Senin, 28 September 2026
Beranda / Berita / Aceh / Tgk Akmal Ajak Masyarakat Aceh Perkuat Kecintaan kepada Ulama dan Umara

Tgk Akmal Ajak Masyarakat Aceh Perkuat Kecintaan kepada Ulama dan Umara

Senin, 28 September 2026 12:00 WIB

Font: Ukuran: - +

Reporter : Naufal Habibi

Kajian Aktual TASTAFI bertema “Mudahnya Umat Menghina Ulama & Umara, Kenapa dan Apa Solusinya?” yang berlangsung di Muraya Hotel Aceh, Banda Aceh, Ahad (27/9/2026). [Foto: Naufal Habibi/dialeksis.com]


DIALEKSIS.COM | Banda Aceh - Pimpinan Lembaga Pendidikan Islam (LPI) Al Anshar Lambaro, Tgk H. Akmal Abzal, S.H.I., M.H., mengajak masyarakat untuk kembali memperkuat penghormatan terhadap ulama di tengah fenomena mudahnya masyarakat melontarkan hinaan dan kritik terhadap ulama maupun pemimpin.

Hal itu disampaikan Tgk Akmal dalam Kajian Aktual TASTAFI bertema “Mudahnya Umat Menghina Ulama & Umara, Kenapa dan Apa Solusinya?” yang berlangsung di Muraya Hotel Aceh, Banda Aceh, Ahad (27/9/2026).

Menurut Tgk Akmal, penghormatan terhadap ulama berkaitan erat dengan kedudukan ilmu dalam ajaran Islam. Ia mengutip Surah Al-Mujadalah ayat 11 yang menjelaskan bahwa Allah meninggikan derajat orang-orang beriman dan mereka yang diberikan ilmu.

“Ulama itu adalah orang yang punya ilmu. Allah mengangkat derajat orang yang beriman dan orang yang memiliki ilmu,” kata Tgk Akmal.

Mantan komisioner Komisi Independen Pemilihan (KIP) Aceh dua periode ini mengatakan, kondisi masyarakat saat ini menjadi tantangan bagi umat untuk tetap menjaga sikap menghormati ulama.

 Menurutnya, masyarakat perlu memiliki keteguhan untuk tidak ikut terbawa arus ketika penghinaan terhadap ulama menjadi sesuatu yang ramai dilakukan.

“Siapa di antara kita yang bertahan sebagai umat ketika orang ramai-ramai menghujat ulama? Di sini kita ditantang,” ujarnya.

Dalam kajiannya, Tgk Akmal juga menekankan pentingnya hubungan antara ilmu ulama dan keadilan pemimpin dalam membangun kehidupan masyarakat.

Ia menyebut ilmu para ulama menjadi salah satu fondasi penting dalam menjaga kehidupan berbangsa dan bermasyarakat, sementara keadilan pemimpin diperlukan agar kehidupan masyarakat dapat berjalan dengan baik.

Tgk Akmal kemudian menyampaikan sebuah kisah tentang seorang raja yang mengalami kekacauan di negerinya setelah mengabaikan nasihat para ulama.

Dalam kisah tersebut, seorang ulama beberapa kali memberikan nasihat kepada sang raja agar kembali kepada hukum Allah. Namun, nasihat tersebut tidak diindahkan. Ketika kondisi negeri semakin kacau, raja kembali meminta nasihat kepada seorang ulama sufi yang selama ini tidak pernah datang ke istana.

Namun, ulama tersebut justru berulang kali mengatakan kepada raja agar tidur.

Menurut Tgk Akmal, pesan dari kisah tersebut adalah agar pemimpin memberikan ruang kepada para pembantunya untuk bekerja dan tidak terus-menerus mengubah kebijakan ketika sedang menjalankan pemerintahan.

“Kenapa tidur? Karena setiap jagamu, menteri-menterimu tidak bisa bekerja. Ketika engkau selalu mengubah kebijakan, orang yang mau bekerja akhirnya tidak bisa bekerja,” jelasnya.

Ia mengatakan, seorang pemimpin perlu memberikan kesempatan kepada jajaran pemerintahan untuk menjalankan tugasnya sehingga program dapat berjalan dan masyarakat memperoleh manfaat.

Tgk Akmal juga mengingatkan masyarakat agar tidak mudah terpengaruh oleh berbagai narasi yang dapat menghilangkan penghormatan terhadap ulama.

Menurutnya, ulama memiliki peran penting dalam memberikan panduan keagamaan dan nasihat kepada masyarakat maupun pemimpin.

“Mari kita bentengi diri dengan ilmu. Karena kuatnya sebuah peradaban dimulai dari kokohnya moral pemudanya,” ujarnya.

Kajian tersebut turut menghadirkan Pimpinan Dayah MHM Banda Aceh sekaligus Penyuluh Agama Islam, Tgk Rusli Daud, S.H.I., M.Ag., sebagai pemateri. Kegiatan dimoderatori Tgk Fakhrul Husni, M.Ag., dan diikuti peserta yang hadir di Muraya Hotel Aceh. [nh]

Keyword:


Editor :
Indri

riset-JSI