Minggu, 04 Oktober 2026
Beranda / Berita / Aceh / Ketika Dokter Mendatangi Pasien: PDSKKI Aceh Hadir untuk Warga Terdampak Banjir Pidie Jaya

Ketika Dokter Mendatangi Pasien: PDSKKI Aceh Hadir untuk Warga Terdampak Banjir Pidie Jaya

Sabtu, 03 Oktober 2026 23:00 WIB

Font: Ukuran: - +

Perhimpunan Dokter Spesialis Kedokteran Keluarga Indonesia Cabang Aceh (PDSKKI Aceh) bersama Program Studi Pendidikan Dokter Spesialis Kedokteran Keluarga Layanan Primer (PPDS KKLP) Fakultas Kedokteran Universitas Syiah Kuala menggelar bakti sosial untuk masyarakat terdampak banjir di Desa Meunasah Lhok, Kecamatan Meureudu, Kabupaten Pidie Jaya, Sabtu (3/10/2026). [Foto: dokumen untuk dialeksis.com]


DIALEKSIS.COM | Meureudu - Tidak semua orang yang membutuhkan dokter mampu datang ke tempat pelayanan kesehatan. Di Desa Meunasah Lhok, Kecamatan Meureudu, Kabupaten Pidie Jaya, Sabtu (3/10/2026), sejumlah dokter justru memilih mendatangi mereka.

Dari Polindes desa, sebagian anggota tim berjalan menuju rumah-rumah warga. Mereka membawa stetoskop dan peralatan pemeriksaan sederhana untuk menemui pasien yang karena usia lanjut, kondisi kesehatan atau keterbatasan mobilitas tidak dapat datang sendiri.

Hari itu, Perhimpunan Dokter Spesialis Kedokteran Keluarga Indonesia Cabang Aceh (PDSKKI Aceh) bersama Program Studi Pendidikan Dokter Spesialis Kedokteran Keluarga Layanan Primer (PPDS KKLP) Fakultas Kedokteran Universitas Syiah Kuala menggelar bakti sosial untuk masyarakat terdampak banjir.

Sebanyak 110 warga memperoleh pelayanan, baik di Polindes maupun melalui kunjungan rumah.

Mereka mendapatkan pemeriksaan kesehatan dan pengobatan gratis, termasuk pemeriksaan gula darah, kolesterol dan asam urat. Tim juga menyediakan layanan akupunktur serta membagikan hygiene kit berisi sabun, sampo, pasta gigi, sikat gigi dan handuk.

Dari pelayanan tersebut, tim menemukan bahwa keluhan dan penyakit yang banyak dijumpai di antaranya hipertensi, diare, nyeri punggung bawah, diabetes serta keluhan terkait asam urat.

Bencana dan Penyakit Kronis

Ketua PDSKKI Aceh sekaligus pimpinan rombongan, Dr. dr. Ichsan, M.Sc., SpKKLP., Subsp.FOMC, mengatakan perhatian kesehatan dalam situasi bencana tidak hanya diperlukan untuk penyakit yang muncul akibat perubahan lingkungan.

Pasien yang sebelumnya hidup dengan penyakit kronis juga tetap membutuhkan kesinambungan pelayanan.

“Ketika terjadi banjir, kita tentu harus mewaspadai penyakit yang berkaitan dengan lingkungan dan sanitasi. Tetapi jangan lupa, di tengah masyarakat juga ada orang dengan hipertensi, diabetes, lansia, dan pasien lain yang tetap membutuhkan pemantauan dan pengobatan. Bencana tidak menghentikan kebutuhan mereka terhadap pelayanan kesehatan.”

Menurut Ichsan, kondisi tersebut memperlihatkan pentingnya penguatan pelayanan kesehatan primer yang dekat dan mudah dijangkau masyarakat.

“Dokter keluarga bekerja bukan hanya dengan penyakit, tetapi dengan manusia, keluarga dan lingkungan tempat mereka hidup. Kadang-kadang pelayanan terbaik bukan menunggu pasien datang kepada kita, tetapi memastikan pelayanan bisa sampai kepada orang yang paling membutuhkannya," tuturnya.

Ia mengatakan kegiatan PDSKKI Aceh tersebut merupakan bentuk dukungan profesi dokter keluarga terhadap upaya pemerintah dalam meningkatkan kualitas pelayanan kesehatan masyarakat, khususnya melalui penguatan layanan primer, upaya promotif-preventif, deteksi dini dan pengelolaan penyakit kronis.

110 Warga dan 18 Dokter

Sebanyak 18 dokter terlibat dalam kegiatan tersebut, terdiri atas 10 dokter spesialis Kedokteran Keluarga Layanan Primer, tujuh dokter PPDS KKLP, serta satu dokter internsip.

Di lokasi kegiatan, warga tampak antusias mengikuti pemeriksaan. Sebagian menunggu giliran untuk berkonsultasi, sementara tim kesehatan melakukan pemeriksaan tekanan darah dan pemeriksaan penunjang sederhana serta memberikan pengobatan sesuai kondisi pasien. 

