Logo Dialeksis
Beranda / Berita / Aceh / Ketahanan Pangan di Aceh Masih Naik Turun

Ketahanan Pangan di Aceh Masih Naik Turun

Rabu, 13 November 2019 09:00 WIB

Font: Ukuran: - +
Seminar laporan akhir penelitian ekonomi dan prasarana wilayah (kajian pangan) tahun 2019 yang berlangsung di ruang rapat IIA Lantai 2 Bappeda Aceh, Selasa (12/11/2019). [Foto: IST] 

DIALEKSIS.COM | Banda Aceh - Pakar pengembangan kawasan dan agroindustri Aceh Dr Rahmat Fadhil STP MSc mengatakan ketahanan pangan di Aceh masih naik turun. 

Hal itu disampaikannya saat mengisi seminar laporan akhir penelitian ekonomi dan prasarana wilayah (kajian pangan) tahun 2019 yang digelar Bappeda Aceh di ruang rapat IIA Lantai 2 Bappeda Aceh, Selasa (12/11/2019).

Rahmat Fadhil dalam paparan penelitiannya mengatakan, "Aceh memiliki sumber daya alam yang melimpah, ketahanan pangan di Aceh masih naik turun, namun dalam penelitian ini kita fokus pada ikan, daging, telur, dan beras.” 

Dia menjelaskan, dalam konteks ketahanan pangan komoditas daging, rata-rata dalam lima tahun terakhir Aceh memiliki populasi hewan ternak mencapai 600.000 ekor per tahun. Akan tetapi, harga sapi di Provinsi Aceh di atas harga rata-rata nasional.

Sebenarnya, tambah dia, kenaikan harga sapi di Aceh dapat diprediksi karena skemanya berulang dalam setahun.

“Paling tidak ada empat momentum, seperti meugang Ramadhan, Idul Fitri, Idul Adha dan qurban, sehingga simulasi kebutuhan dapat diprediksi secara pasti,” kata Dosen Teknik Pertanian Unsyiah itu.

Terkait distribusi, berdasarkan analisisnya, dia memperkirakan sekitar 3-5 % daging sapi luar dibawa masuk ke Aceh dari Sumatera Utara.

Isu lain yang cukup mengemuka dalam diskusi ketahanan pangan ini juga terkait proses penyembelihan daging hewan yang beredar di Aceh yang masih minim pemeriksaan, baik itu dalam hal penyembelihan, terutama soal kehalalannya.

Dia mengungkapkan, daging sembelihan bisa menjadi haram karena penanganan penyembelihannya tidak mengikuti adab penyembelihan hewan yang baik.

“Pada saat penyembelihan misalnya, hewan setelah disembelih tapi belum mati sudah dipotong kakinya, atau dipotong ekornya, dan dikuliti. Ini berarti bahwa kita memotong kaki hewan tersebut, memotong ekornya dan mengulitinya dalam keadaaan hidup-hidup atau masih hidup,” urainya.

Tindakan seperti itu, tambahnya, sangat menyiksa hewan tersebut, sehingga boleh jadi hewan mati bukan karena sembelihan, namun karena kesakitan dari tindakan memotong dan mengulitinya dalam keadaan masih hidup.

Sementara itu, Ketua Tim Peneliti Dr Sufirmansyah mengatakan penelitian ini adalah kajian rutin Bappeda Aceh untuk mengangkat berbagai permasalahan yang berkembang di tengah tengah masyrakat sekaligus sesuai dengan visi misi pemerintahan Irwandi-Nova pada periode ini.

Sementara Dr Arifin Ahmad Dosen Gizi Poltekkes Aceh banyak mengungkapkan soal strategi ketahanan pangan komoditas ikan, sedangkan Sayed Mahdi MA Dosen Manajemen FE Unsyiah menyoroti ketahanan pangan komoditas telur. Terakhir, Mustaqimah MSc Dosen Teknik Pertanian FP Unsyiah yang menjelaskan tentang ketahanan pangan komoditas padi/beras.

Adapun seminar penelitian tersebut dihadiri oleh Dinas Peternakan, Dinas Pertanian dan Perkebunan Aceh, Dinas Pangan Aceh, Dinas Perikanan dan Kelautan Aceh, Penasehat Khusus Gubernur Aceh (AKBP Purn. Syafril Antoni), Ketua Komisi II DPRK Aceh Selatan Hadi Surya yang juga pengusaha ayam petelur, para peneliti dari Unsyiah, UIN Ar Raniry, Poltekkes Aceh, dan Universitas Abulyatama.(red/rel)


Editor :
Makmur Emnur

Tsunami
Komentar Anda