DIALEKSIS.COM | Banda Aceh - Aceh menutup Agustus 2026 dengan catatan mengkhawatirkan. Badan Penanggulangan Bencana Aceh (BPBA) mencatat 29 kejadian kebakaran hutan dan lahan (karhutla) dengan luas terdampak sekitar 110,8 hektare. Pada saat bersamaan, Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) mendeteksi 119 titik panas yang tersebar di 17 kabupaten/kota.
Hasil tracking media Dialeksis menunjukkan kebakaran terjadi beruntun dari pesisir barat-selatan hingga dataran tinggi Aceh. Dalam hitungan hari, api membakar lahan gambut di Aceh Selatan dan Aceh Barat, kawasan pinus di Aceh Tengah, serta mengancam lahan masyarakat di Aceh Barat Daya.
Jumat, 28 Agustus: Gambut Bakongan Terbakar
Rangkaian karhutla mencuat dari Gampong Drien, Kecamatan Bakongan, Aceh Selatan. Kebakaran yang berlangsung sejak Jumat (28/8/2026) itu menghanguskan sekitar tujuh hektare lahan gambut pada dua lokasi.
Sebanyak 70 personel gabungan dari BPBD, TNI, Polri, pemerintah kecamatan, Balai Besar Taman Nasional Gunung Leuser, dan masyarakat dikerahkan. Kendala utama pemadaman ialah medan sulit, jarak lokasi yang jauh, serta keterbatasan sumber air.
Meskipun kobaran api berhasil dikendalikan, petugas masih menemukan kepulan asap. Bara yang tersimpan di bawah permukaan gambut dikhawatirkan kembali menyala sehingga penyiraman dan pendinginan terus dilakukan.
Minggu, 30 Agustus: BMKG Mendeteksi 119 Titik Panas
Ancaman karhutla semakin terlihat dari pemantauan satelit BMKG pada Minggu (30/8/2026). Sebanyak 119 titik panas terdeteksi menggunakan sensor MODIS pada satelit Terra, Aqua, dan Suomi NPP serta sensor NOAA20/VIIRS.
Aceh Selatan menjadi daerah dengan jumlah terbanyak, yakni 26 titik, disusul Gayo Lues 15 titik, Aceh Tengah 13 titik, Bireuen 12 titik, dan Aceh Jaya 10 titik.
Selanjutnya, Pidie mencatat tujuh titik, Aceh Besar dan Nagan Raya masing-masing enam titik, Pidie Jaya lima titik, serta Aceh Barat dan Aceh Tenggara masing-masing empat titik.
Bener Meriah terpantau memiliki tiga titik. Aceh Barat Daya, Aceh Utara, dan Subulussalam masing-masing dua titik, sedangkan Aceh Singkil dan Aceh Tamiang masing-masing satu titik. Konsentrasi titik panas di Aceh Selatan berada di kawasan Bakongan, Kluet, dan Trumon.
Titik panas tidak serta-merta berarti kebakaran. Data satelit tersebut merupakan indikasi anomali suhu yang perlu diverifikasi di lapangan. Namun, jumlahnya yang tinggi menjadi peringatan dini, terutama ketika kebakaran nyata telah ditemukan di sejumlah daerah.
Senin, 31 Agustus: Empat Hektare Kenawat Terbakar
Kebakaran berikutnya terjadi di Kampung Kenawat, Kecamatan Lut Tawar, Aceh Tengah, Senin (31/8/2026) malam. Laporan diterima sekitar pukul 19.40 WIB.
Api membakar sekitar empat hektare kawasan hutan pinus dan perkebunan masyarakat. BPBD Aceh Tengah mengerahkan satu unit mobil pemadam dari posko induk dengan dukungan personel TNI dan Polri.
Hingga pukul 21.55 WIB, api belum sepenuhnya dapat dipadamkan. Tidak ada korban jiwa maupun warga mengungsi, sedangkan penyebab kebakaran masih diselidiki.
Selasa, 1 September: Polisi Turun ke Babahrot
Ancaman karhutla juga muncul di Kecamatan Babahrot, Aceh Barat Daya. Kapolres Abdya AKBP Ade Gita Rachmadi bersama jajarannya turun meninjau lokasi sekaligus membantu pemadaman pada Selasa (1/9/2026).
Kepolisian meminta pemilik dan pengelola lahan tidak menggunakan api untuk membuka ataupun membersihkan kebun. Masyarakat juga diminta tidak membuang puntung rokok sembarangan dan segera melapor ketika menemukan titik api.
“Pencegahan adalah langkah terbaik agar karhutla tidak terjadi,” kata Ade.
Polres Abdya menilai pencegahan membutuhkan keterlibatan pemerintah daerah, TNI, kepolisian, perangkat desa, dan masyarakat, terutama ketika cuaca panas membuat api cepat menjalar.
Selasa Malam: Karhutla Aceh Barat Meluas 6,5 Hektare
Pada hari yang sama, karhutla di Aceh Barat terus meluas. Pemantauan awal memperkirakan lebih dari lima hektare lahan gambut terbakar di sekitar perbatasan Kecamatan Samatiga, Johan Pahlawan, Bubon, dan Kaway XVI.
Pembaruan BPBD Aceh Barat pada Selasa malam mencatat luas terdampak meningkat menjadi 6,5 hektare. Kebakaran tersebar di Gampong Blang Beurandang, Kecamatan Johan Pahlawan, seluas dua hektare; Gampong Mesjid Baro, Kecamatan Samatiga, tiga hektare; serta Gampong Aron Tunong, Kecamatan Woyla, sekitar 1,5 hektare.
Tim gabungan BPBD, TNI, Polri, KPH IV Aceh, dan masyarakat dikerahkan dengan tiga mesin pompa air serta pemantauan menggunakan drone. Pemadaman terkendala angin kencang, keterbatasan air di Woyla, dan akses kendaraan yang sulit menuju lokasi di Samatiga dan Johan Pahlawan.
Hotspot Gambut Nasional Melonjak 1.006 Persen
Situasi di Aceh berlangsung di tengah lonjakan titik panas pada ekosistem gambut secara nasional. Laporan Pantau Gambut yang diterima Dialeksis mencatat 166.728 titik panas di Kesatuan Hidrologis Gambut sepanjang Agustus 2026.
Jumlah tersebut meningkat 1.006,6 persen dibandingkan Juli 2026 yang mencatat 15.067 titik. Hotspot selama Agustus menyumbang 78,6 persen dari total 212.156 titik panas sepanjang Januari-Agustus 2026.
Sebanyak 110.636 titik berada di kawasan fungsi lindung ekosistem gambut dan 101.520 titik lainnya berada di kawasan fungsi budidaya. Aceh memang tidak termasuk lima provinsi dengan hotspot gambut terbanyak, tetapi rangkaian kebakaran di lapangan menunjukkan provinsi ini tidak sepenuhnya aman.
Kompilasi ini memperlihatkan karhutla di Aceh bukan lagi kejadian yang berdiri sendiri. Kemunculannya secara beruntun menuntut penguatan patroli, verifikasi cepat titik panas, kesiapan sumber air, pembasahan gambut, serta penegakan hukum terhadap pembakaran lahan. [*]

