Minggu, 30 November 2025
Beranda / Berita / Aceh / Aceh Tamiang Lumpuh Total: 12 Kecamatan Terisolasi, Bantuan Hanya Bisa Lewat Udara

Aceh Tamiang Lumpuh Total: 12 Kecamatan Terisolasi, Bantuan Hanya Bisa Lewat Udara

Minggu, 30 November 2025 12:00 WIB

Font: Ukuran: - +

Laporan Irine Wardhanie, Produser CNN Indonesia Terkait Kondisi Terkini Kabupaten Aceh Tamiang, Tepatnya di Kecamatan Karang Baru. [Foto: Tangkapan Layar Live Streaming YouTube CNN Indonesia]


DIALEKSIS.COM | Aceh Tamiang - Kondisi di Kabupaten Aceh Tamiang, khususnya di Kecamatan Karang Baru, masih berada pada tahap darurat setelah banjir besar menutup seluruh akses darat selama lima hari terakhir. 

Kawasan ini menjadi salah satu titik yang paling sulit dijangkau, sehingga bantuan hanya dapat dikirim melalui udara menggunakan helikopter berkapasitas terbatas. Sementara itu, kondisi di 11 kecamatan lainnya belum dapat dipastikan karena akses terputus total dan tidak adanya jaringan komunikasi.

Minimnya jalur komunikasi membuat kondisi lapangan tidak sepenuhnya dapat terpantau. Rumah sakit lumpuh, sejumlah desa tidak terjangkau, dan ribuan warga bertahan hidup dengan suplai makanan seadanya sambil menunggu bantuan datang.

Upaya penyaluran bantuan saat ini dilakukan oleh BNPB, Basarnas, TNI, Polri, serta pemerintah daerah. Namun keterbatasan titik pendaratan dan medan yang tertutup longsor menyebabkan penanganan terhambat. Pemerintah merencanakan pengiriman genset dan perangkat Starlink untuk memulihkan akses komunikasi sekaligus mempercepat koordinasi bantuan.

Berikut laporan lengkap yang dihimpun media ini dari Kanal YouTube Live Streaming 24 Jam CNN Indonesia, Sabtu (29/11/2025):

Laporan Irine Wardhanie, Produser CNN Indonesia Terkait Kondisi Terkini Kabupaten Aceh Tamiang, Tepatnya di Kecamatan Karang Baru.

Saya sempat ikut menaiki helikopter bersama rombongan yang membawa sekitar 65 paket makanan dan 10 paket air mineral untuk warga di Kabupaten Aceh Tamiang, tepatnya di Kecamatan Karang Baru. Daerah ini menjadi tujuan karena selama lima hari terakhir masih terisolasi total.

Saat kami mendarat menggunakan helikopter, warga terlihat dalam kondisi sangat memprihatinkan. Mereka bertahan hidup seadanya selama lima hari dalam cuaca dingin, sementara rumah-rumah mereka tenggelam oleh banjir tinggi. Dari udara, saya melihat sejumlah rumah dua lantai hanya menyisakan bagian atap. Di sekelilingnya, atap rumah lain bahkan tidak terlihat lagi, menandakan tingginya banjir.

Bantuan yang dibawa memang terbatas, karena kemampuan angkut helikopter hanya sekitar 630 kilogram. Selain itu, kondisi sebenarnya di lapangan -- terutama di Aceh Tamiang -- belum dapat diketahui sepenuhnya akibat tidak adanya jalur komunikasi. Saat helikopter masih berada di langit Aceh Tamiang pun, tidak ada sinyal sama sekali. Warga mengaku sudah lima hari makan seadanya, mengumpulkan sisa-sisa makanan dari rumah dan warung. Mereka sangat berharap bantuan terus berdatangan, terutama obat-obatan, karena rumah sakit lumpuh total akibat terdampak banjir dan tidak dapat beroperasi.

Ketika kami tiba di Kecamatan Karang Baru, tepatnya di depan kantor bupati, Bupati Aceh Tamiang menyampaikan bahwa terdapat 12 kecamatan di wilayahnya. Namun, ia tidak dapat menjangkau sebanyak 10 kecamatan lainnya karena akses yang benar-benar terputus dan ketiadaan sinyal komunikasi. Ia mengaku bingung bagaimana menjangkau warga yang berada di daerah-daerah tersebut.

Bantuan berupa perahu fiber juga belum dapat masuk karena kondisi jalur darat yang tidak memungkinkan. Semua akses terputus akibat longsor dan pohon besar yang menghalangi jalan. Bantuan hanya dapat disalurkan melalui udara. Namun, di banyak kecamatan tidak ada area yang memungkinkan helikopter untuk mendarat. Ini menjadi tantangan besar bagi tim untuk menyalurkan bantuan kepada warga yang sudah lima hari tidak makan dan tidak menerima bantuan apa pun.

Warga berharap cuaca yang mulai membaik dapat mempercepat surutnya banjir sehingga bantuan makanan dan obat-obatan dapat masuk. Penyakit pasca-banjir mulai muncul, termasuk penyakit kulit pada anak-anak. Bahaya kelaparan juga mengancam, terutama bagi ibu menyusui dan anak-anak yang sangat membutuhkan asupan bergizi.

Bupati Aceh Tamiang juga menyampaikan bahwa TNI dan Polri belum dapat memasuki wilayah tersebut karena jalur darat lumpuh total. TNI–Polri masih berupaya membuka jalan perlahan-lahan meski terhambat longsor dan timbunan kayu. Kami pun tidak bisa menjangkau daerah tersebut melalui jalur darat.

Bantuan direncanakan terus dikirimkan mulai besok, termasuk genset dan perangkat Starlink untuk menyediakan akses komunikasi internet. Kehadiran internet dan listrik sangat diperlukan agar laporan kebutuhan warga dapat terus disampaikan. Warga sangat membutuhkan air bersih, selimut, tenda, serta bahan makanan, terutama untuk keluarga dengan anak kecil.

Pihak BNPB, TNI, dan Polri masih berusaha membuka jalur darat, namun hingga kini jalan utama dan 12 jalur alternatif yang menghubungkan Sumatera Utara dan Aceh tidak dapat dilewati. Informasi dari Yon 8 Marinir menyebutkan bahwa tidak ada jalur darat yang menghubungkan kedua wilayah tersebut -- semuanya putus total. Karena itu, satu-satunya cara menyalurkan logistik hanyalah melalui udara.

Namun, kemampuan helikopter terbatas. Tempat pendaratan sangat sedikit, dan kapasitas angkut helikopter kecil. Tim mempertimbangkan opsi terburuk: menjatuhkan bantuan langsung dari udara apabila helikopter tidak dapat mendarat. Mereka menyatakan, meski bantuan yang dijatuhkan berisiko rusak, yang terpenting warga dapat menerima makanan untuk bertahan hidup.

Segala upaya terlihat dilakukan oleh BNPB, Basarnas, TNI, Polri, dan seluruh pihak hingga ke tingkat akar rumput untuk membuka akses dan memastikan warga yang terdampak -- terutama di wilayah terisolasi -- mendapatkan logistik dasar seperti makanan dan obat-obatan. [*]

Keyword:


Editor :
Indri

riset-JSI