan oleh etnolog Jerman Adolf Bastian melalui karya Indonesien oder die Inseln des Malayischen Archipels pada 1884. 

Secara etimologis, “Indonesia” tersusun dari kata Yunani Indos, yang menunjuk India, dan nesos, yang berarti pulau. Arti harfiahnya kurang lebih “kepulauan India”. Penjelasan ini juga ditemukan dalam kajian yang diterbitkan Cambridge University Press. 

Namun, akar kata tersebut tidak berarti Indonesia merupakan bagian dari India atau sebuah negara yang dibangun berdasarkan agama Hindu. Istilah itu lahir dari tata penamaan geografis Eropa abad ke-19. Maknanya kemudian berubah ketika kaum pergerakan menjadikannya sebagai nama tanah air yang hendak dimerdekakan.

Dari Istilah Ilmiah Menjadi Identitas Politik

Nama Indonesia memperoleh tenaga politik pada awal abad ke-20. Para pelajar dan aktivis pergerakan mulai menggunakannya untuk menggantikan sebutan Hindia Belanda yang merepresentasikan kekuasaan kolonial.

Mohammad Hatta, yang menjadi Ketua Perhimpunan Indonesia di Belanda pada 1925, termasuk tokoh penting yang mengubah istilah tersebut menjadi cita-cita kebangsaan. Dalam tulisannya pada 1928, Hatta memandang Indonesia sebagai tujuan politik yang melambangkan tanah air merdeka pada masa depan.

Puncak peneguhan identitas itu terjadi dalam Kongres Pemuda II pada 28 Oktober 1928. Arsip Nasional Republik Indonesia mencatat peserta kongres berasal dari berbagai organisasi, antara lain Jong Java, Jong Sumatera, Jong Batakbond, Jong Celebes, Jong Islamieten Bond, Pemuda Kaum Betawi, Sekar Rukun, dan Perhimpunan Pelajar-Pelajar Indonesia.

Mereka menyatakan bertumpah darah satu, berbangsa satu, dan menjunjung bahasa persatuan: Indonesia. Susunan peserta tersebut memperlihatkan bahwa Indonesia sejak awal dibayangkan sebagai rumah bersama, bukan nama lain bagi satu pulau atau satu kelompok etnis. 

Jawa memang memiliki posisi demografis dan politik yang sangat besar. Berdasarkan hasil Survei Penduduk Antar Sensus (SUPAS) 2025, sebanyak 158,41 juta jiwa atau 55,65 persen dari total 284,67 juta penduduk Indonesia tinggal di Pulau Jawa. Sumatera menampung sekitar 62,32 juta jiwa atau 21,89 persen, disusul Sulawesi 7,40 persen, Kalimantan 6,23 persen, Bali-Nusa Tenggara 5,60 persen, serta Maluku - Papua 3,22 persen. Namun, besarnya jumlah penduduk di satu pulau tidak serta-merta dapat dijadikan dasar untuk menyamakan identitas, wilayah, ataupun batas sebuah negara. Indonesia dibentuk oleh keragaman daerah, suku, kebudayaan, dan sejarah yang tersebar dari Sumatera hingga Papua.

Secara konstitusional, Pasal 25A Undang-Undang Dasar 1945 menegaskan Indonesia merupakan negara kepulauan berciri Nusantara. Data resmi Badan Informasi Geospasial pada 2024 mencatat Indonesia mempunyai 17.380 pulau bernama dan berkoordinat. Angka itu menegaskan bahwa Indonesia jauh melampaui bentang geografis Pulau Jawa. 

Soekarno Bukan Pencipta Nama Indonesia

Soekarno tidak menciptakan kata Indonesia. Ketika ia lahir pada 1901, istilah tersebut telah berusia sekitar setengah abad. Peran Soekarno berada pada lapangan yang berbeda: menjadikan gagasan Indonesia merdeka sebagai gerakan politik, merumuskan dasar negara, serta bersama Mohammad Hatta membacakan Proklamasi Kemerdekaan pada 17 Agustus 1945.

Arsip Nasional mencatat Soekarno dan Hatta menandatangani proklamasi atas nama bangsa Indonesia. Sehari kemudian, Panitia Persiapan Kemerdekaan Indonesia mengesahkan UUD 1945 serta menetapkan Sukarno sebagai presiden dan Mohammad Hatta sebagai wakil presiden.

Dengan demikian, Soekarno bukan pencipta nama Indonesia, tetapi salah satu tokoh utama yang membawa nama tersebut dari cita-cita politik menuju sebuah negara yang diproklamasikan. Proses itu juga bukan kerja seorang diri. Ia lahir dari perjuangan panjang berbagai kelompok, daerah, dan generasi.

Makna Awal “Londo Ireng”

Istilah “londo ireng” juga kerap digunakan secara longgar. Dalam pemakaian politik modern, istilah ini biasanya ditujukan kepada orang Indonesia yang dianggap lebih membela kepentingan asing daripada bangsanya sendiri.

Namun, penelitian Ineke van Kessel dari African Studies Centre Leiden menunjukkan makna historisnya jauh lebih khusus. Sebutan Black Dutchmen, Zwarte Hollanders, atau Belanda Hitam pada mulanya merujuk kepada sekitar 3.000 serdadu Afrika Barat yang direkrut Belanda pada 1831 - 1872 untuk menjadi bagian dari tentara kolonial KNIL di Hindia Belanda.

Mereka terutama direkrut dari Elmina di Pantai Emas kini wilayah Ghana dan ditempatkan dalam kesatuan tentara Eropa. Sebagian bertugas dalam berbagai operasi militer kolonial, termasuk Perang Aceh. 

Makna “londo ireng” kemudian bergeser menjadi metafora bagi orang lokal yang mengabdi kepada kepentingan kolonial. Karena itu, pelabelan istilah tersebut kepada tokoh sejarah tidak dapat dilakukan hanya berdasarkan prasangka politik. Ia membutuhkan bukti arsip, konteks waktu, serta penjelasan mengenai hubungan tokoh bersangkutan dengan kekuasaan kolonial.

Dari rangkaian sumber tersebut, dapat disimpulkan bahwa menyebut Indonesia secara harfiah berasal dari istilah “kepulauan India” memiliki dasar etimologis, tetapi akan menyesatkan apabila dipakai untuk menyatakan Indonesia merupakan milik India, identik dengan agama tertentu, atau sekadar nama lain untuk Jawa.

Indonesia lahir sebagai istilah geografis dari luar. Namun, kaum pergerakan mengubahnya menjadi nama sebuah bangsa. Sukarno dan Hatta kemudian memproklamasikannya sebagai negara. Sejarah itu bertingkat dan tidak bisa dipadatkan menjadi satu slogan di media sosial. [red]

Keyword:


Editor :
Indri

riset-JSI
pema - damai
dishub