DIALEKSIS.COM | Banda Aceh - Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) mengingatkan potensi hujan lebat hingga sangat lebat di Aceh pada awal Oktober 2026. Dalam informasi potensi cuaca ekstrem, Aceh masuk kategori siaga pada Kamis, 1 Oktober, setelah berada pada kategori waspada hujan sedang hingga lebat pada 30 September.
Potensi tersebut berlanjut dalam prakiraan mingguan BMKG. Rilis Direktorat Meteorologi Publik yang diperbarui pada 28 September 2026 tetap menempatkan Aceh dalam kategori siaga hujan lebat hingga sangat lebat untuk periode 2 - 5 Oktober. Hujan juga berpotensi disertai petir dan angin kencang.
Sementara itu, prakiraan BMKG untuk kawasan barat dan selatan Aceh pada Rabu (30/9/2026) menunjukkan kondisi berawan dengan peluang hujan pada malam hari. Masyarakat yang beraktivitas di luar rumah perlu memperhatikan perkembangan cuaca menjelang malam.
BMKG menjelaskan, pembentukan awan hujan di Aceh dan perairan sekitarnya dapat dipengaruhi aktivitas gelombang atmosfer Rossby Ekuatorial dan Kelvin. Perlambatan serta belokan angin yang diprakirakan terbentuk di sebagian Aceh juga mendukung berkumpulnya massa udara dan pertumbuhan awan hujan.
Catatan pengamatan BMKG memperlihatkan hujan lebat sudah terjadi menjelang akhir September. Pada periode 25 - 27 September 2026, curah hujan yang tercatat di Aceh mencapai 84 milimeter dalam sehari.
Untuk skala musim, Kepala Stasiun Meteorologi Kelas I Sultan Iskandar Muda sekaligus Koordinator UPT BMKG Provinsi Aceh, Cucu Kusmanyancu, menjelaskan bahwa puncak musim hujan di Aceh diprakirakan berlangsung pada waktu berbeda, mulai Oktober hingga Desember 2026.
Sebanyak 10 dari 16 Zona Musim (ZOM), atau 62,5 persen dari jumlah zona musim di Aceh, diprakirakan mencapai puncak hujan pada November. Satu zona diprediksi mencapai puncaknya pada Oktober, sedangkan lima zona lainnya pada Desember.
“Berdasarkan 16 Zona Musim (ZOM) di Provinsi Aceh, prakiraan puncak musim tersebar ke dalam tiga bulan, Oktober, November, dan Desember,” kata Cucu dalam keterangannya yang diterima, Selasa (29/9/2026).
BMKG juga memprakirakan sifat musim hujan berada pada kategori normal di sembilan zona dan atas normal di tujuh zona. Perbedaan waktu puncak serta sifat musim tersebut menunjukkan perlunya kesiapsiagaan yang disesuaikan dengan kondisi masing-masing wilayah.
Pemerintah Aceh telah membahas langkah antisipasi bersama BMKG. Dalam pertemuan di Banda Aceh, Senin (28/9/2026), Pelaksana Tugas Sekretaris Daerah Aceh Taufik menekankan pentingnya informasi cuaca dan potensi bencana sebagai dasar tindakan pemerintah daerah.
“Informasi seperti ini sangat penting, terutama bagi masyarakat,” ujar Taufik.
Menurut keterangan resmi Pemerintah Aceh, informasi kesiapsiagaan terus diteruskan kepada pemerintah kabupaten dan kota. Dalam pertemuan tersebut, BMKG turut mengapresiasi surat kesiapsiagaan untuk menghadapi potensi bencana hidrometeorologi selama tiga bulan ke depan.
Sebelumnya, Gubernur Aceh Muzakir Manaf melalui Juru Bicara Pemerintah Aceh Nurlis Effendi, pada 17 September 2026, telah meminta bupati dan wali kota meningkatkan kesiapsiagaan menghadapi potensi bencana. Imbauan itu merujuk pada prakiraan curah hujan berintensitas menengah hingga tinggi selama Oktober - Desember.
Langkah yang ditekankan meliputi pembersihan lingkungan dan saluran drainase, penyiapan tas siaga berisi dokumen penting serta perlengkapan dasar, pengamanan barang berharga, dan kesiapan evakuasi. Pemerintah daerah serta masyarakat juga diminta mengikuti perkembangan peringatan dini.
BMKG mengingatkan masyarakat untuk mewaspadai genangan, longsoran material, serta sambaran petir yang dapat menyertai hujan. Informasi cuaca perlu dipantau secara berkala melalui aplikasi InfoBMKG dan kanal resmi BMKG agar tindakan antisipasi mengikuti pembaruan kondisi di lapangan. [ra]