Suasana pelayanan berlangsung cair. Percakapan dokter dan warga tidak selalu berhenti pada pertanyaan mengenai penyakit. Kondisi keluarga, aktivitas sehari-hari dan kesulitan yang dihadapi setelah banjir ikut menjadi bagian dari interaksi.

Ketua Program Studi PPDS KKLP FK USK, dr. Nurjannah, MPH., PhD., SpKKLP, menilai pengalaman seperti itu memiliki nilai penting dalam pendidikan calon dokter keluarga.

“Kami membawa peserta didik agar mereka belajar langsung bahwa pelayanan kedokteran keluarga tidak berlangsung dalam ruang yang terpisah dari kehidupan masyarakat. Mereka perlu melihat sendiri bagaimana kondisi rumah, keluarga, lingkungan dan akses pelayanan dapat memengaruhi kesehatan seseorang." ucapnya.

Menurut Nurjannah, pendidikan dokter spesialis Kedokteran Keluarga Layanan Primer juga perlu menumbuhkan kepekaan sosial dan kemampuan memahami kebutuhan masyarakat.

“Kompetensi klinis tentu sangat penting, tetapi seorang dokter keluarga juga harus mampu mendengar, berkomunikasi dan membangun hubungan dengan pasien serta keluarganya. Pengalaman turun langsung seperti ini menjadi bagian yang sangat berharga dalam proses pendidikan mereka," katanya.

Dari Polindes Menuju Rumah Warga

Salah satu bagian penting kegiatan adalah home visit.

Koordinator lapangan, Dr. Muhammad Aditia Jamin, MKM, SpKKLP, yang juga menjabat sebagai Wakil Direktur Umum RS Umum Pidie Jaya, mengatakan tim berupaya agar pelayanan tidak hanya dinikmati masyarakat yang mampu datang ke Polindes.

“Kami mendapat informasi mengenai beberapa warga yang kondisi fisiknya tidak memungkinkan untuk datang. Tim kemudian mendatangi rumah mereka. Bagi kami, akses terhadap pelayanan merupakan bagian yang sangat penting, terutama bagi lansia dan kelompok rentan." ujarnya.

Di rumah warga, dokter melakukan pemeriksaan dengan fasilitas yang tersedia. Ada pasien yang diperiksa sambil berbaring di tempat tidur dan ada pula yang diperiksa di ruang keluarga.

Justru dari kunjungan tersebut, dokter dapat melihat secara lebih utuh kondisi pasien di lingkungan tempat tinggalnya.

Peran Desa Menjadi Penting

Keuchik Meunasah Lhok, Rahmadi, mengapresiasi pelayanan yang diberikan kepada masyarakat desanya.

“Kami berterima kasih kepada PDSKKI Aceh dan FK USK karena sudah hadir langsung di tengah masyarakat kami. Warga sangat antusias. Yang tidak dapat datang pun didatangi ke rumah. Setelah masyarakat menghadapi banjir, perhatian terhadap kesehatan seperti ini sangat kami butuhkan," ucapnya.

Sementara itu, Bidan Desa Meunasah Lhok, Bdn. Rosdiana, S.Keb., memiliki peran penting dalam menghubungkan tim dengan warga. Ia membantu menginformasikan kegiatan, mendampingi pelayanan serta mengidentifikasi warga yang membutuhkan kunjungan rumah.

“Sebagai tenaga kesehatan di desa, kami mengetahui cukup dekat kondisi warga. Kolaborasi seperti ini sangat membantu karena pelayanan dokter spesialis bisa langsung menjangkau masyarakat. Warga juga lebih nyaman karena pelayanan dilakukan dekat dengan tempat mereka tinggal," ujarnya.

Lebih dari Sekadar Memberikan Obat

Ada pesan lain yang dibawa tim pada hari itu.

PDSKKI Aceh membagikan hygiene kit kepada masyarakat sebagai bagian dari edukasi mengenai pentingnya menjaga kebersihan diri dan keluarga setelah banjir.

Sabun, sampo, pasta gigi, sikat gigi dan handuk mungkin merupakan benda sederhana. Namun bagi masyarakat yang baru melewati bencana, menjaga kebersihan merupakan bagian penting dalam mempertahankan kesehatan dan mencegah munculnya penyakit.

Bakti sosial di Meunasah Lhok akhirnya tidak hanya menjadi pertemuan antara dokter dengan pasien.

Di satu sisi, masyarakat memperoleh pemeriksaan, pengobatan dan edukasi kesehatan. Di sisi lain, para dokter dan calon dokter keluarga mendapatkan kesempatan melihat dari dekat bagaimana penyakit, keluarga, kondisi sosial, lingkungan dan bencana saling berkaitan.

Dari sebuah Polindes di pinggiran sungai hingga rumah warga yang tidak mampu datang berobat, kegiatan itu membawa satu pesan tentang pelayanan kesehatan primer: terkadang, untuk benar-benar dekat dengan masyarakat, dokterlah yang perlu mengambil langkah pertama mendatangi pasien. [*]

Keyword:


Editor :
Indri

riset-JSI